Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 8

Ya. Cinta majazi terhadap wajah dunia yang fana, jika sang pencinta itu melihat keburukan kelenyapan dan kefanaan yang ada pada wajah tersebut lalu memalingkan wajahnya darinya, mencari suatu kekasih yang kekal, dan berhasil memandang kepada dua wajah dunia yang lain yang teramat indah — yaitu cermin bagi asma Ilahi dan ladang bagi akhirat — maka cinta majazi yang tidak sah itu pada saat itu mulai berubah menjelma menjadi cinta hakiki. Akan tetapi dengan satu syarat, yaitu tidak mencampuradukkan dunianya sendiri yang sirna dan tak menentu yang terikat dengan kehidupannya, dengan dunia yang di luar. Jika ia — sebagaimana ahli kesesatan dan kelalaian — melupakan dirinya lalu tenggelam ke dalam cakrawala luar, menyangka dunia umum sebagai dunia khususnya lalu mencintainya, niscaya ia jatuh dan tenggelam ke dalam rawa tabiat. Kecuali jika suatu tangan pertolongan secara luar biasa menyelamatkannya. Untuk menerangi hakikat ini, perhatikanlah perumpamaan berikut. Misalnya:

Seandainya pada keempat dinding kamar indah nan berhias ini terdapat empat cermin sebadan milik kita berempat, maka pada saat itu jadilah lima kamar. Yang satu hakiki dan umum, yang empat mitsâlî dan khusus... Masing-masing kita, melalui perantaraan cerminnya sendiri, dapat mengubah bentuk, keadaan, dan warna kamar khususnya. Jika kita mengecatnya merah, ia memperlihatkan merah; jika kita mengecatnya hijau, ia memperlihatkan hijau. Dan demikian seterusnya.. dengan mengendalikan cermin itu kita dapat memberinya banyak keadaan; kita dapat memperburuknya, memperindahnya, dan menempatkannya dalam banyak bentuk. Akan tetapi kamar yang di luar dan yang umum, tidaklah dengan mudah dapat kita kendalikan dan ubah. Kamar khusus dan kamar umum, sekalipun pada hakikatnya sama satu sama lain, namun berbeda dalam hukum-hukumnya. Engkau dapat merobohkan kamarmu dengan satu jari, sedang sebuah batu pun dari kamar yang lain tidak dapat engkau gerakkan.

Nah, dunia adalah suatu tempat tinggal yang berhias. Kehidupan masing-masing kita adalah suatu cermin sebadan. Dari dunia ini, bagi masing-masing kita ada sebuah dunia, ada sebuah alam. Akan tetapi tiangnya, pusatnya, dan pintunya adalah kehidupan kita. Bahkan dunia dan alam khusus kita itu adalah selembar halaman. Kehidupan kita adalah sebuah pena.. dengannya tertulislah banyak hal yang akan berpindah ke lembaran amal kita. Jika kita mencintai dunia kita, kemudian kita melihat bahwa: karena dunia kita dibangun di atas kehidupan kita, maka ia pun sirna, fana, dan tak menentu sebagaimana kehidupan kita — kita merasakan dan mengetahuinya. Maka kecintaan kita terhadapnya berbalik kepada ukiran-ukiran indah asma Ilahi yang dicerminkan dan diwakili oleh dunia khusus kita itu; lalu darinya berpindah kepada tajalli asma. Lagi pula, jika kita memahami bahwa dunia khusus kita itu adalah suatu persemaian sementara bagi akhirat dan Surga, lalu kita mengalihkan perasaan-perasaan kita — seperti ketamakan, tuntutan, dan kecintaan yang kuat terhadapnya — kepada faedah-faedah ukhrawi yang merupakan hasil, buah, dan tangkainya, maka pada saat itu cinta majazi itu berubah menjelma menjadi cinta hakiki. Jika tidak,

jika ia memperoleh rahasia نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰيهُمْ اَنْفُسَهُمْ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ, melupakan nafsunya, tidak memikirkan kelenyapan kehidupan, menyangka dunia khususnya yang tak menentu itu tetap sebagaimana dunia umum, mengira dirinya tak akan mati lalu menancapkan diri ke dalam dunia, dan memeluknya dengan perasaan yang kuat, niscaya ia tenggelam dan binasa di dalamnya. Kecintaan itu baginya adalah bencana dan azab yang tak terhingga. Karena dari kecintaan itu lahirlah suatu kasih sayang yang bagaikan anak yatim, suatu keharuan yang penuh keputusasaan. Ia mengasihani seluruh makhluk yang hidup; bahkan ia merasakan suatu keharuan dan suatu perpisahan terhadap seluruh makhluk indah yang terancam kelenyapan; tak sesuatu pun dapat ia perbuat, ia menderita kepedihan dalam keputusasaan mutlak. Akan tetapi, orang yang pertama tadi, yang telah terselamatkan dari kelalaian, menemukan suatu penawar yang tinggi terhadap kepedihan kasih sayang yang kuat itu; yaitu ia memandang kekal cermin-cermin ruh yang mewakili tajalli-tajalli abadi dari asma abadi milik suatu Zat Yang Mahakekal, di dalam kematian dan kelenyapan seluruh makhluk hidup yang ia kasihani; maka kasih sayangnya berubah menjelma menjadi suatu kegembiraan. Lagi pula, ia melihat di balik seluruh makhluk indah yang terancam kelenyapan dan kefanaan suatu ukiran, pujian, seni, hiasan, kemurahan, dan penerangan abadi yang membuatnya merasakan suatu keindahan yang mahasuci dan keelokan yang disucikan. Ia memandang kelenyapan dan kefanaan itu sebagai suatu bentuk pembaruan demi menambah keindahan, memperbarui kelezatan, dan mempertunjukkan seni; sehingga ia menambah kelezatan, kerinduan, dan ketakjubannya. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى

Said Nursî