Contoh Keempat
Al-Maktubat · hlm. 159
Ibnu Wahb, seorang imam besar, mengabarkan bahwa: Mu'awwidz Ibn 'Afrâ'—salah seorang dari empat belas syuhada Perang Badar—ketika bertarung melawan Abû Jahal, Abû Jahal yang terlaknat itu memotong salah satu tangan sang pahlawan itu. Ia pun memegang tangannya dengan tangannya yang lain, lalu datang menghadap Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم menempelkan kembali tangan itu ke tempatnya, mengoleskan air liurnya padanya; dan seketika sembuh. Ia kembali ke medan perang, dan bertempur hingga gugur sebagai syahid. Dan Imam yang mulia, Ibnu Wahb, mengabarkan pula bahwa: Dalam perang itu, bahu Hubaib Ibn Yasâf terkena tebasan pedang hingga terbuka luka yang dahsyat seakan terbelah menjadi dua. Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم menempelkan lengannya kembali ke bahunya dengan tangan beliau, lalu meniupnya dengan napas; dan sembuhlah ia. Maka kedua peristiwa ini, memang bersifat âhâd dan merupakan khabar wâhid; tetapi jika seorang imam seperti Ibnu Wahb menyahihkannya, dan terjadi dalam perang seperti Perang Badar yang merupakan sumber mukjizat-mukjizat, serta terdapat banyak contoh yang menyerupai kedua peristiwa ini; maka sudah tentu dapat dikatakan bahwa kedua peristiwa ini pasti dan benar-benar terjadi.
Maka terdapat mungkin seribu contoh yang tetap terbukti dengan hadis-hadis sahih, bahwa tangan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم yang penuh berkah menjadi penyembuh baginya.
Bagian ini layak ditulis dengan emas dan intan.
Ya, sebagaimana telah dibahas terdahulu: berzikir dan bertasbihnya batu-batu kecil di dalam genggaman beliau; dengan rahasia وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ, di dalam genggaman yang sama, bagaimana batu dan tanah yang mungil berkedudukan laksana meriam dan peluru terhadap musuh serta menggiring mereka kepada kekalahan; dengan nash وَ انْشَقَّ الْقَمَرُ, terbelahnya Bulan menjadi dua bagian dengan jari dari genggaman yang sama; dan tangan yang sama, mengalirnya air dari sepuluh jarinya bagai mata air dan memberi minum kepada satu pasukan; dan tangan yang sama, menjadi penyembuh bagi orang-orang sakit dan yang terluka—sungguh semua itu menunjukkan betapa tangan yang penuh berkah itu merupakan sebuah mukjizat kudrat Ilahi yang menakjubkan. Seakan-akan, di tengah para kekasih, telapak tangan itu adalah sebuah rumah zikir Subhani yang mungil, yang bila batu-batu kecil pun masuk ke dalamnya, mereka berzikir dan bertasbih. Dan terhadap musuh, ia adalah sebuah gudang senjata Rabbani yang mungil, yang bila batu dan tanah masuk ke dalamnya, menjadi peluru dan bom. Dan terhadap orang-orang yang terluka dan sakit, ia adalah sebuah kedai obat Rahmani yang mungil, yang penyakit apa pun yang disentuhnya, menjadi obat. Dan tatkala ia terangkat dengan keagungan, ia membelah Bulan dan memberinya bentuk Qâba Qausain; dan tatkala ia kembali dengan keindahan, ia menjadi bagai sebuah mata air rahmat dengan sepuluh pancuran yang mengalirkan air kautsar. Gerangan, jika satu tangan saja dari seorang yang demikian menjadi tempat kemunculan dan sumber mukjizat-mukjizat menakjubkan seperti itu; tidakkah dapat dipahami sejelas-jelasnya betapa diterimanya orang itu di sisi Khâliq alam semesta, betapa benarnya ia dalam dakwahnya, dan betapa berbahagianya orang-orang yang berbaiat dengan tangan itu?..