Risale-i NurAl-Maktubat

Dasar Pertama

Al-Maktubat · hlm. 101

Kendati setiap keadaan dan setiap tingkah laku Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم dapat menjadi saksi bagi kebenaran dan nubuwwahnya; namun tidaklah setiap keadaan dan tingkah lakunya harus bersifat luar biasa. Sebab, Allah Yang Mahabenar mengutusnya dalam rupa manusia, agar beliau menjadi pembimbing dan imam dalam keadaan-keadaan sosial manusia serta dalam amal dan gerak yang akan mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat mereka; dan agar beliau menunjukkan seni Rabbani yang luar biasa serta tasarruf kudrat Ilahiah yang terdapat di dalam hal-hal biasa (âdiyât) — yang masing-masingnya adalah satu mukjizat kudrat Ilahiah. Seandainya dalam perbuatannya beliau keluar dari sifat kemanusiaan dan menjadi luar biasa, niscaya beliau tidak dapat menjadi imam secara langsung; beliau tidak dapat memberi pelajaran dengan perbuatannya, keadaannya, dan tingkah lakunya. Akan tetapi, hanya untuk membuktikan nubuwwahnya kepada orang-orang yang keras kepala, beliau menjadi tempat kemunculan perkara-perkara luar biasa, dan sesekali menunjukkan mukjizat ketika diperlukan (indel-hâjah). Akan tetapi, sesuai dengan tuntutan ujian dan cobaan yang merupakan rahasia taklif, sudah tentu mukjizat itu tidaklah sampai pada derajat yang begitu nyata (badîhî) dan yang mau tak mau memaksa orang untuk membenarkan. Sebab, rahasia ujian dan hikmah taklif menuntut agar pintu dibukakan bagi akal, dan agar kehendak bebas (ikhtiar) akal tidak dirampas dari tangannya. Seandainya ia terjadi dalam bentuk yang sangat nyata, maka ketika itu tiada lagi ikhtiar bagi akal. Abu Jahal pun akan membenarkan sebagaimana Abu Bakar. Faedah ujian dan taklif pun tiada lagi. Batu bara dan intan akan tinggal pada tingkat yang sama.

Sungguh mengherankan bahwa: padahal — tanpa dilebih-lebihkan — ribuan jenis manusia dalam ribuan segi telah beriman, masing-masing dengan satu mukjizat, atau dengan satu dalil nubuwwah, atau dengan satu perkataan beliau, atau dengan melihat wajahnya, dan demikian seterusnya, masing-masing dengan satu tanda; namun seluruh ribuan dalil nubuwwah yang telah membawa beribu-ribu manusia yang berbeda-beda serta para pemikir yang cermat itu kepada iman — yang sampai melalui nukilan yang sahih dan peninggalan (âsâr) yang pasti — seakan-akan tidak mencukupi bagi sebagian manusia yang celaka di masa kini, sehingga mereka pun tergelincir ke dalam kesesatan.