Risale-i NurAl-Maktubat

Contoh Kelima

Al-Maktubat · hlm. 152

Terkemuka di antaranya, kitab-kitab sahih seperti Bukhârî, Ibnu Hibbân, Abû Dâwud, dan Tirmidzî secara sepakat mengabarkan dari Hazrat Anas, dari Abû Hurairah, dari Utsmân Dzun-Nûrain, dan dari Sa'îd ibn Zaid — salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijanjikan surga (Asyarah Mubasyarah) — bahwa: Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم naik ke puncak Gunung Uhud bersama Abû Bakar ash-Shiddîq, Umar al-Fârûq, dan Utsmân Dzun-Nûrain. Gunung Uhud pun bergetar dan berguncang, entah karena kewibawaan mereka atau karena kegembiraan dan sukacitanya sendiri. Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda: اُثْبُتْ يَا اُحُدُ فَاِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِىٌّ وَ صِدّ۪يقٌ وَ شَه۪يدَانِ

Hadis ini merupakan kabar gaib bahwa Hazrat Umar dan Utsmân kelak akan gugur sebagai syahid. Sebagai pelengkap contoh ini telah dinukilkan bahwa: Tatkala Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم berhijrah dari Mekah dan kaum kafir keluar untuk mengejar beliau, beliau mendaki sebuah gunung bernama Tsabîr. Tsabîr berkata: "Wahai Rasulullah صلى الله عليه وسلم, turunlah engkau dariku! Aku khawatir, jika mereka membunuhmu di atasku, Allah akan mengazabku. Karena itu aku takut." Maka Gunung Hirâ memanggil: يَا رَسُولَ اللّٰهِ اِلَىَّ "Datanglah kepadaku." Karena rahasia inilah maka ahli kalbu merasakan ketakutan di Tsabîr dan merasakan keamanan di Hirâ. Dari contoh ini dapat dipahami bahwa: gunung-gunung yang besar itu masing-masing adalah seorang hamba yang tersendiri, yang bertasbih, lagi mengemban tugas. Mereka mengenali dan mencintai Nabi صلى الله عليه وسلم; mereka tidaklah terlantar tanpa kendali.