Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 119
Kecintaan itu terbagi dua. Yang pertama: dengan makna harfi—yakni mencintai Hazret-i Ali beserta Hasan dan Husain serta Ahli Bait demi Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم dan atas nama Allah. Kecintaan ini menambah kecintaan kepada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم serta menjadi perantara menuju kecintaan kepada Allah. Kecintaan ini dibenarkan (masyru'); berlebih-lebihan padanya tidak membawa mudarat, tidak melampaui batas, dan tidak menuntut pencelaan maupun permusuhan terhadap orang lain.
Yang kedua: kecintaan dengan makna ismi, yakni mencintai mereka karena diri mereka sendiri. Ia mencintai kepahlawanan dan kesempurnaan Hazret-i Ali serta keutamaan nan tinggi dari Hazret-i Hasan dan Husain tanpa mengingat Nabi صلى الله عليه وسلم. Bahkan sekalipun ia tidak mengenal Allah dan tidak mengenal Nabi صلى الله عليه وسلم, ia tetap mencintai mereka. Kecintaan semacam ini tidak menghasilkan kecintaan kepada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم dan tidak pula kecintaan kepada Allah; dan jika berlebihan, ia menuntut pencelaan dan permusuhan terhadap orang lain.
Maka, dengan isyarat kenabian, disebabkan kecintaan mereka yang berlebihan terhadap Hazret-i Ali—hingga mereka berlepas diri dari Hazret-i Abu Bakar ash-Shiddiq dan Hazret-i Umar—mereka pun terjatuh ke dalam kerugian. Dan kecintaan yang negatif itulah sebab kerugian.
Dan pula—dengan penukilan sahih lagi pasti—beliau bersabda: اِذَا مَشَوُا الْمُطَيْطَٓاءَ وَخَدَمَتْهُمْ بَنَاتُ فَارِسَ وَالرُّومِ، رَدَّ اللّٰهُ بَاْسَهُمْ بَيْنَهُمْ وَ سَلَّطَ شِرَارَهُمْ عَلٰى خِيَارِهِمْ yakni beliau mengabarkan: "Manakala para putri Persia dan Romawi telah melayani kalian, pada saat itu bencana dan fitnah akan masuk ke tengah-tengah kalian, peperangan kalian akan menjadi perang saudara; orang-orang jahat di antara kalian akan naik memimpin dan menguasai orang-orang baik lagi saleh di antara kalian!" Tiga puluh tahun kemudian, terjadilah sebagaimana yang beliau kabarkan.
Dan pula—dengan penukilan sahih lagi pasti—beliau bersabda: وَتُفْتَحُ خَيْبَرُ عَلٰى يَدَىْ عَلِىٍّ yakni, "Penaklukan Benteng Khaibar akan terjadi di tangan Ali." Jauh melampaui dugaan, pada hari kedua, sebagai sebuah mukjizat kenabian, Hazret-i Ali mencabut pintu Benteng Khaibar dan menggunakannya laksana perisai; setelah berhasil menaklukkannya, ia melemparkan pintu itu ke tanah. Delapan orang yang kuat tak sanggup mengangkat pintu itu dari tanah; dalam satu riwayat, empat puluh orang pun tak sanggup mengangkatnya.
Dan pula beliau bersabda: لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتّٰى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ dengan itu beliau mengabarkan tentang peperangan antara Hazret-i Ali dan Muawiyah di Shiffin.
Dan pula beliau bersabda: اِنَّ عَمَّارًا تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ yakni, "Sekelompok kaum pemberontak (bughat) akan membunuh Ammar." Kemudian ia benar-benar terbunuh dalam Perang Shiffin. Hazret-i Ali menjadikannya hujjah bahwa para pengikut Muawiyah adalah kaum pemberontak. Namun Muawiyah menakwilkannya. Amr bin al-Ash berkata: "Pemberontak itu hanyalah para pembunuhnya, bukan kami semua."
