Risale-i NurAl-Maktubat

Contoh Kedelapan

Al-Maktubat · hlm. 153

Inilah kisah masyhur tentang Pendeta Buhairâ yang termasyhur: Sebelum masa kenabian, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم pergi berniaga ke arah negeri Syam bersama pamannya, Abû Thalib, dan sekelompok orang Quraisy. Tatkala mereka tiba di dekat gereja Pendeta Buhairâ, mereka pun beristirahat. Buhairâ, seorang pendeta yang menyendiri dan tidak bergaul dengan orang banyak, tiba-tiba keluar menghampiri. Ia melihat Muhammad al-Amîn صلى الله عليه وسلم di tengah rombongan itu. Ia berkata kepada rombongan: "Orang ini adalah penghulu sekalian alam (Sayyid al-'Âlamîn) صلى الله عليه وسلم, dan kelak akan menjadi seorang nabi." Orang-orang Quraisy bertanya: "Bagaimana engkau mengetahuinya?" Sang pendeta yang terberkati itu menjawab: "Ketika kalian datang, aku memandang bahwa di udara, di atas kalian, ada sepotong awan. Sewaktu kalian beristirahat, awan itu condong ke arah Muhammad al-Amîn صلى الله عليه وسلم ini dan menaunginya. Dan aku pun melihat: batu dan pohon dalam keadaan seakan-akan bersujud kepadanya. Padahal yang demikian itu hanya dilakukan terhadap para nabi."

Demikianlah, seperti kedelapan contoh ini, bahkan ada delapan puluh contoh. Apabila kedelapan contoh ini disatukan; jadilah ia rantai yang demikian kuat sehingga tiada satu keraguan pun dapat memutuskan atau menggoyahkannya. Jenis mukjizat ini, dari segi keseluruhannya — yakni berbicaranya benda-benda mati sebagai bukti bagi dakwah kenabian — memberikan keyakinan dan kepastian dalam hukum mutawâtir maknawî. Setiap contoh memperoleh dari kekuatan keseluruhannya suatu kekuatan tambahan yang melebihi kekuatannya sendiri. Ya, sebatang tiang yang lemah, tatkala berdiri bahu-membahu dengan tiang-tiang yang kuat, menjadi kukuh. Seorang yang lemah lagi tak berdaya, apabila menjadi tentara dan masuk ke dalam barisan pasukan; akan menjadi sedemikian kuat hingga berani menantang seribu orang.