Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 45

Aku memanjatkan seratus ribu syukur kepada Cenâb-ı Arhamurrâhimîn — Yang Maha Penyayang di antara para penyayang — yang telah mengubah beragam kezaliman yang ditimpakan ahli dunia kepadaku menjadi beragam rahmat. Yaitu sebagai berikut:

Ketika aku meninggalkan politik dan mengasingkan diri dari dunia seraya merenungkan akhirat di dalam sebuah gua di gunung, ahli dunia secara zalim mengeluarkanku dari sana dan membuangku ke pengasingan. Sang Khâliq Yang Rahîm lagi Hakîm mengubah pembuangan itu menjadi rahmat bagiku. Uzlah di gunung itu — yang tidak aman dan terpapar sebab-sebab yang dapat merusak keikhlasan — Dia ubah menjadi khalwat yang aman lagi ikhlas di pegunungan Barla. Ketika aku menjadi tawanan di Rusia, aku berniat dan bermunajat agar di akhir usiaku aku dapat menyendiri di sebuah gua. Arhamurrâhimîn menjadikan Barla sebagai gua itu bagiku dan memberikan faedah gua itu. Namun Dia tidak membebankan kesukaran dan kesulitan gua itu kepada tubuhku yang lemah. Hanya saja, di Barla, terdapat sikap penuh curiga pada dua tiga orang. Disebabkan sikap penuh curiga itu, aku disakiti. Bahkan sahabat-sahabatku itu — konon katanya — memikirkan istirahatku. Padahal, disebabkan sikap penuh curiga itu, mereka membahayakan hatiku sekaligus pengkhidmatan terhadap Al-Qur'an. Selain itu, walaupun ahli dunia memberikan surat izin kepada semua orang buangan serta membebaskan dan memaafkan para penjahat dari penjara, mereka secara zalim tidak memberikannya kepadaku. Rabb-ku Yang Rahîm — demi mempekerjakanku lebih banyak dalam pengkhidmatan terhadap Al-Qur'an dan demi membuatku menuliskan lebih banyak cahaya-cahaya Al-Qur'an dengan nama Kelimat — membiarkanku dalam keterasingan ini tanpa keriuhan, dan mengubahnya menjadi suatu rahmat yang besar. Selain itu, walaupun ahli dunia membiarkan seluruh pemimpin dan syaikh yang berpengaruh lagi kuat — yang berpotensi mencampuri urusan dunia mereka — tetap tinggal di kota-kota kecil maupun besar dan mengizinkan mereka bertemu dengan siapa saja bersama kerabat mereka, mereka justru mengasingkanku secara zalim dan mengirimku ke sebuah desa. Mereka sama sekali tidak mengizinkan kerabat maupun orang-orang sekampungku — kecuali satu dua orang — untuk datang menemuiku. Khâliq-ku Yang Rahîm mengubah pengasingan itu menjadi rahmat yang agung bagi diriku. Dia menjadikannya sarana agar pikiranku tetap jernih, bebas dari kedengkian dan noda hati, sehingga aku dapat menerima limpahan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana sebagaimana adanya. Selain itu, pada mulanya ahli dunia memandang berlebihan bahwa dalam kurun dua tahun aku menulis dua pucuk surat biasa. Bahkan hingga kini pun, mereka tidak berkenan bila dalam sepuluh atau dua puluh hari, atau dalam sebulan, satu dua orang tamu datang menemuiku semata-mata demi akhirat; mereka pun menzalimiku. Rabb-ku Yang Rahîm dan Khâliq-ku Yang Hakîm mengubah kezaliman itu menjadi rahmat bagiku, sehingga pada tiga bulan mulia yang akan menghasilkan usia maknawi selama sembilan puluh tahun ini, Dia menempatkanku dalam khalwat yang didambakan dan uzlah yang diterima. "Alhamdulillâhi 'alâ kulli hâl." Demikianlah keadaan dan istirahatku...