Dan pula beliau bersabda: اِنَّ الْفِتَنَ لاَ تَظْهَرُ مَا دَامَ عُمَرُ حَيًّا yakni beliau mengabarkan, "Selama Hazret-i Umar masih hidup, fitnah-fitnah tidak akan muncul di tengah-tengah kalian!" Dan demikianlah yang terjadi.
Dan pula, Sahl bin Amr tertawan sebelum ia memeluk iman. Hazret-i Umar berkata kepada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم: "Izinkanlah aku mencabut gigi-giginya, sebab dengan kefasihannya ia menghasut kaum kafir Quraisy untuk memerangi kita." Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda: وَعَسٰى اَنْ يَقُومَ مَقَامًا يَسُرُّكَ يَا عُمَرُ Maka, pada peristiwa yang dahsyat lagi mengguncang kesabaran di saat wafatnya Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم—sebagaimana Hazret-i Abu Bakar ash-Shiddiq di Madinah al-Munawwarah dengan keteguhan yang sempurna menenangkan setiap orang dan meredakan para sahabat melalui sebuah khutbah yang penting—persis seperti itu pula: Sahl ini, pada saat yang sama di Makkah al-Mukarramah, menenangkan dan menghibur para sahabat sebagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq, dan dengan kefasihannya yang termasyhur ia menyampaikan sebuah pidato yang semakna dengan khutbah Abu Bakar ash-Shiddiq itu. Bahkan kata-kata kedua khutbah itu saling menyerupai.
Dan pula beliau bersabda kepada Suraqah: كَيْفَ بِكَ اِذَا اُلْبِسْتَ سُوَارَىْ كِسْرٰى yakni, "Engkau akan mengenakan kedua gelang Kisra!" Pada masa Hazret-i Umar, Kisra pun dihancurkan; perhiasan dan gelang-gelangnya yang megah pun tiba, lalu Hazret-i Umar memakaikannya kepada Suraqah. Ia berkata: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذ۪ى سَلَبَهُمَا كِسْرٰى وَاَلْبَسَهُمَا سُرَاقَةَ Maka terbuktilah kebenaran kabar kenabian itu.
Dan pula beliau bersabda: اِذَا ذَهَبَ كِسْرٰى فَلاَ كِسْرٰى بَعْدَهُ yakni beliau mengabarkan, "Setelah Kisra Persia lenyap, tidak akan ada lagi Kisra yang muncul!" Dan demikianlah yang terjadi.
Dan pula beliau berkata kepada utusan Kisra: "Kini putra Kisra, Syirawaih Parwiz, telah membunuh Kisra." Utusan itu menyelidikinya, dan ternyata pada saat yang sama peristiwa itu memang terjadi; ia pun memeluk Islam. Dalam sebagian hadis, nama utusan itu adalah Fairuz.
Dan pula—dengan penukilan sahih lagi pasti—beliau mengabarkan tentang surat yang dikirim Hathib bin Abi Balta'ah secara diam-diam kepada kaum Quraisy. Beliau mengutus Hazret-i Ali dan Miqdad seraya bersabda: "Di tempat anu, pada seseorang, terdapat sepucuk surat demikian. Ambil dan bawalah kemari!" Keduanya pergi, lalu membawa surat yang sama dari tempat yang sama. Beliau memanggil Hathib. "Mengapa engkau berbuat demikian?" tanya beliau; Hathib pun menyampaikan uzurnya, lalu beliau menerima uzurnya.
Dan pula—dengan penukilan sahih—beliau bersabda tentang Utbah bin Abi Lahab: يَاْكُلُهُ كَلْبُ اللّٰهِ yakni beliau mengabarkan akhir hidupnya yang tragis. Kemudian, tatkala ia menuju arah Yaman, seekor singa datang lalu menerkamnya. Kejadian itu pun membenarkan baik doa (kutukan) maupun kabar Nabi صلى الله عليه وسلم.
