Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 47
Pengkhidmatan terhadap Al-Qur'an Yang Mahabijaksana telah melarangku dengan keras dari dunia politik. Bahkan ia membuatku lupa untuk memikirkannya sekalipun. Kalau tidak demikian, seluruh perjalanan hidupku menjadi saksi bahwa rasa takut tak pernah dan tak akan mampu menahan tanganku serta menghalangiku untuk menempuh jalan yang kupandang benar. Lagi pula, apa gerangan yang harus kutakuti? Aku tak memiliki keterikatan dengan dunia selain ajalku. Tak ada anak-istri yang harus kupikirkan. Tak ada harta yang harus kupikirkan. Tak ada kehormatan keluarga besar yang harus kupikirkan. Rahmat teruntuk bagi siapa yang menolong bukan untuk memelihara, melainkan untuk meruntuhkan, kemuliaan dan kehormatan duniawi yang tak lebih dari ketenaran dusta lagi penuh ria... Tinggallah ajalku. Ia berada di tangan Sang Khâliq Dzul-Jalâl. Siapa gerangan yang berhak mengusiknya sebelum waktunya tiba? Lagi pula, kami termasuk golongan yang lebih memilih kematian dalam kemuliaan daripada kehidupan dalam kehinaan. Seseorang seperti Said Lama pernah berkata demikian:
وَ نَحْنُ اُنَاسٌ لاَ تَوَسُّطَ بَيْنَنَا ❊ لَنَا الصَّدْرُ دُونَ الْعَالَم۪ينَ اَوِ الْقَبْرُ
Bahkan pengkhidmatan terhadap Al-Qur'an mencegahku dari memikirkan kehidupan sosial-politik umat manusia. Yaitu: Kehidupan manusia adalah suatu perjalanan. Pada masa ini, dengan cahaya Al-Qur'an aku melihat bahwa jalan itu telah memasuki sebuah rawa. Di dalam lumpur yang kotor lagi berbau busuk, kafilah umat manusia berjalan sembari jatuh bangun. Sebagian berjalan di atas jalan yang selamat. Sebagian telah menemukan beberapa sarana untuk sedapat mungkin selamat dari lumpur dan rawa itu. Sebagian besar berjalan dalam kegelapan di dalam rawa berlumpur yang busuk lagi kotor itu. Dua puluh persen darinya — disebabkan kemabukan — menyangka lumpur kotor itu sebagai minyak kesturi dan anbar, lalu melumurkannya ke wajah dan matanya.. ia berjalan sembari jatuh bangun, hingga akhirnya tenggelam. Adapun delapan puluh persennya memahami bahwa itu rawa dan merasakan bahwa ia busuk lagi kotor.. namun mereka kebingungan, tak mampu melihat jalan yang selamat.
Terhadap mereka ini ada dua jalan keluar: