Kata Kesebelas
Al-Maktubat · hlm. 267
وَ اِلَيْهِ الْمَص۪يرُ Yakni: Manusia yang diutus ke dunia — negeri ujian ini — dengan tugas-tugas penting untuk berniaga dan mengemban jabatan; setelah menjalankan perniagaan mereka, menyelesaikan tugas mereka, dan merampungkan pengabdian mereka, akan kembali kepada Sang Khâliq Dzul-Jalâl yang mengutus mereka, dan berjumpa dengan Maulâ mereka Yang Mahamulia. Yakni, mereka pergi dari negeri fana ini lalu di negeri kekal dimuliakan dengan berada di hadirat kebesaran-Nya. Yakni, mereka terbebas dari hiruk-pikuk sebab-sebab dan dari tabir-tabir gelap perantara, lalu berjumpa tanpa tabir dengan Rabb mereka Yang Rahîm di singgasana kesultanan-Nya yang abadi. Secara langsung setiap orang akan mengetahui dan menemukan siapa Khâliq, Ma'bûd, Rabb, Sayyid, dan Mâliknya sendiri. Nah, kata ini memberi kabar gembira — di atas seluruh kabar gembira — demikian. Dan katanya:
Wahai manusia! Tahukah engkau ke mana engkau pergi dan ke mana engkau digiring? Sebagaimana dikatakan pada akhir Kelimat Ketiga Puluh Dua: Engkau tengah menuju lingkup rahmat dan martabat kehadiran Sang Jamîl Dzul-Jalâl — yang seribu tahun kehidupan dunia yang penuh bahagia tak sebanding dengan satu jam kehidupan surga-Nya, dan yang seribu tahun kehidupan surga itu pun tak sebanding dengan satu jam memandang keindahan-Nya. Keindahan dan kecantikan pada kekasih-kekasih majazi yang kalian tergila-gila, terpesona, dan merindukannya, serta pada seluruh makhluk duniawi, hanyalah semacam bayangan dari kilau keindahan-Nya dan keindahan asma-Nya; dan seluruh surga dengan segala kehalusannya hanyalah satu kilau rahmat-Nya; dan seluruh kerinduan, kecintaan, ketertarikan, serta daya pikat hanyalah satu kilau kecintaan-Nya. Kalian tengah menuju lingkup kehadiran Sang Ma'bûd yang tak pernah lenyap, Sang Kekasih yang tak pernah sirna, dan kalian tengah dipanggil ke surga yang merupakan tempat perjamuan abadi-Nya. Kalau begitu, masukilah pintu kubur bukan dengan menangis, melainkan dengan tersenyum.
Kata ini juga memberi kabar gembira demikian, katanya: Wahai manusia! Janganlah kalian menyangka dan mengira bahwa kalian tengah pergi menuju kefanaan, ketiadaan, kehampaan, kegelapan, kelupaan, pembusukan, penceraiberaian, dan tenggelam dalam kemajemukan! Kalian pergi bukan menuju kefanaan, melainkan menuju kekekalan. Kalian digiring bukan menuju ketiadaan, melainkan menuju wujud yang langgeng. Kalian masuk bukan ke dalam kegelapan, melainkan ke dalam alam cahaya. Kalian pergi ke sisi Pemilik dan Penguasa Yang Hakiki, dan kalian kembali ke ibu kota kerajaan Sang Sultan Azali. Kalian akan bernapas bukan dalam tenggelamnya kemajemukan, melainkan dalam lingkup keesaan. Kalian menghadap bukan ke perpisahan, melainkan ke perjumpaan (wishâl).
--