Arus Kedua
Al-Maktubat · hlm. 57
Suatu arus ala-Namrud yang lahir dari filsafat naturalisme (tabî'iyyûn) dan materialisme (maddiyyûn) akan semakin menyebar pada akhir zaman melalui perantaraan filsafat materialisme, lalu menguat, hingga sampai pada derajat mengingkari uluhiyah. Sebagaimana seorang liar yang tidak mengenal seorang raja dan tidak mengakui bahwa para perwira dan prajurit dalam bala tentara adalah tentara raja itu, lalu memberikan semacam kerajaan dan sejenis kekuasaan kepada setiap orang dan setiap prajurit; demikian pula: para individu arus yang mengingkari Allah itu, masing-masing bagaikan Namrud kecil, memberikan semacam rububiyah kepada nafsu mereka sendiri. Dan pemimpin terbesar mereka, yaitu Dajjal yang menjadi tempat kemunculan keajaiban-keajaiban dahsyat dari jenis peristiwa spiritisme dan magnetisme, akan melangkah lebih jauh: ia membayangkan pemerintahan lahiriahnya yang bengis sebagai semacam rububiyah, lalu memproklamasikan uluhiyahnya. Sudah maklum betapa bodoh dan menggelikannya tuntutan uluhiyah dari seorang manusia lemah yang dikalahkan oleh seekor lalat dan bahkan tidak sanggup menciptakan satu sayap lalat pun.
Nah, pada saat seperti itu, di masa arus tersebut tampak begitu kuat, agama Isawiyah (Kristen) yang sejati — yang tak lain adalah kepribadian maknawi Nabi Isa Alaihissalâm — akan muncul, yakni akan turun dari langit rahmat Ilahi; agama Kristen yang ada sekarang akan menyaring dirinya menghadap hakikat itu, melepaskan diri dari khurafat dan penyimpangan, lalu menyatu dengan hakikat-hakikat Islam; secara maknawi, agama Kristen akan berubah menjadi semacam Islam. Dan dengan mengikuti Al-Qur'an, pribadi maknawi Isawiyah itu akan berada pada kedudukan sebagai pengikut (tâbi'), sedangkan Islam pada kedudukan yang diikuti (matbû'); agama yang benar, sebagai hasil dari penggabungan ini, akan memperoleh kekuatan yang besar. Isawiyah dan Islam, yang ketika berdiri sendiri-sendiri terkalahkan oleh arus kekufuran, sebagai hasil dari persatuan ini justru berpotensi mengalahkan dan mencerai-beraikan arus kekufuran itu; dan pada saat itu, seorang Pembawa Kabar Yang Jujur صلى الله عليه وسلم telah mengabarkan — dengan bersandar pada janji Sang Qadîr atas segala sesuatu — bahwa sosok Nabi Isa Alaihissalâm, yang berada di alam langit dengan jasad kemanusiaannya, akan memimpin arus agama yang benar itu. Selama Beliau telah mengabarkannya, maka itu benar; selama Sang Qadîr atas segala sesuatu telah menjanjikannya, maka pasti Dia akan mewujudkannya.
Ya, Sang Hakîm Dzul-Jalâl yang setiap waktu mengutus para malaikat dari langit ke bumi dan pada sebagian waktu menempatkan mereka dalam rupa manusia (sebagaimana Malaikat Jibril menjelma dalam rupa "Dihyah"), yang mengutus para ruhani dari alam arwah lalu menjelmakan mereka dalam rupa manusia, bahkan yang mengutus arwah banyak wali yang telah wafat ke dunia dengan jasad mitsali (perumpamaan) — bagi Sang Hakîm itu, bukan hanya Nabi Isa yang kini berada dengan jasadnya di langit dunia dan dalam keadaan hidup, bahkan seandainya beliau telah pergi ke sudut alam akhirat yang terjauh dan benar-benar telah wafat sekalipun — demi suatu hasil yang agung seperti ini, mengenakan kembali jasad kepada Nabi Isa Alaihissalâm lalu mengutusnya ke dunia untuk suatu akhir yang terbaik (husnul khâtimah) yang paling penting bagi agama Isa bukanlah hal yang jauh dari hikmah Sang Hakîm itu; bahkan karena hikmah-Nya menuntut demikian, Dia telah menjanjikannya, dan karena telah menjanjikannya, pasti Dia akan mengutusnya.
Ketika Nabi Isa Alaihissalâm datang, tidaklah mesti setiap orang mengetahui bahwa ia adalah Isa yang sejati. Orang-orang dekat dan istimewa di sekitarnya akan mengenalinya dengan cahaya iman. Selain mereka, tidak setiap orang akan mengenalinya sampai ke derajat yang sangat jelas (badîhî).