Risale-i NurAl-Maktubat

Isyarat Ketujuh Belas

Al-Maktubat · hlm. 207

Mukjizat Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم yang terbesar setelah Al-Qur'an adalah dzatnya sendiri. Yakni akhlak-akhlak luhur yang berhimpun pada dirinya; bahwa dalam tiap-tiap sifat ia berada pada tingkat yang tertinggi, kawan dan lawan telah bersepakat atasnya. Bahkan sang pahlawan keberanian, Hadhrat Ali, berulang kali berkata: "Tatkala peperangan menjadi dahsyat, kami berlindung dan berbenteng di belakang Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم." Dan demikian seterusnya... Ia memiliki derajat tertinggi yang tiada terjangkau dalam segenap akhlak yang terpuji. Mukjizat terbesar ini kami serahkan kepada kitab Syifâ' asy-Syarîf karya Allâmah Maghrib, Qâdhi Iyâdh. Sungguh benar, Zat itu telah menerangkan dan membuktikan mukjizat akhlak yang terpuji itu dengan amat indah.

Dan lagi, sebuah mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم yang teramat besar lagi dibenarkan oleh kawan dan lawan adalah syariatnya yang agung, yang tiada bandingannya pernah datang dan tiada pula akan datang. Sebagian penjelasan mukjizat teragung ini kami serahkan kepada segenap tiga puluh tiga Kelimat, tiga puluh tiga Surat, tiga puluh satu Lem'a, dan tiga belas Sinar (Şua) yang telah kami tulis.

Dan lagi, sebuah mukjizat besar Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم yang mutawatir lagi pasti adalah terbelahnya bulan. Ya, terbelahnya bulan ini; di samping dikabarkan secara mutawatir melalui banyak jalur dari amat banyak sahabat agung — seperti Ibnu Mas'ûd, Ibnu Abbâs, Ibnu Umar, Imam Ali, Anas, dan Hudzaifah — melalui berbagai jalur, dengan nash Al-Qur'an, ayat اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَ انْشَقَّ الْقَمَرُ telah mengumumkan mukjizat besar itu kepada seluruh alam. Kaum musyrik Quraisy yang keras kepala pada masa itu tiada membalas kabar yang diberikan ayat ini dengan pengingkaran, melainkan hanya berkata: "Ini sihir." Berarti terbelahnya bulan itu pasti pula menurut orang-orang kafir. Mukjizat besar ini kami serahkan kepada Risalah Terbelahnya Bulan (Şakk-ı Kamer) yang menjadi lampiran bagi Kelimat Ketiga Puluh Satu yang telah kami tulis mengenai terbelahnya bulan.

Dan lagi, sebagaimana Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم memperlihatkan mukjizat terbelahnya bulan kepada penghuni bumi; demikian pula ia memperlihatkan mukjizat terbesar Mi'raj kepada penghuni langit. Maka, mukjizat teragung yang dinamakan Mi'raj ini kami serahkan kepada Risalah Mi'raj yang merupakan Kelimat Ketiga Puluh Satu. Sebab risalah itu telah membuktikan, dengan dalil-dalil yang pasti, betapa bercahaya, tinggi, dan benarnya mukjizat besar itu, bahkan di hadapan kaum mulhid sekalipun. Hanya saja, kami akan membahas satu mukjizat yang timbul dari perjalanan ke Baitul Maqdis — yang menjadi pendahuluan bagi mukjizat Mi'raj — dan dari permintaan kaum Quraisy pada pagi harinya agar ia menerangkan gambaran Baitul Maqdis kepada mereka. Yakni demikian:

Pada pagi hari malam Mi'raj, ia mengabarkan Mi'rajnya kepada kaum Quraisy. Kaum Quraisy mendustakannya. Mereka berkata: "Jika engkau benar telah pergi ke Baitul Maqdis, maka terangkanlah kepada kami pintu-pintunya, dinding-dindingnya, dan keadaannya!" Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda: فَكَرَبْتُ كَرْبًا لَمْ اَكْرُبْ مِثْلَهُ قَطُّ فَجَلَّى اللّٰهُ ل۪ى بَيْتَ الْمَقْدِسِ وَكَشَفَ الْحُجُبَ بَيْن۪ى وَبَيْنَهُ حَتّٰى رَاَيْتُهُ فَنَعَتُّهُ وَ اَنَا اَنْظُرُ اِلَيْهِ Yakni: "Aku amat gundah karena pendustaan dan pertanyaan-pertanyaan mereka. Bahkan belum pernah aku menanggung kegundahan yang sedemikian. Tiba-tiba Allah Ta'ala memperlihatkan Baitul Maqdis kepadaku; maka aku pun memandang Baitul Maqdis, dan aku menerangkan segala sesuatu satu demi satu." Maka pada saat itu kaum Quraisy menyaksikan bahwa ia mengabarkan tentang Baitul Maqdis dengan benar lagi tepat.

Dan lagi, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم berkata kepada kaum Quraisy: "Tatkala dalam perjalanan, aku melihat salah satu kafilah kalian; kafilah kalian akan tiba esok pada waktu anu." Kemudian pada waktu itu, mereka pun menanti-nanti kafilah tersebut. Kafilah itu terlambat satu jam. Agar kabar Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم terbukti benar, dengan pembenaran para ahli tahkik, matahari berhenti selama satu jam. Yakni bumi, demi membuktikan benar perkataannya, menghentikan tugasnya — perjalanannya — selama satu jam, dan penghentian itu ia perlihatkan melalui diamnya matahari.

Demikianlah, demi pembenaran atas satu perkataan saja dari Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم, bumi yang besar meninggalkan tugasnya, dan matahari yang besar menjadi saksi. Pahamilah betapa celaka orang yang tiada membenarkan Zat yang sedemikian dan tiada menuruti perintahnya, dan betapa berbahagia orang-orang yang membenarkannya lalu berkata سَمِعْنَا وَ اَطَعْنَا atas perintahnya; maka ucapkanlah "Elhamdülillahi ale-l iman ve-l İslâm".