Risale-i NurAl-Maktubat

Jawaban

Al-Maktubat · hlm. 329

Aku mendengarnya sebagai hadis. Maksudnya adalah: "Pemuda terbaik adalah yang memikirkan kematian seperti orang tua, lalu bekerja untuk akhiratnya, tak menjadi tawanan syahwat masa muda, dan tak tenggelam dalam kelalaian. Dan orang tua kalian yang terburuk adalah yang ingin menyerupai pemuda dalam kelalaian dan syahwat; yang mengikuti syahwat nafsani secara kekanak-kanakan."

Adapun bentuk yang sahih dari bagian kedua yang engkau lihat pada papanmu — aku menggantungkannya di atas kepalaku sebagai papan hikmah. Setiap pagi dan petang aku memandangnya dan mengambil pelajaranku:

Jika engkau menginginkan sahabat, Allah cukup. Ya, jika Dia sahabat, segala sesuatu menjadi sahabat. Jika engkau menginginkan teman, Al-Qur'an cukup. Ya, dengannya engkau berjumpa secara khayal dengan para nabi dan malaikat, menyaksikan peristiwa-peristiwa mereka, dan menjadi akrab. Jika engkau menginginkan harta, kanaah cukup. Ya, yang berkanaah akan berhemat; yang berhemat akan menemukan berkah. Jika engkau menginginkan musuh, nafsu cukup. Ya, yang membanggakan diri akan menemukan bala dan jatuh ke dalam susah; yang tak membanggakan diri akan menemukan ketenteraman dan pergi menuju rahmat. Jika engkau menginginkan nasihat, kematian cukup. Ya, yang memikirkan kematian akan lepas dari cinta dunia dan bekerja sungguh-sungguh untuk akhiratnya.

Pada persoalan ketujuh kalian, aku menambahkan yang kedelapan.

Yaitu: satu dua hari lalu, seorang hafiz membaca satu 'asyr dari Surah Yûsuf, hingga تَوَفَّن۪ى مُسْلِمًا وَ اَلْحِقْن۪ى بِالصَّالِح۪ينَ. Tiba-tiba secara seketika sebuah nuktah terlintas di kalbu: segala sesuatu yang berkaitan dengan Al-Qur'an dan iman itu berharga; betapa pun kecil secara lahir, ia besar dari segi nilai. Ya, yang menolong kebahagiaan abadi tidaklah kecil. Maka dari itu, tak boleh dikatakan "Ini nuktah kecil, tak layak dijelaskan dan tak penting." Tentu Ibrahim Hulusi — murid dan mukhatab terdepan dalam persoalan semacam ini, yang menghargai nuktah-nuktah Qur'ani — ingin mendengar nuktah itu. Maka dari itu, dengarlah:

Sebuah nuktah indah dari kisah yang terindah. Sebuah nuktah luhur, lembut, penuh kabar gembira, dan penuh mukjizat dari ayat تَوَفَّن۪ى مُسْلِمًا وَ اَلْحِقْن۪ى بِالصَّالِح۪ينَ — yang mengabarkan penutup Kisah Nabi Yûsuf Alaihissalâm, kisah terbaik (ahsanul qashash) — adalah ini: kabar tentang kefanaan dan perpisahan di akhir kisah-kisah lain yang menyenangkan dan membahagiakan, kepedihan dan deritanya, memahitkan dan mematahkan kelezatan khayali yang diambil dari kisah itu. Terlebih tatkala mengabarkan bahwa seseorang berada dalam puncak kesenangan dan kebahagiaan, mengabarkan kematian dan perpisahannya lebih pedih lagi; membuat pendengar berkata "Aduh!". Padahal ayat ini, pada bagian paling cemerlang dari Kisah Nabi Yûsuf Alaihissalâm — yaitu ketika ia menjadi Aziz Mesir, berjumpa dengan ayah dan ibunya, saling mencintai dan mengenal dengan saudara-saudaranya, di saat paling membahagiakan dan menyenangkan di dunia — mengabarkan kematian Nabi Yûsuf dengan cara demikian, dan berkata: untuk meraih keadaan yang lebih membahagiakan dan lebih cemerlang daripada keadaan menyenangkan dan membahagiakan ini, Nabi Yûsuf sendiri memohon kepada Allah kematiannya, lalu ia wafat; ia meraih kebahagiaan itu. Artinya, di balik kubur terdapat kebahagiaan yang lebih memikat dan keadaan yang lebih menyenangkan daripada kebahagiaan lezat duniawi itu; sehingga seorang yang memandang hakikat seperti Nabi Yûsuf Alaihissalâm, di tengah keadaan duniawi yang amat lezat itu, memohon kematian yang amat pahit, agar meraih kebahagiaan yang lain itu.

Maka lihatlah balaghah Al-Qur'an al-Hakîm ini, dengan cara apa ia mengabarkan penutup Kisah Nabi Yûsuf. Dalam kabar itu, ia menambahkan bagi para pendengar bukan derita dan penyesalan, melainkan kabar gembira dan kesukaan. Ia pun membimbing: bekerjalah untuk di balik kubur, kebahagiaan dan kelezatan hakiki ada di sana. Ia pun menunjukkan kesiddikan luhur Nabi Yûsuf, dan berkata: keadaan dunia yang paling cemerlang dan paling penuh suka pun tak memberinya kelalaian, tak memikatnya; ia tetap menginginkan akhirat. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى

Said Nursî