Risale-i NurAl-Maktubat

Bagian Keenam (Risalah Keenam)

Al-Maktubat · hlm. 588

Ia menafsirkan rahasia agung ayat وَلاَ تَرْكَنُٓوا اِلَى الَّذ۪ينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ dengan membendung dan menolak dengan enam hakikat serangan dari enam arah — melalui enam tipu daya setan jin dan manusia serta para mulhid dan munafik yang telah masuk ke tengah kaum Muslim.

Tipu Daya Pertama mereka: menghadapi upaya mereka menipu para pelayan Al-Qur'an melalui hubbul jâh, ia membungkam dengan jawaban yang amat meyakinkan dan pasti.

Tipu Daya Kedua mereka: menghadapi upaya mereka memalingkan ahli hak dari kebenaran melalui urat ketakutan, disingkirkan dengan jawaban yang amat indah dan pasti.

Tipu Daya Ketiga mereka: menghadapi upaya mereka memalingkan ahli hidayah dari khidmat Al-Qur'an melalui ketamakan dan ambisi, ditolak dengan jawaban yang amat cemerlang dan pasti.

Tipu Daya Keempat mereka: menghadapi upaya mereka melemparkan keliaran dan perselisihan ke tengah saudara-saudara agama sejati dan kawan-kawan tulus dalam khidmat Al-Qur'an serta mendinginkan mereka dari ustaz mereka dengan cara membangkitkan fanatisme kebangsaan, adalah jawaban yang amat penting dan pasti sedemikian sehingga; sebagaimana ia membungkam setan manusia sepenuhnya, ia pun merobek topeng para nasionalis palsu, dan menunjukkan bahwa mereka itu adalah musuh bangsa serta siapa para pemuja kebangsaan sejati.

Tipu Daya Kelima mereka: menghadapi upaya mereka membangkitkan egoisme yang merupakan urat paling lemah manusia lalu menggiring ahli hak kepada ketidakadilan dan menjatuhkan ahli persatuan ke perselisihan, diberi jawaban yang kuat dan akan membungkam ego.

Tipu Daya Keenam mereka: adalah jawaban terhadap serangan mereka dalam bentuk mencederai kesungguhan, kesetiaan, dan keikhlasan para pelajar Al-Qur'an melalui pemanfaatan urat kemalasan, kecintaan pada kenyamanan, dan rasa terbebani tugas. Di akhirnya, sebagai ringkasan seluruh jawaban, Al-Qur'an al-Mu'jiz al-Bayân memberi jawaban secara mukjizat dengan dua ayat ini: يَٓا اَيُّهَا الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ❊ وَلاَ تَشْتَرُوا بِاٰيَات۪ى ثَمَنًا قَل۪يلاً

Di akhir risalah ini; adalah suatu tawâfuq halus dan elok yang datang dengan sendirinya tanpa ikhtiar, yang terlihat setelah ditulis di dua lembar: di akhir risalah ini yang ditulis tepat pada tahun kesembilan tawananku yang penuh kesempitan, terdapatnya dua puluh sembilan nuktah dalam pembahasan Surat Kedua Puluh Sembilan dan (bahwa ia) sembilan bagian; dan disebutkannya surat itu sembilan kali dengan lafaz "sembilan" dalam fihris risalah ini; dan Bagian Pertama (yang) sembilan nuktah; dan hikmah Ramadan yang diisyaratkan di sini dan disebutkan di Bagian Kedua (yang) berjumlah sembilan; dan ayat-ayat tentang kata "Al-Qur'an" yang diisyaratkan di sini dan disebutkan di Bagian Keempat (yang) berjumlah enam puluh sembilan; dan kata "Al-Qur'an" (yang) berjumlah dua puluh sembilan dalam pembahasan ini serta Lafzul Jalâl pun sembilan; dan selesainya risalah ini dalam dua puluh sembilan halaman — dari segi itu, sembilan kali angka sembilan saling bertawâfuq, dan jatuh amat manis. Ia menunjukkan bahwa risalah ini pun memiliki suatu bagian kecil namun cemerlang dari rahasia tawâfuq. Adapun munculnya rahasia sembilan kali sembilan ini pada tahun kesembilan tawananku, adalah suatu kabar gembira isyari — insya Allah — bahwa tawanan itu akan berakhir pada tahun kesembilan. Pada tahun kesembilan tawananku, karena kesempitan, sembilan gigiku tanggal pada tahun itu; dengan kaitan itu, kepergianku ke Isparta dengan izin terjadi pada tahun itu. Dan suatu tawâfuq yang halus; potongan ini pun, di halaman ini (catatan kaki: menurut naskah aslinya) datang kata "sembilan" sembilan belas kali. Dan pada Bagian Keempat fihris serta pada sebagian naskah Bagian Kedua ini, ada tawâfuq yang ditunjukkan di bawah ini.

Seluruh alif berjumlah seratus sembilan belas, dan seluruh risalah pun seratus sembilan belas. Artinya alif-alif itu pun adalah semacam isyarat kepada fihris.