Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 43

Hâsyâ! Kerajaan itu milik-Nya; Ia berbuat di dalam kerajaan-Nya menurut kehendak-Nya. Lagi pula, cobalah renungkan: seorang ahli seni, dengan imbalan suatu upah, menjadikanmu sebagai model, lalu mengenakan padamu suatu busana bertatah permata yang ia buat dengan sangat indah penuh seni; untuk menampakkan kepandaian dan kemahirannya, ia memendekkannya, memanjangkannya, memola, dan menggunting.. ia mendudukkanmu dan membangkitkanmu. Dapatkah engkau berkata kepadanya, "Engkau telah memperburuk pakaian yang memperindahku; engkau telah menyusahkanku dengan mendudukkan dan membangkitkanku"? Tentulah engkau tidak dapat mengatakannya. Jika engkau mengatakannya, engkau berbuat kegilaan. Persis seperti itu pula: Sang Pembuat Dzul-Jalâl telah mengenakan padamu suatu tubuh yang bertatahkan indera-indera seperti mata, telinga, dan lidah, yang dibuat dengan sangat penuh seni. Guna menampakkan ukiran-ukiran asma-Nya yang beraneka ragam, Ia menjadikanmu sakit, menimpakan cobaan kepadamu, menjadikanmu lapar, kenyang, dan dahaga.. Ia memutar-balikkanmu dalam keadaan-keadaan semacam ini. Untuk menguatkan hakikat kehidupan dan menampakkan tajalli asma-Nya, Ia mengembarakanmu dalam sekian banyak keadaan seperti ini. Jika engkau berkata, "Untuk apa Engkau menimpakan aku dengan berbagai musibah ini?" — maka, sebagaimana telah diisyaratkan dalam perumpamaan tadi, seratus hikmah akan membungkammu. Sebab, kediaman dan keheningan, kelambanan, kemonotonan, serta keterhentian adalah semacam ketiadaan ('adam) dan kerugian; sedangkan gerak dan perubahan adalah wujud dan kebaikan. Kehidupan menemukan kesempurnaannya melalui gerak, dan meningkat melalui berbagai cobaan. Melalui tajalli asma, kehidupan memperoleh berbagai gerak yang beragam, ia menjadi jernih, memperoleh kekuatan, tersingkap, terbentang, menjadi sebilah pena yang bergerak untuk menuliskan takdirnya sendiri, menunaikan tugasnya, dan meraih kelayakan atas upah ukhrawi.

Demikianlah, sekian inilah jawaban-jawaban ringkas atas tiga pertanyaan kalian yang ada di dalam perdebatan kalian itu. Penjelasan-penjelasannya terdapat di dalam tiga puluh tiga buah "Kelimat".

Saudaraku yang mulia, bacakanlah surat ini kepada apoteker dan kepada orang-orang yang engkau pandang layak di antara mereka yang mendengar perdebatan itu. Sampaikan pula salam dariku kepada apoteker, murid baruku itu, dan katakanlah kepadanya:

"Membahas masalah-masalah keimanan yang pelik seperti masalah-masalah tersebut di tengah jamaah dalam bentuk perbantahan tanpa timbangan tidaklah dibolehkan. Karena ia merupakan perbantahan tanpa timbangan, maka yang semula penawar racun justru menjadi racun; ia merugikan bagi yang mengatakannya maupun yang mendengarkannya. Bahkan, membahas masalah-masalah keimanan semacam ini dengan hati yang tenang, dengan sikap adil (insaf), dalam bentuk pertukaran pikiran — itulah yang dibolehkan." Dan katakanlah pula: "Jika ke dalam hatimu datang keraguan-keraguan pada masalah-masalah semacam ini, sedangkan engkau tidak menemukan jawabannya di dalam Kelimat, maka hendaklah engkau menuliskannya secara khusus kepadaku..." Katakan pula kepada apoteker: mengenai mimpi yang ia lihat tentang mendiang ayahnya, terlintaslah dalam benakku suatu makna sebagai berikut, bahwa mendiang ayahnya — karena berprofesi sebagai dokter — telah memberikan manfaat kepada banyak orang yang saleh dan diberkati, bahkan mungkin kepada orang-orang yang berderajat wali; maka ruh-ruh orang-orang yang diberkati itu, yang ridha kepadanya dan memperoleh manfaat darinya, pada saat wafatnya menampakkan diri dalam rupa burung-burung kepada putranya, kerabatnya yang paling dekat; terlintas dalam benakku bahwa mereka menyambut ruhnya dengan semacam sambutan selamat datang yang penuh syafaat. Aku sampaikan salam dan doa kepada seluruh sahabat yang malam itu berada bersama-sama di sini. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى

Said Nursî