Jawaban
Al-Maktubat · hlm. 515
Said Lama dan bagian para pemikir, sebagian menerima dustur-dustur filsafat manusia dan hikmah Eropa, lalu bertarung dengan mereka menggunakan senjata mereka; sampai derajat tertentu mereka menerima mereka. Sebagian dustur mereka, mereka serahkan tanpa goyah dalam rupa sains positif, dengan cara itu mereka tak dapat menunjukkan nilai hakiki Islam. Seakan mereka mencangkokkan Islam dengan cabang-cabang hikmah yang mereka sangka berakar amat dalam, konon menguatkannya. Karena dengan cara ini kemenangan sedikit, dan karena ia sampai derajat tertentu menurunkan nilai Islam, aku tinggalkan jalan itu. Dan aku tunjukkan secara nyata bahwa: asas-asas Islam demikian dalam sehingga; asas terdalam filsafat pun tak dapat menyusulnya, bahkan tinggal di permukaan. Kelimat Ketiga Puluh, Surat Kedua Puluh Empat, dan Kelimat Kedua Puluh Sembilan telah membuktikan dan menunjukkan hakikat ini dengan dalil-dalilnya. Dalam jalan lama, dengan menyangka filsafat itu dalam dan memandang hukum Islam sebagai lahiriah, disangka hukum Islam dapat ditegakkan dan dipelihara dengan mengikatnya pada cabang-cabang filsafat. Padahal apa nilai dustur-dustur filsafat sehingga dapat menyusulnya?
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذ۪ى هَدٰينَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلاَ اَنْ هَدٰينَا اللّٰهُ لَقَدْ جَٓاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّاَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰٓى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاه۪يمَ وَ عَلٰٓى اٰلِ اِبْرَاه۪يمَ فِى الْعَالَم۪ينَ اِنَّكَ حَم۪يدٌ مَج۪يدٌ