Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 64
Agar tidak mengorbankan usaha dan perolehan bagi hayat abadi yang lebih dari miliaran tahun itu demi turut campur secara tak perlu lagi berlebihan dalam kehidupan duniawi yang meragukan yang hanya satu-dua tahun.. dan demi khidmat kepada iman dan al-Qur'an yang paling penting, paling diperlukan, paling murni, dan paling hakiki, ia lari dari politik dengan keras. Sebab ia berkata: "Aku semakin tua; setelah ini aku tidak tahu berapa tahun lagi akan hidup. Kalau demikian, urusan yang paling penting bagiku ialah berusaha untuk hayat abadi. Perantara yang paling utama dalam meraih hayat abadi dan kunci kebahagiaan abadi adalah iman; maka berusaha untuknya menjadi keharusan. Akan tetapi, oleh karena aku secara syar'i dibebani kewajiban untuk berkhidmat guna menyampaikan pula suatu manfaat kepada manusia dari segi ilmu, maka aku ingin berkhidmat. Namun khidmat itu, kalau bukan berkaitan dengan kehidupan sosial dan duniawi; sedang yang demikian itu tidak sanggup kulakukan. Lagi pula, di masa yang penuh badai, khidmat yang kokoh tidak dapat ditunaikan. Karena itu, kutinggalkan sisi tersebut, dan kupilih sisi khidmat kepada iman yang paling penting, paling diperlukan, dan paling selamat. Hakikat-hakikat imani yang telah kuperoleh bagi diriku sendiri, serta obat-obat maknawi yang telah kuuji pada diriku, kubiarkan pintu itu terbuka agar sampai ke tangan manusia yang lain. Barangkali Cenâb-ı Haqq menerima khidmat ini dan menjadikannya kaffârah bagi dosaku yang lampau. Terhadap khidmat ini, tiada seorang pun — baik ia mukmin maupun kafir, baik ia shiddiq maupun zindiq — yang berhak menentangnya, selain setan yang terkutuk. Sebab ketiadaan iman tidaklah serupa dengan hal-hal lain. Dalam kezaliman, dalam kefasikan, dan dalam dosa-dosa besar, mungkin terdapat suatu kelezatan setani yang celaka. Tetapi dalam ketiadaan iman, tiada satu sisi kelezatan pun. Ia adalah penderitaan di dalam penderitaan, kegelapan di dalam kegelapan, azab di dalam azab.
Nah, meninggalkan usaha bagi hayat abadi yang tak berbatas seperti ini serta khidmat kepada cahaya suci seperti iman, lalu di masa tua menceburkan diri ke dalam permainan-permainan politik yang tak perlu lagi berbahaya — pada diri seorang lelaki yang tak terikat, seorang diri, dan terpaksa mencari kaffârah atas dosa-dosanya yang lampau sepertiku, betapa hal itu bertentangan dengan akal, betapa bertentangan dengan hikmah, dan sampai derajat manakah ia merupakan kegilaan — orang-orang gila pun dapat memahaminya.
Adapun jika engkau bertanya: mengapa khidmat kepada al-Qur'an dan iman melarangku dari politik, maka aku pun menjawab: Sekalipun hakikat-hakikat imani dan Qur'ani itu masing-masing berkedudukan bak intan, seandainya aku berlumuran dengan politik; niscaya intan-intan yang ada di tanganku itu akan dipandang oleh kaum awam yang dapat terpedaya, sembari mereka berpikir, "Jangan-jangan ini suatu propaganda politik demi meraih pendukung?" Mereka bisa jadi memandang intan-intan itu dengan pandangan sebagai kaca-kaca biasa. Maka dengan bersentuhan dengan politik itu, aku menzalimi intan-intan tersebut, dan hal itu berarti merendahkan nilai-nilainya. Nah, wahai ahli dunia! Mengapa kalian mengusik aku? Mengapa kalian tidak membiarkan aku dalam keadaanku sendiri?
Jika kalian berkata:
Para syaikh terkadang turut campur dalam urusan kami. Kepadamu pun terkadang orang menyebut syaikh.
Maka aku menjawab: Wahai tuan-tuan! Aku bukanlah syaikh, aku seorang guru (hoca). Dalilnya: Sudah empat tahun aku di sini; seandainya aku memberikan tarekat kepada satu orang saja, tentu kalian berhak menaruh syak. Justru kepada setiap orang yang datang kepadaku telah kukatakan: Iman itu perlu, Islam itu perlu; sekarang bukanlah zaman tarekat.
Jika kalian berkata:
Orang menyebutmu Said Kürdî. Barangkali pada dirimu terdapat pemikiran fanatisme kesukuan; hal itu tidak sesuai dengan kepentingan kami.
Maka aku menjawab:
Wahai tuan-tuan! Apa yang telah ditulis oleh Said Lama dan Said Baru terpampang nyata. Aku menghadirkan saksi bahwa: dengan firman yang tegas َاْلاِسْلاَمِيَّةُ جَبَّتِ الْعَصَبِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةَ, sejak zaman dahulu aku memandang nasionalisme negatif dan fanatisme kesukuan — oleh karena ia merupakan semacam penyakit firengi ala Barat dari Eropa — dengan pandangan sebagai racun yang mematikan. Dan Eropa telah melemparkan penyakit firengi itu ke dalam tubuh Islam; ia berpikir agar penyakit itu menimbulkan perpecahan, mencerai-beraikan, dan menyiapkan Islam untuk ditelannya. Bahwa aku sejak dahulu berusaha mengobati penyakit firengi itu, murid-muridku dan orang-orang yang bersentuhan denganku mengetahuinya. Oleh karena demikian halnya; wahai tuan-tuan! Apa gerangan sebabnya, setiap peristiwa dijadikan dalih untuk menimpakan kesusahan kepadaku? Menimpakan kesusahan kepadaku pada setiap peristiwa duniawi — semisal jika seorang prajurit di Timur berbuat salah, lalu seorang prajurit di Barat diberi kesukaran dan hukuman dengan alasan pertalian kemiliteran.. atau semisal menghukum seorang pedagang di Bagdad dengan alasan pertalian keprofesian karena kejahatan seorang pedagang di Istanbul — dengan kaidah manakah itu? Hati nurani yang mana yang memutuskan demikian? Maslahat yang mana yang menuntutnya?