Anak Ketujuh
Al-Maktubat · hlm. 162
Seorang perempuan yang berperangai kekanak-kanakan dan tak tahu malu, ketika Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم sedang makan, meminta sesuap makanan, dan beliau pun memberinya. Ia berkata: "Bukan, aku menginginkan yang ada di dalam mulutmu." Beliau pun memberikannya. Perempuan yang sangat tak tahu malu itu, setelah memakan suapan itu, menjadi perempuan yang paling pemalu dan pemilik rasa malu yang melampaui perempuan-perempuan Madinah.
Maka seperti delapan contoh ini, bukan delapan puluh, bahkan mungkin ada delapan ratus contoh. Kebanyakannya telah dipaparkan dalam kitab-kitab sirah dan hadis. Ya, jika tangan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم yang penuh berkah itu bagaikan sebuah kedai obat milik Luqmân al-Hakîm, air liurnya bagaikan mata air kehidupan Nabi Khidhir, dan napasnya bagaikan napas Nabi Îsâ Alaihissalâm—memberi pertolongan dan penyembuhan—sedangkan umat manusia banyak tertimpa musibah dan bala; maka tentulah tak terhitung banyaknya orang yang datang meminta bantuan kepada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Orang-orang sakit, anak-anak, dan orang-orang gila datang dengan amat banyak, dan semuanya sembuh lalu pergi. Bahkan Abû Abdurrahmân al-Yamânî yang disebut Thâwûs—yang berhaji empat puluh kali, yang selama empat puluh tahun mengerjakan salat Subuh dengan wudu salat Isya, salah seorang imam agung kalangan Tabiin, dan yang berjumpa dengan banyak sahabat—mengabarkan dan memutuskan dengan pasti, serta berkata bahwa: Berapa pun banyaknya orang gila yang datang kepada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, jika Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم meletakkan tangannya ke dadanya, pastilah ia sembuh; tak ada yang tertinggal tanpa sembuh.
Maka jika seorang imam seperti itu, yang sempat menjumpai Masa Kebahagiaan, telah memutuskan secara pasti dan menyeluruh demikian; tentulah tak ada seorang pun orang sakit yang datang kepada beliau melainkan ia sembuh. Karena mereka sembuh, tentulah permintaan-permintaan yang datang berjumlah ribuan.