Contoh Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 164
Beliau berdoa untuk sebagian sahabat pilihan, masing-masing untuk maksud yang berbeda-beda. Doanya dikabulkan dengan cara yang sedemikian cemerlang, sehingga karamah doa itu naik ke derajat mukjizat. Antara lain, terutama Bukhârî dan Muslim mengabarkan bahwa: Beliau berdoa untuk Ibnu Abbas demikian: اَللّٰهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدّ۪ينِ وَعَلِّمْهُ التَّاْو۪يلَ Doanya sedemikian dikabulkan, sehingga Ibnu Abbas memperoleh gelar mulia "Turjumân al-Qur'ân", yakni Penerjemah Al-Qur'an, dan pangkat tinggi "Habr al-Ummah", yakni allâmah umat. Bahkan ketika masih sangat muda, Umar memasukkannya ke dalam majelis para ulama dan sahabat senior.
Dan lagi, terutama Imam Bukhari, para ahli kitab-kitab hadis sahih mengabarkan bahwa: ibunda Anas memohon kepada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, katanya: "Berdoalah dengan keberkahan bagi anak-anak dan harta Anas, pelayanmu ini." Maka beliau pun berdoa, mengucapkan: اَللّٰهُمَّ اَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ ف۪ى مَا اَعْطَيْتَهُ. Di penghujung usianya, Hazret Anas mengumumkan dengan bersumpah: "Dengan tanganku sendiri telah kukuburkan seratus orang anakku. Dan dari segi harta serta kekayaanku pun, tiada seorang jua yang hidup sebahagia diriku. Kalian melihat bahwa hartaku sungguh amat banyak. Semua ini adalah dari keberkahan doa Nabi صلى الله عليه وسلم."
Dan lagi, terutama Imam Baihaqi, para ahli hadis mengabarkan bahwa: untuk Abdurrahman bin Auf, salah seorang dari Asyarah Mubasyarah (sepuluh sahabat yang dikabari gembira dengan surga), Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم berdoa dengan limpahan harta dan keberkahan. Dengan keberkahan doa itu, ia memperoleh kekayaan yang sedemikian besar, sehingga pada suatu kali ia menyedekahkan tujuh ratus ekor unta beserta seluruh muatannya "fî sabîlillâh" (di jalan Allah). Maka pandanglah keberkahan doa Nabi صلى الله عليه وسلم, dan ucapkanlah: "Bârakallâh" (semoga Allah memberkahi).
Dan lagi, para perawi — dengan Imam Bukhari sebagai yang terdepan — meriwayatkan bahwa: Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم berdoa dengan keberkahan bagi Urwah bin Abi Ja'd agar memperoleh laba dan keuntungan dalam perniagaan. Urwah berkata: "Aku kerap berdiri di pasar Kufah; dalam sehari aku memperoleh empat puluh ribu, kemudian aku pulang ke rumahku." Imam Bukhari berkata: "Sekiranya ia menggenggam tanah sekalipun di tangannya, niscaya ia mendapati suatu keuntungan padanya."
Dan lagi, untuk Abdullah bin Ja'far, beliau berdoa agar memperoleh harta yang banyak dan keberkahan. Hazret Abdullah bin Ja'far memperoleh kekayaan yang sedemikian besar, sehingga ia termasyhur pada masa itu. Sebagaimana kekayaan yang dihasilkan dengan keberkahan doa Nabi صلى الله عليه وسلم itu, ia pun termasyhur dengan kedermawanannya. Dari jenis ini banyak sekali contohnya. Sebagai teladan, kami mencukupkan diri dengan empat contoh ini.
Dan lagi, terutama Imam Tirmidzi mengabarkan bahwa: untuk Sa'd bin Abi Waqqash, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم berdoa, mengucapkan: اَللّٰهُمَّ اَجِبْ دَعْوَتَهُ. Beliau berdoa agar doa Sa'd dikabulkan. Pada masa itu, setiap orang takut akan doa keburukan Sa'd. Terkabulnya doanya pun menjadi masyhur.