Dan pula—dengan penukilan sahih—pada saat penaklukan Makkah, Hazret-i Bilal al-Habasyi naik ke atap Ka'bah dan mengumandangkan azan. Di antara para pembesar Quraisy, Abu Sufyan, Attab bin Asid, dan Harits bin Hisyam duduk berbincang. Attab berkata: "Beruntunglah ayahku, Asid, karena ia tidak menyaksikan hari ini." Harits berkata: "Apakah Muhammad tidak menemukan orang lain selain gagak hitam ini untuk dijadikan muazin?" Ia pun menghina Hazret-i Bilal al-Habasyi. Abu Sufyan berkata: "Aku takut; aku tidak akan berkata apa-apa. Sekalipun tiada seorang pun (yang mendengar), batu-batu Batha ini akan mengabarkan kepadanya, dan ia pun akan mengetahuinya." Sungguh, tak berapa lama kemudian Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم menjumpai mereka dan menyebutkan kata demi kata apa yang telah mereka bincangkan. Saat itu Attab dan Harits mengucapkan syahadat dan memeluk Islam.
Maka, wahai orang mulhid yang malang! Wahai manusia tak berhati yang tidak mengenal Nabi صلى الله عليه وسلم! Lihatlah, dua pembesar Quraisy yang keras kepala itu beriman hanya karena satu kabar gaib. Betapa rusak hatimu, hingga dengan tawatur maknawi engkau mendengar ribuan mukjizat seperti kabar gaib ini, namun tetap saja keyakinan yang sempurna tak kunjung datang kepadamu!.. Bagaimanapun juga, mari kita kembali ke pokok pembahasan.
Dan pula—dengan penukilan sahih—dalam Perang Badar, tatkala Hazret-i Abbas tertawan di tangan para sahabat, dituntutlah darinya tebusan pembebasan (fidyah). Ia pun berkata: "Aku tak punya uang." Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda: "Sejumlah uang sekian telah engkau titipkan pada istrimu, Ummu Fadhl, di tempat anu." Hazret-i Abbas membenarkannya seraya berkata, "Itu adalah rahasia yang tak seorang pun mengetahuinya selain kami berdua." Saat itu ia pun memperoleh iman yang sempurna dan memeluk Islam.
Dan pula—dengan penukilan sahih lagi pasti—Labid si Yahudi, seorang penyihir yang jahat, membuat sihir yang aneh lagi kuat pengaruhnya untuk menyakiti Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Ia melilitkan rambut pada sebuah sisir, membuat sihir di atasnya, lalu melemparkannya ke sebuah sumur. Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Hazret-i Ali dan para sahabat: "Pergilah, temukan dan bawalah alat-alat sihir semacam ini di sumur anu!" Mereka pun pergi, menemukannya persis demikian, lalu membawanya. Setiap kali satu simpul talinya terlepas, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم pun merasa lebih ringan dari rasa sakitnya.
Dan pula—dengan penukilan sahih—dalam suatu majelis yang dihadiri tokoh-tokoh penting seperti Abu Hurairah dan Hudzaifah, Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda: ضِرْسُ اَحَدِكُمْ فِى النَّارِ اَعْظَمُ مِنْ اُحُدٍ yakni beliau mengabarkan tentang kemurtadan salah seorang di antara mereka beserta akhir hidupnya yang mengerikan. Abu Hurairah berkata: "Dari majelis itu, tinggallah kami berdua—aku dan seorang lelaki—dan aku pun merasa takut. Kemudian, lelaki yang satu lagi itu, dalam Perang Yamamah, berada di pihak Musailamah dan terbunuh dalam keadaan murtad." Maka nyatalah kebenaran kabar kenabian itu.
