Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 513
Allah, dari kesempurnaan rahmat-Nya, sebagai suatu wujud perlindungan bagi keabadian syariat Islam, pada setiap masa kerusakan umat telah mengirim tokoh-tokoh yang diberkahi berkedudukan sebagai seorang muslih (pembaru), atau seorang mujaddid, atau seorang khalifah termasyhur, atau seorang qutub agung, atau seorang mursyid sempurna, atau semacam Mahdi; menghilangkan kerusakan, memperbaiki umat, dan memelihara agama Ahmadi صلى الله عليه وسلم. Selama kebiasaan-Nya berjalan demikian, pada masa kerusakan terbesar akhir zaman; tentu Ia akan mengirim seorang tokoh bercahaya sebagai seorang mujtahid terbesar, sekaligus mujaddid terbesar, sekaligus hakim, sekaligus mahdi, sekaligus mursyid, sekaligus qutub agung, dan tokoh itu akan berasal dari Ahlul Bait Nabawi. Sebagaimana Allah dalam sekejap memenuhi alam antara langit dan bumi dengan awan lalu mengosongkannya, dalam sedetik meredakan badai lautan, dan dalam sejam di musim semi menciptakan contoh musim panas serta dalam sejam di musim panas menciptakan badai musim dingin; Sang Qadîr Dzul-Jalâl dapat pula membubarkan kegelapan Alam Islam dengan Mahdi. Dan Ia telah berjanji, dan tentu Ia akan menepati janji-Nya. Dipandang dari sisi kudrat Ilahi, ia amat mudah. Jika dipikirkan dari sisi lingkup sebab dan hikmah rabbani, ia pun demikian masuk akal dan layak terjadi sehingga; sekalipun tak ada riwayat dari Sang Muhbir Shâdiq (Pemberi Kabar yang Benar) صلى الله عليه وسلم, ahli pikir tetap memutuskan bahwa "bagaimanapun mestinya demikian dan akan terjadi". Yakni: Falillâhil-hamd, doa اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰٓى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى اِبْرَاه۪يمَ وَ عَلٰٓى اٰلِ اِبْرَاه۪يمَ فِى الْعَالَم۪ينَ اِنَّكَ حَم۪يدٌ مَج۪يدٌ — doa yang diulang seluruh umat dalam setiap salat, lima kali sehari ini — dengan penyaksian telah dikabulkan sehingga; Keluarga Muhammad صلى الله عليه وسلم, seperti Keluarga Ibrahim Alaihissalâm, telah mengambil suatu kedudukan sedemikian sehingga; di barisan depan seluruh silsilah yang diberkahi, di titik-titik pertemuan seluruh penjuru dan masa, tokoh-tokoh bercahaya itu memimpin.
{(Catatan kaki): Bahkan salah satu dari mereka, Sayyid Ahmad as-Sanusi, memimpin jutaan murid. Tokoh lain seperti Sayyid Idris memimpin lebih dari seratus ribu Muslim. Sayyid lain seperti Sayyid Yahya memimpin ratusan ribu orang, dan seterusnya. Sebagaimana pada anggota kabilah para sayyid ini banyak pahlawan lahiriah semacam itu; ada pula pahlawan dari para pahlawan maknawi seperti Sayyid Abdul Qâdir al-Jailânî, Sayyid Abul Hasan asy-Syâdzilî, dan Sayyid Ahmad al-Badawi.}
Dan mereka berada dalam jumlah yang demikian banyak sehingga; keseluruhan para pemimpin itu membentuk suatu pasukan yang mahabesar. Jika mereka mengambil bentuk material dan mengambil kedudukan sebuah divisi dengan suatu solidaritas, lalu menjadikan agama Islam sebagai kebangsaan suci dalam bentuk ikatan kesepakatan dan kesadaran, maka tak ada tentara bangsa mana pun yang dapat bertahan menghadapi mereka! Maka pasukan yang amat banyak dan berdaya itu adalah Keluarga Muhammad صلى الله عليه وسلم, dan ia adalah pasukan paling khusus Hazrat Mahdi.
Ya, hari ini di sejarah dunia tak ada satu keturunan pun yang bersambung satu sama lain dengan pohon nasab, sanad, dan tradisi, serta istimewa dengan kemuliaan tertinggi, keturunan luhur, dan nasab mulia, sekuat dan sepenting keturunan para sayyid yang berasal dari Ahlul Bait. Sejak zaman dahulu, di barisan depan seluruh golongan ahli hakikat adalah mereka, dan para pemimpin termasyhur ahli kesempurnaan pun mereka. Kini pun, ia adalah suatu keturunan diberkahi yang jumlahnya melampaui jutaan. Mereka tersadar, berkalbu penuh iman, penuh cinta Nabi, dan berbangga dengan kemuliaan penisbatan yang bernilai dunia. Peristiwa-peristiwa besar yang akan membangkitkan dan menggugah kekuatan suci di dalam jamaah yang mahabesar semacam ini sedang bermunculan. Tentu suatu semangat luhur pada kekuatan besar itu akan bergolak, dan Hazrat Mahdi akan mengetuai, menggiring ke jalan hak dan hakikat. Bahwa ia demikian dan mestinya demikian; kami harapkan dari âdatullah dan rahmat Ilahi, seperti datangnya musim semi setelah musim dingin ini, dan kami benar dalam mengharapkannya.