Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 69

Aku hidup dengan hemat dan keberkahan. Aku tidak menerima budi dari siapa pun selain dari Razzâq-ku, dan aku telah bertekad untuk tidak menerimanya. Ya, seorang lelaki yang hidup dengan seratus para sehari, bahkan empat puluh para, tidaklah menerima budi orang lain. Aku sama sekali tidak menginginkan penjelasan masalah ini. Dengan pikiran bahwa ia barangkali menimbulkan kesan kesombongan dan keakuan, menerangkannya sangatlah tidak menyenangkan bagiku. Akan tetapi, oleh karena ahli dunia bertanya dengan penuh waham, maka aku pun menjawab: Tidak menerima harta khalayak sejak kecilku — sekalipun itu zakat — juga tidak menerima gaji — hanya selama satu-dua tahun di Dâr-ul Hikmet-il İslâmiyah aku terpaksa menerimanya karena paksaan sahabat-sahabatku, dan uang itu pun secara maknawi telah kami kembalikan kepada umat — serta tidak masuk ke bawah budi demi penghidupan duniawi, adalah suatu dustur hidupku sepanjang usiaku. Penduduk negeriku dan orang-orang yang mengenalku di tempat-tempat lain mengetahui hal ini. Dalam pembuanganku selama lima tahun ini, banyak sahabat yang berusaha keras agar aku menerima hadiah-hadiah mereka, namun aku tidak menerimanya. Seandainya dikatakan, "Kalau begitu, bagaimana engkau mencukupi diri?" aku menjawab: Aku hidup dengan keberkahan dan karunia Ilahi. Sekalipun nafsuku memang berhak atas setiap penghinaan dan setiap pengkhianatan; namun, sebagai karâmah dari khidmat al-Qur'an, dalam urusan rezeki aku memperoleh keberkahan yang merupakan karunia Ilahi. Dengan rahasia وَ اَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ, sembari mengenang karunia-karunia yang Cenâb-ı Haqq berikan kepadaku, aku akan menyebutkan beberapa contohnya dalam bentuk syukur maknawi. Kendati ia merupakan syukur maknawi, aku khawatir bahwa dengan menimbulkan kesan riya dan kesombongan, keberkahan yang mubarak itu terputus. Sebab menampakkan keberkahan yang tersembunyi dengan rasa bangga, menjadi sebab terputusnya. Akan tetapi, apa daya, aku terpaksa mengatakannya.