Dan pula—dengan penukilan sahih—sebelum Umair dan Shafwan memeluk Islam, keduanya sepakat—demi imbalan harta yang besar—untuk membunuh Nabi صلى الله عليه وسلم; lalu Umair datang ke Madinah dengan niat membunuh Nabi صلى الله عليه وسلم. Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم melihat Umair, memanggilnya mendekat, lalu bersabda: "Beginilah kesepakatanmu dengan Shafwan!" Beliau meletakkan tangannya di dada Umair; Umair berkata "Ya, benar," lalu memeluk Islam.
Masih amat banyak kabar gaib sahih semisal ini yang telah terjadi. Semuanya disebutkan dalam Kutubus Sittah—kitab-kitab hadis sahih yang masyhur—dan dijelaskan lengkap dengan sanad-sanadnya. Kebanyakan peristiwa yang dijelaskan dalam risalah ini bersifat pasti lagi meyakinkan pada hukum tawatur maknawi. Terdepan di antaranya ialah Bukhari dan Muslim, yang oleh para ahli tahqiq diakui sebagai kitab paling sahih setelah Al-Qur'an. Dan (kabar-kabar itu) dijelaskan pula—lengkap dengan mata rantai sanadnya—dalam kitab-kitab lain seperti Sahih Tirmidzi, Nasa'i, Abu Dawud, Musnad al-Hakim, Musnad Ahmad bin Hanbal, dan Dalail al-Baihaqi.
Kini, wahai mulhid yang lalai! Janganlah engkau berlalu begitu saja seraya berkata, "Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم hanyalah seorang yang cerdas." Sebab, kabar-kabar benar dari Ahmad صلى الله عليه وسلم tentang perkara-perkara gaib ini tidak lepas dari dua kemungkinan: entah engkau akan berkata bahwa pada Pribadi suci itu terdapat pandangan yang demikian tajam dan kejeniusan yang demikian luas, sehingga ia melihat dan mengetahui masa lampau, masa depan, serta seluruh dunia; ia memiliki mata yang menyaksikan segenap penjuru alam, timur dan barat, serta kejeniusan yang menyingkap seluruh masa, yang lampau maupun yang akan datang. Keadaan semacam ini mustahil ada pada manusia; seandainya ada, tentu ia merupakan suatu keajaiban, suatu karunia yang dianugerahkan oleh Sang Khâliq Alam. Dan ini, dengan sendirinya, sudah merupakan sebuah mukjizat teragung. Atau, engkau akan percaya bahwa Pribadi yang diberkati itu adalah pegawai dan murid dari suatu Zat yang segala sesuatu berada dalam pandangan dan pengaturan-Nya, dan seluruh jenis alam semesta serta seluruh masa berada di bawah perintah-Nya; di dalam Kitab Besar-Nya segala sesuatu telah tertulis, dan kapan saja Dia menghendaki, Dia memberitahukan dan memperlihatkannya kepada murid-Nya. Artinya, Muhammad al-Arabî صلى الله عليه وسلم mengambil pelajaran dari Guru Azali-Nya, lalu demikianlah ia mengajarkan...
Dan pula—dengan penukilan sahih—tatkala beliau mengutus Hazret-i Khalid untuk berperang melawan Ukaidir, pemimpin Dumatul Jandal, beliau bersabda: اِنَّكَ تَجِدُهُ يَص۪يدُ الْبَقَرَ yakni beliau mengabarkan bahwa ia akan mendapatinya tengah berburu sapi liar dan bahwa ia akan ditawan tanpa perlawanan. Hazret-i Khalid pergi, mendapatinya persis demikian, menawannya, lalu membawanya.
Dan pula—dengan penukilan sahih—tentang lembaran yang ditulis kaum Quraisy untuk memusuhi Bani Hasyim dan mereka gantungkan pada atap Ka'bah, beliau bersabda mengabarkan: "Rayap telah memakan tulisan kalian, dan hanya nama-nama Ilahi pada lembaran itu yang tidak mereka sentuh!" Kemudian mereka melihat lembaran itu, dan ternyata persis demikian.
