Masalah Kelima (Risalah Kelima)
Al-Maktubat · hlm. 583
Ia menafsirkan dengan cara yang amat luhur, manis, masuk akal, dan diterima rahasia bahwa Al-Qur'an al-Mu'jiz al-Bayân berulang kali اَفَلاَ يَشْكُرُونَ ❊ اَفَلاَ يَشْكُرُونَ dan mengancam orang-orang yang tak bersyukur tiga puluh satu kali dengan firman فَبِاَىِّ اٰلآَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ; ia membuktikan bahwa manusia adalah suatu pabrik syukur. Ia membuktikan dengan cara yang amat indah dan pasti bahwa alam semesta adalah suatu perbendaharaan nikmat; dan syukur adalah kuncinya; dan rezeki adalah hasilnya serta pengantar bagi syukur.
Ia menjelaskan hakikat cemerlang dan tinggi dari syukur mutlak (şükr-ü mutlak) yang merupakan rukun keempat dalam dustur hakikat: "Dalam jalan ketakberdayaan (acz-mendî), diperlukan empat hal: ketakberdayaan mutlak, kefakiran mutlak, kerinduan mutlak, dan syukur mutlak, wahai yang mulia!"