Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 72

Keadaan dan situasiku yang diketahui oleh banyak orang di Divan-ı Harb-i 'Örfî (Mahkamah Militer Darurat) dua puluh tahun yang silam dan di masa sebelum Hürriyet, serta pembelaanku waktu itu di Mahkamah Militer yang berjudul "İki Mekteb-i Musîbetin Şehadetnamesi" (Ijazah Dua Madrasah Musibah), menunjukkan secara pasti bahwa aku telah menjalani hidup dengan cara yang jangankan tipu muslihat, bahkan tak sudi merendahkan diri pada tipu daya yang paling hina sekalipun. Seandainya ada tipu daya, niscaya dalam kurun lima tahun ini telah dilakukan suatu permohonan yang penuh penjilatan kepada kalian. Orang yang penuh tipu daya membuat dirinya dicintai, tidak menarik diri; ia senantiasa berusaha memperdaya dan menipu. Padahal, menghadapi serangan-serangan dan celaan-celaan yang paling besar terhadapku, aku tidak sudi merendahkan diri dengan kehinaan. Sambil mengucapkan "Tawakkaltu 'alâllâh" (aku bertawakal kepada Allah), aku memalingkan punggungku dari ahli dunia. Lagi pula, orang yang mengenal akhirat dan menyingkap hakikat dunia; jika ia memiliki akal, ia tidak akan menyesal, dan tidak akan kembali lagi ke dunia untuk bersusah payah dengannya. Setelah lima puluh tahun, seorang lelaki yang tak terikat lagi seorang diri; tidak akan mengorbankan hayat abadinya demi satu-dua tahun celoteh dan kepalsuan dunia.. seandainya ia mengorbankannya, ia bukanlah orang cerdik, melainkan seorang dungu yang gila. Apa pula yang dapat diperbuat oleh seorang dungu yang gila, sehingga perlu diurusi? Adapun syak bahwa aku secara lahiriah adalah orang yang meninggalkan dunia namun secara batiniah adalah pencari dunia, maka menurut rahasia وَمَٓا اُبَرِّئُ نَفْس۪ٓى اِنَّ النَّفْسَ َلاَمَّارَةٌ بِالسُّٓوءِ: Aku tidak menganggap suci nafsuku; nafsuku menginginkan setiap keburukan. Akan tetapi, di dunia fana ini, di wisma tamu yang sementara ini, di masa tua, dalam usia yang singkat, demi kelezatan yang sedikit; menghancurkan hayatnya yang kekal lagi abadi serta kebahagiaan abadinya, bukanlah perbuatan orang yang berakal. Oleh karena hal itu bukanlah perbuatan orang yang berakal dan berkesadaran, maka nafsu ammârah-ku mau tak mau menjadi tunduk kepada akal.