Dan pula—dengan penukilan sahih—beliau telah bersabda: "Pada penaklukan Baitul Maqdis akan muncul wabah tha'un yang besar." Pada masa Hazret-i Umar, Baitul Maqdis pun ditaklukkan, dan muncullah wabah tha'un sedemikian rupa hingga dalam tiga hari terjadi tujuh puluh ribu kematian.
Dan pula—dengan penukilan sahih—beliau mengabarkan bahwa Bashrah dan Baghdad, yang pada masa itu belum ada, akan menjadi ada; bahwa perbendaharaan dunia akan masuk ke Baghdad; bahwa bangsa Turki dan bangsa-bangsa di sekitar Laut Kaspia (Bahr-i Khazar) akan berperang melawan bangsa Arab; kemudian mereka akan masuk ke dalam Islam secara berbondong-bondong dan menjadi penguasa atas bangsa Arab di tengah-tengah bangsa Arab sendiri. Beliau bersabda: يُوشِكُ اَنْ يَكْثُرَ ف۪يكُمُ الْعَجَمُ يَاْكُلُونَ فَيْئَكُمْ وَيَضْرِبُونَ رِقَابَكُمْ
Dan pula beliau bersabda: هَلاَكُ اُمَّت۪ى عَلٰى يَدِ اُغَيْلِمَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ dengan itu beliau mengabarkan tentang kerusakan yang ditimbulkan para pemimpin Umayyah yang jahat seperti Yazid dan Walid.
Dan pula beliau mengabarkan bahwa kemurtadan akan terjadi di sebagian tempat seperti Yamamah.
Dan pula, dalam Perang Khandaq yang masyhur, beliau bersabda: اِنَّ قُرَيْشًا وَاْلاَحْزَابَ لاَ يَغْزُون۪ى اَبَدًا وَاَنَا اَغْزُوهُمْ yakni, "Setelah ini, bukan mereka yang akan menyerangku, melainkan akulah yang akan menyerang mereka!" Maka terjadilah sebagaimana yang beliau kabarkan.
Dan pula—dengan penukilan sahih—satu dua bulan sebelum wafatnya, beliau bersabda: اِنَّ عَبْدًا خُيِّرَ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللّٰهِ dengan itu beliau mengabarkan tentang wafatnya.
Dan pula, tentang Zaid bin Shuwahan beliau bersabda: يَسْبِقُ عُضْوٌ مِنْهُ اِلَى الْجَنَّةِ beliau mengabarkan bahwa salah satu anggota tubuhnya akan gugur sebagai syahid mendahului Zaid sendiri. Beberapa waktu kemudian, dalam Perang Nahawand, salah satu tangannya terpotong. Artinya, tangan itulah yang pertama-tama gugur sebagai syahid dan secara maknawi telah pergi ke surga.
Maka, seluruh perkara gaib yang telah kita bicarakan ini hanyalah satu jenis dari sepuluh bagian jenis-jenis mukjizat. Dari jenis itu pun, satu bagian dari sepuluh bagiannya belum kita sebutkan. Kini, bersama bagian ini, dalam Kelimat Kedua Puluh Lima tentang kemukjizatan Al-Qur'an, telah kami jelaskan secara ringkas empat macam dari jenis kabar gaib yang amat luas. Maka, bersama jenis yang ada di sini, renungkanlah bersama-sama keempat jenis besar itu—yang dikabarkan tentang perkara gaib melalui lisan Al-Qur'an. Lihatlah, betapa pasti, tak diragukan, cemerlang, kokoh, lagi kuatnya bukti kerasulan ini; sehingga siapa pun yang hati dan akalnya tidak sepenuhnya rusak pastilah akan beriman bahwa Pribadi Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم adalah utusan dari suatu Zat Dzul-Jalâl—Sang Khâliq segala sesuatu lagi Allâm al-Ghuyûb (Yang Maha Mengetahui segala yang gaib)—dan bahwa ia menerima kabar dari-Nya.