Kedua
Al-Maktubat · hlm. 202
Kâhin Syam yang masyhur, Sathîh, yaitu seorang kâhin bertubuh tanpa tulang, nyaris tanpa anggota badan, sebuah keajaiban penciptaan yang wajahnya berada di dalam dadanya, dan yang berumur sangat panjang. Kabar-kabar benar yang ia sampaikan dari perkara gaib termasyhur di kalangan manusia pada masa itu. Bahkan Kisrâ (yakni raja Persia) mengutus seorang cerdik pandai bernama Muyzan sebagai duta untuk menanyakan kepada Sathîh perihal mimpi ajaib yang dilihatnya dan rahasia runtuhnya empat belas menara istana pada masa kelahiran Ahmad صلى الله عليه وسلم. Sathîh mengirim kabar kepada Kisrâ yang maknanya, "Empat belas orang akan memerintah pada kalian, kemudian kerajaan kalian akan musnah. Dan lagi seseorang akan datang, memaklumkan sebuah agama. Nah, ia akan melenyapkan agama dan negara kalian!" Nah, Sathîh itu, dengan cara yang jelas, telah mengabarkan kedatangan nabi akhir zaman.
Dan lagi, di antara para kâhin, kâhin-kâhin masyhur seperti Sawâd ibn Qârib ad-Dausî, Hunâfir, Af'asiyah Najrân, Jizl ibn Jizl al-Kindî, Ibn Khalashah ad-Dausî, dan Fâthimah binti Nu'mân an-Najjâriyah — sebagaimana yang mereka jelaskan secara terperinci dalam kitab-kitab sirah dan sejarah — telah mengabarkan akan datangnya nabi akhir zaman, dan bahwa nabi itu adalah Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Dan lagi, Sa'd ibn Bint Kuraiz, dari kerabat Utsman, melalui perantaraan kekâhinan telah menerima kabar gaib tentang kenabian Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Pada permulaan Islam ia berkata kepada Utsman Dzun-Nûrain: "Pergilah engkau, berimanlah." Utsman datang pada permulaan, lalu beriman. Nah, Sa'd itu menuturkan peristiwa itu dengan sebuah syair demikian: هَدَى اللّٰهُ عُثْمَانًا بِقَوْل۪ى اِلَى الَّت۪ى بِهَا رُشْدُهُ وَ اللّٰهُ يَهْدِى اِلَى الْحَقِّ
Dan lagi, sebagaimana para kâhin; jin-jin yang disebut "hâtif" — yang sosoknya tak terlihat namun suaranya terdengar — telah berulang kali mengabarkan akan datangnya Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Di antaranya:
Kepada Zayyâb ibn al-Hârits, seorang hâtif dari jin berseru demikian, yang menjadi sebab keislaman dirinya dan orang lain: يَا ذَيَابُ يَا ذَيَابُ اِسْمَعِ الْعَجَبَ الْعُجَابَ بُعِثَ مُحَمَّدٌ بِالْكِتَابِ يَدْعُو بِمَكَّةَ فَلاَ يُجَابُ
Kembali, seorang hâtif dari jin berseru demikian kepada Sâmi'ah ibn Qarrah al-Ghathafânî, yang membawa sebagian orang kepada iman: جَاءَ الْحَقُّ فَسَطَعَ وَ دُمِّرَ بَاطِلٌ فَانْقَمَعَ Kabar-kabar gembira dan pemberitaan para hâtif ini teramat masyhur dan banyak.
Dan lagi, sebagaimana para kâhin dan para hâtif telah mengabarkan; demikian pula berhala-berhala, bahkan kurban-kurban yang disembelih untuk berhala, telah mengabarkan risalah Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Di antaranya:
Termasuk kisah masyhur bahwa: berhala Kabilah Mâzin berseru dan berkata: هٰذَا النَّبِىُّ الْمُرْسَلُ جَٓاءَ بِالْحَقِّ الْمُنْزَلِ demikianlah ia mengabarkan risalah Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم.
Dan lagi, peristiwa masyhur yang menjadi sebab keislaman Abbas ibn Mirdâs adalah demikian: ia memiliki sebuah berhala bernama Dhimâr; berhala itu pada suatu hari mengeluarkan suara demikian: اَوْدٰى ضِمَارُ وَكَانَ يُعْبَدُ مُدَّةً قَبْلَ الْبَيَانِ مِنَ النَّبِىِّ مُحَمَّدٍ
Yakni: "Sebelum Muhammad datang, aku disembah; kini penjelasan Muhammad telah datang; maka kesesatan itu tidak boleh ada lagi."
Umar, sebelum Islam, mendengar demikian dari seekor kurban yang disembelih untuk berhala: يَا اٰلَ الذَّب۪يحِ اَمْرٌ نَج۪يحٌ رَجُلٌ فَص۪يحٌ يَقُولُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ
Nah, banyak peristiwa seperti contoh-contoh ini, yang telah diterima dan dinukil oleh kitab-kitab yang tepercaya.
Sebagaimana para kâhin, para 'ârif billâh, para hâtif, bahkan berhala-berhala dan kurban-kurban, telah mengabarkan risalah Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم; setiap peristiwa itu pun menjadi sebab keimanan sebagian manusia. Demikian pula, di atas sebagian batu, di kuburan-kuburan, dan pada batu-batu nisan kuburan, telah ditemukan tulisan dengan khat kuno seperti مُحَمَّدٌ مُصْلِحٌ اَم۪ينٌ; dengannya sebagian manusia beriman. Ya, مُحَمَّدٌ مُصْلِحٌ اَم۪ينٌ yang ditemukan dengan khat kuno pada sebagian batu, tidak lain menunjuk kepada Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Karena sebelumnya, hingga masa yang amat dekat dengan zamannya, hanya ada tujuh nama Muhammad, tidak ada yang lain. Ketujuh orang itu sama sekali tidak layak menyandang sebutan "Mushlih-i Amîn (Pembaru yang Terpercaya)".