Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 59
Pribadi lahiriah Dajjal serupa manusia. Karena ia sombong, telah menjadi seperti Fir'aun, dan telah melupakan Allah, maka ia adalah setan yang bodoh dan manusia yang licik, yang memberikan nama uluhiyah kepada kekuasaannya yang lahiriah lagi bengis. Namun pribadi maknawinya, yaitu arus kekufuran yang besar, sungguh amat raksasa. Sifat-sifat dahsyat yang berkaitan dengan Dajjal dalam riwayat-riwayat mengisyaratkan kepadanya. Pada suatu masa, gambar panglima tertinggi Jepang dilukiskan dengan satu kakinya di Samudra (Bahr-i Muhith) dan kaki lainnya di Benteng Port Arthur yang berjarak sepuluh hari perjalanan. Dengan penggambaran panglima Jepang yang kecil dalam bentuk seperti itu, ditunjukkanlah pribadi maknawi bala tentaranya.
Adapun surga palsu Dajjal, ialah hiburan dan fantasi peradaban yang memikat. Adapun tunggangannya, ialah suatu kendaraan seperti kereta api, yang pada satu ujungnya terdapat tungku api; sesekali ia mencampakkan orang-orang yang tidak tunduk kepadanya ke dalam api itu. Adapun satu telinga tunggangan itu, yakni ujungnya yang lain, dihias laksana surga; orang-orang yang tunduk kepadanya ia dudukkan di sana. Memang kereta api, yang merupakan tunggangan penting dari peradaban yang bejat lagi bengis itu, mendatangkan surga palsu bagi ahli kebejatan dan bagi dunia. Sedangkan bagi ahli agama dan ahli Islam yang malang, di tangan peradaban ia mendatangkan bahaya laksana zabaniyah Jahannam, serta mencampakkan mereka ke dalam perbudakan dan kesengsaraan.
Maka, tatkala agama sejati dari Isawiyah (Nasrani) menampakkan diri dan menjelma menjadi Islam, sekalipun ia akan menyebarkan cahayanya kepada mayoritas mutlak di alam ini, namun menjelang tibanya kiamat sekali lagi akan muncul suatu arus keingkaran terhadap agama, lalu ia mengungguli; dan menurut kaidah "al-hukmu lil-aktsar", di muka bumi tiada lagi akan tersisa orang yang mengucapkan "Allah, Allah" — yakni maksudnya, tidak akan ada lagi ucapan "Allah, Allah" dalam wujud suatu jamaah penting yang menguasai kedudukan berarti di atas Bola Bumi. Kalau tidak demikian, ahli haq yang tinggal sebagai golongan minoritas ataupun yang jatuh terkalahkan akan tetap kekal hingga hari kiamat; hanya saja, pada saat kiamat itu meletus — agar tidak menyaksikan kedahsyatan-kedahsyatannya — sebagai suatu jejak rahmat, ruh-ruh ahli iman akan dicabut lebih dahulu, dan kiamat akan meletus menimpa kepala orang-orang kafir.