Risale-i NurAl-Maktubat

Bagian Kelima (Risalah Kelima)

Al-Maktubat · hlm. 473

Salah satu cahaya dari sekian banyak cahaya rahasia ayat بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ yang penuh cahaya, kurasakan di Ramadan yang mulia dalam suatu keadaan ruhani, dan kulihat samar-samar. Yakni:

Aku melihat suatu peristiwa kalbu-khayali yang meyakinkanku bahwa — dari jenis munajat masyhur Uwais al-Qaranî: اِلٰه۪ٓى اَنْتَ رَبّ۪ى وَ اَنَا الْعَبْدُ ❊ وَ اَنْتَ الْخَالِقُ وَ اَنَا الْمَخْلُوقُ ❊ وَ اَنْتَ الرَّزَّاقُ وَ اَنَا الْمَرْزُوقُ ❊ الخ — seluruh makhluk yang bernyawa memanjatkan munajat yang sama kepada Allah, dan bahwa cahaya masing-masing dari delapan belas ribu alam adalah suatu nama Ilahi. Yakni:

Bagai kuncup mawar berdaun banyak yang terlipat satu sama lain, kulihat alam ini terlipat di dalam ribuan tabir demi tabir, dan kulihat di dalam alam ini alam-alam yang tersembunyi satu di bawah yang lain. Setiap kali sebuah tabir terbuka, kulihat alam yang lain. Adapun alam itu — sebagaimana digambarkan ayat اَوْ كَظُلُمَاتٍ ف۪ى بَحْرٍ لُجِّىٍّ يَغْشٰيهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِه۪ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِه۪ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ اِذَٓا اَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرٰيهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ yang berada di belakang Ayat Nûr — tampak bagiku dalam suatu kegelapan, suatu keliaran, suatu kepekatan yang mengerikan. Tiba-tiba manifestasi suatu nama Ilahi tampak bagai suatu cahaya agung dan meneranginya. Tabir mana pun yang terbuka menghadapi akal, sementara menghadapi khayal tampak alam lain — tetapi alam yang gelap oleh kelalaian — suatu nama Ilahi bertajalli bagai matahari, menerangi alam itu dari ujung ke ujung, dan seterusnya... Perjalanan kalbu dan pengembaraan khayali ini berlangsung lama. Antara lain:

Tatkala kulihat alam hewan, kelemahan dan ketakberdayaan mereka beserta kebutuhan yang tak terhingga dan lapar yang sengit, memperlihatkan alam itu bagiku amat gelap dan sedih. Tiba-tiba nama "Rahmân" terbit bagai matahari yang cemerlang di buruj "Razzâq" (yakni dalam maknanya); ia menyepuh alam itu dari ujung ke ujung dengan sinar rahmat.

Kemudian di dalam alam hewan itu, kulihat alam lain — tempat anak-anak dan bayi-bayi hewan menggelepar dalam kelemahan, ketakberdayaan, dan kebutuhan — dalam suatu kegelapan yang sedih dan membangkitkan belas kasih setiap orang. Tiba-tiba nama "Rahîm" terbit di buruj kasih sayang, menerangi alam itu dengan cara yang sedemikian indah dan manis sehingga; ia mengubah tetes air mata yang datang dari keluh, belas, dan duka menjadi tetes yang datang dari kegembiraan, kesukaan, dan lezatnya syukur.

Kemudian sebuah tabir lagi terbuka bagai layar bioskop, alam manusia tampak bagiku. Kulihat alam itu demikian gelap, demikian pekat dan mengerikan, sehingga karena kengerianku aku menjerit, "Aduh!" kataku. Karena kulihat bahwa: manusia — beserta hasrat dan angan mereka yang terulur hingga keabadian, gambaran dan pikiran mereka yang meliputi alam semesta, himmah dan bakat mereka yang amat sungguh-sungguh menginginkan kekekalan abadi, kebahagiaan abadi, dan Surga, serta kefakiran dan kebutuhan mereka yang tertuju pada maksud dan tuntutan yang tak terhingga, beserta kelemahan dan ketakberdayaan mereka, beserta musibah dan musuh tak terhingga yang menyerbu mereka — di dalam umur yang amat pendek, hidup yang amat penuh gejolak, penghidupan yang amat kacau, di dalam bala kesirnaan dan perpisahan terus-menerus yang merupakan keadaan paling pedih dan paling dahsyat bagi kalbu, mereka memandang kubur dan pekuburan yang bagi ahli kelalaian tampak dalam rupa pintu kegelapan abadi, dan satu per satu, kelompok demi kelompok, mereka dilemparkan ke sumur kegelapan itu. Maka pada saat kulihat alam ini di dalam kegelapan ini, tatkala kalbu, ruh, dan akalku beserta seluruh lataif manusiawiku, bahkan seluruh zarah wujudku bersiap menangis dengan jeritan; tiba-tiba nama "Adil" Allah terbit di buruj "Hakîm", nama "Rahmân" di buruj "Karîm", nama "Rahîm" di buruj "Ghafûr" (yakni dalam maknanya), nama "Bâ'its" di buruj "Wârits", nama "Muhyî" di buruj "Muhsin", nama "Rabb" di buruj "Mâlik". Mereka menerangi banyak alam di dalam alam manusia itu, dan dengan membuka jendela-jendela dari alam akhirat yang bercahaya, mereka menaburkan cahaya ke dunia manusia yang gelap itu.

Kemudian sebuah tabir yang mahabesar terbuka lagi, alam Bumi tampak. Hukum-hukum ilmiah filsafat yang gelap memperlihatkan kepada khayal suatu alam yang mengerikan. Keadaan jenis manusia yang malang — yang mengembara di angkasa alam yang tak terhingga, di dalam Bola Bumi yang tua renta, berguncang isinya, siap setiap saat untuk berserak dan berkeping, yang dengan gerak lebih cepat tujuh puluh kali dari peluru meriam mengelilingi jarak dua puluh lima ribu tahun dalam setahun — tampak bagiku dalam suatu kegelapan yang liar. Kepalaku pusing, mataku gelap. Tiba-tiba nama-nama Pencipta Bumi dan Langit: "Qadîr", "'Alîm", "Rabb", "Allah", serta "Rabbus Samâwâti wal-Ardh" dan "Musakhkhirusy Syamsi wal-Qamar"; terbit di buruj rahmat, keagungan, dan rububiyah. Mereka menerangi alam itu sedemikian rupa sehingga; dalam keadaan itu kulihat Bola Bumi bagai sebuah kapal pesiar yang amat teratur, tertundukkan, sempurna, menyenangkan, dan aman — yang disiapkan untuk bertamasya, bersuka, dan berniaga.

Kesimpulannya: dari seribu satu nama Ilahi, setiap nama yang tertuju kepada alam semesta itu berkedudukan bagai suatu matahari yang menerangi suatu alam dan alam-alam di dalam alam itu, dan dari segi rahasia ahadiyah, di dalam manifestasi setiap nama tampak pula manifestasi nama-nama lain sampai derajat tertentu.

Kemudian kalbu, karena melihat cahaya tersendiri di balik setiap kegelapan, terbuka seleranya untuk mengembara. Ia ingin menaiki khayal dan naik ke langit. Ketika itu, sebuah tabir yang amat luas terbuka lagi. Kalbu masuk ke alam langit dan melihat bahwa: bintang-bintang yang tampak dalam rupa tersenyum bercahaya itu, dalam keadaan lebih besar dari Bola Bumi dan lebih cepat darinya, beredar dan berputar satu di dalam yang lain. Jika sesaat saja salah satunya salah jalan, ia akan bertabrakan dengan yang lain, akan meletus sedemikian rupa sehingga nyali alam semesta pecah dan alam berserak. Mereka memancarkan api, bukan cahaya; mereka memandangku dengan keliaran, bukan dengan senyum. Kulihat langit di dalam kegelapan yang tak terhingga besar, luas hampa, kosong, dahsyat, dan mengherankan. Aku menyesal seribu kali atas kedatanganku. Tiba-tiba asma'ul husna رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ ❊ رَبُّ الْمَلٰٓئِكَةِ وَ الرُّوحِ, muncul dengan manifestasinya di buruj وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَاب۪يحَ ❊ وَ سَخَّرَ الشَّمْسَ وَ الْقَمَرَ. Dari segi makna itu, bintang-bintang yang diliputi kegelapan itu, masing-masing mengambil satu kilau dari cahaya-cahaya agung itu, dan bagai lampu-lampu listrik yang dinyalakan sebanyak bilangan bintang, alam langit itu pun bercahaya. Langit yang disangka kosong dan hampa itu pun penuh dengan malaikat dan makhluk ruhani, menjadi semarak. Kulihat matahari-matahari dan bintang-bintang yang bergerak bagai satu pasukan dari pasukan-pasukan tak terhingga milik Sang Sultan Azali dan Abadi, seolah melakukan suatu manuver luhur, seakan memperlihatkan keagungan dan kemegahan rububiyah Sang Sultan Dzul-Jalâl itu. Dengan segenap kekuatanku, dan andai mungkin dengan segenap zarahku, dan andai seluruh makhluk mendengarku dengan lisan mereka, akan kukatakan — dan atas nama mereka semua kukatakan:

Kubaca ayat اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ مَثَلُ نُورِه۪ كَمِشْكَاةٍ ف۪يهَا مِصْبَاحٌ اَلْمِصْبَاحُ ف۪ى زُجَاجَةٍ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لاَ شَرْقِيَّةٍ وَلاَ غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُض۪ٓئُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلٰى نُورٍ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُورِه۪ مَنْ يَشَٓاءُ; aku berbalik, turun, dan tersadar; kukatakan "Alhamdulillâhi 'alâ nûril îmâni wal-Qur'ân (segala puji bagi Allah atas cahaya iman dan Al-Qur'an)."