Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 46

Dalam masalah ini aku adalah terhukum takdir, bukan terhukum ahli dunia. Aku mengajukan permohonan kepada takdir. Kapan saja ia memberi izin, kapan saja ia memutus rezekiku dari sini, saat itulah aku akan pergi. Hakikat makna ini adalah: pada setiap perkara yang menimpa terdapat dua sebab; yang satu zahir, yang lain hakiki. Ahli dunia menjadi sebab yang zahir, yang membawaku ke sini. Adapun takdir Ilahi adalah sebab yang hakiki; ia menghukumku pada pengasingan ini. Sebab yang zahir berbuat zalim, sedangkan sebab yang hakiki berbuat adil. Sebab yang zahir berpikir demikian: "Orang ini terlampau banyak berkhidmat kepada ilmu dan agama, boleh jadi ia akan mencampuri urusan dunia kami" — dengan kemungkinan itu ia membuangku dan berbuat kezaliman berlipat ganda dari tiga sisi. Adapun takdir Ilahi melihat untuk kebaikanku bahwa aku belum berkhidmat kepada ilmu dan agama dengan semestinya lagi ikhlas; maka ia menghukumku pada pembuangan ini. Ia mengubah kezaliman mereka yang berlipat ganda itu menjadi rahmat yang berlipat ganda. Karena dalam pembuanganku takdirlah yang berkuasa dan takdir itu adil, kepadanyalah aku mengajukan permohonan. Adapun sebab yang zahir, sesungguhnya mereka hanya memiliki sesuatu yang berupa dalih semata. Berarti mengajukan permohonan kepada mereka tak ada artinya. Seandainya di tangan mereka terdapat suatu hak atau sebab yang kuat, tentu ketika itu permohonan pun akan diajukan kepada mereka.

Dunia mereka yang telah kutinggalkan sepenuhnya — biarlah ia menerkam kepala mereka — dan politik mereka yang telah kutinggalkan seluruhnya — biarlah ia membelit kaki mereka; sebab dalih-dalih dan waham yang mereka pikirkan itu sudah pasti tak berdasar, aku tidak ingin memberikan suatu hakikat kepada waham-waham itu dengan mengajukan permohonan kepada mereka. Seandainya ada padaku hasrat untuk mencampuri politik dunia yang ujung-ujungnya berada di tangan orang asing, niscaya bukan delapan tahun — melainkan delapan jam pun ia tak akan tersembunyi; ia pasti akan merembes keluar dan menampakkan dirinya. Padahal selama delapan tahun ini tak pernah timbul hasratku untuk membaca satu koran pun, dan aku tidak membacanya. Selama empat tahun aku berada di sini di bawah pengawasan; namun tak tampak rembesan apa pun. Berarti pengkhidmatan terhadap Al-Qur'an Yang Mahabijaksana memiliki suatu keluhuran yang berada di atas segala politik, yang tidak memberi peluang untuk merendahkan diri kepada politik dunia yang sebagian besarnya tak lain hanyalah kebohongan.

Sebab kedua dari ketiadaan pengajuan permohonanku adalah: menuntut kebenaran di hadapan orang-orang yang menyangka kebatilan sebagai kebenaran adalah semacam kezaliman terhadap kebenaran itu sendiri. Aku tidak ingin melakukan kezaliman semacam ini.