Dan lagi, kepada Abu Qatadah yang masyhur, beliau bersabda: اَفْلَحَ اللّٰهُ وَجْهَكَ اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِى شَعْرِه۪ وَ بَشَرِه۪ — beliau mendoakan agar ia tetap muda. Bahwa Abu Qatadah, tatkala wafat pada usia tujuh puluh tahun, tampak bagaikan seorang pemuda berusia lima belas tahun, telah termasyhur melalui riwayat yang sahih.
Dan lagi, yaitu kisah masyhur tentang penyair terkenal, Nabighah, bahwa ia membacakan salah satu syairnya di hadapan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Bait berikut: بَلَغْنَا السَّمَٓاءَ مَجْدُنَا وَسَنَٓائُنَا ❊ وَ اِنَّا نُر۪يدُ فَوْقَ ذٰلِكَ مَظْهَرًا Yakni: "Kemuliaan kami telah naik ke langit, dan kami hendak naik lebih tinggi lagi di atasnya!" Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda dalam bentuk gurauan: اِلٰى اَيْنَ يَٓا اَبَا لَيْلاَ؟ Ia (Nabighah) berkata: اِلَى الْجَنَّةِ يَا رَسُولَ اللّٰهِ Yakni: Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم berkata sebagai kelakar: "Ke arah manakah selain langit yang engkau tuju, sehingga dalam syairmu engkau memaksudkan tempat itu?" Nabighah menjawab: "Kami hendak menuju surga yang berada di atas segala langit." Kemudian ia membacakan lagi sebuah syairnya yang sarat makna. Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم pun berdoa: لاَ يَفْضُضِ اللّٰهُ فَاكَ Yakni, "Semoga mulutmu tiada rusak (giginya)." Maka dengan keberkahan doa Nabi صلى الله عليه وسلم itu, hingga usia seratus dua puluh tahun tiada satu gigi pun dari Nabighah itu yang berkurang. Bahkan setiap kali sebuah giginya tanggal, di tempatnya tumbuh gigi yang baru.
Dan lagi, dengan riwayat yang sahih, beliau berdoa untuk Imam Ali: اَللّٰهُمَّ اكْفِهِ الْحَرَّ وَالْقَرَّ Yakni: "Wahai Rabb! Janganlah Engkau perlihatkan kepadanya derita dingin dan panas." Maka dengan keberkahan doa ini, Imam Ali di musim dingin mengenakan pakaian musim panas, dan di musim panas mengenakan pakaian musim dingin. Ia berkata: "Berkat keberkahan doa itu, tiadalah aku merasakan derita dingin ataupun panas sedikit pun."
Dan lagi, untuk Hazret Fatimah beliau berdoa: اَللّٰهُمَّ لاَ تُجِعْهَا Yakni: "Janganlah Engkau berikan kepadanya derita lapar." Hazret Fatimah berkata: "Setelah doa itu, tiada lagi kurasakan derita lapar."
Dan lagi, Thufail bin Amr meminta sebuah mukjizat dari Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم untuk ia bawa dan tunjukkan kepada kaumnya. Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم pun mengucapkan: اَللّٰهُمَّ نَوِّرْ لَهُ. Maka muncullah suatu cahaya (nur) di antara kedua matanya. Kemudian cahaya itu berpindah ke ujung tongkatnya. Dengan sebab itu ia termasyhur dengan sebutan "Dzun-Nur" (pemilik cahaya). Peristiwa-peristiwa ini termasuk hadis-hadis masyhur, yang telah memperoleh derajat kepastian.
Dan lagi, Abu Hurairah mengadu kepada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, katanya: "Sifat lupa kerap menimpaku." Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم pun bersabda, lalu membentangkan sesuatu yang berupa sehelai sapu tangan. Kemudian dengan telapak tangannya nan diberkati, seolah-olah mengambil sesuatu dari alam gaib, beliau menuangkannya ke tempat itu. Setelah melakukannya dua-tiga kali, beliau berkata kepada Abu Hurairah: "Kini, kumpulkanlah (lipatlah) sapu tangan itu." Abu Hurairah pun mengumpulkannya. Dengan rahasia maknawi doa Nabi صلى الله عليه وسلم ini, Abu Hurairah bersumpah: "Setelah itu, tiada satu pun yang kulupakan." Peristiwa-peristiwa ini termasuk hadis-hadis masyhur.