Risale-i NurAl-Maktubat

Mukadimah

Al-Maktubat · hlm. 126

Contoh-contoh mukjizat penuh berkah yang akan datang berikut ini, masing-masing telah dinukilkan secara sahih melalui banyak jalur, bahkan sebagiannya melalui enam belas jalur. Kebanyakannya terjadi di hadapan jemaah yang besar; di dalam jemaah itu terdapat orang-orang terpercaya lagi jujur yang menuturkan serta menukilkannya. Misalnya, dituturkan: "Dari makanan sebanyak empat genggam yang disebut satu sha', tujuh puluh orang telah makan dan menjadi kenyang." Tujuh puluh orang itu mendengar ucapannya, namun tidak mendustakannya. Berarti mereka membenarkannya dengan diam. Padahal, pada masa kejujuran dan hakikat itu, para sahabat yang merupakan orang-orang pemuja kebenaran, serius, lagi lurus itu, seandainya melihat dusta sekecil zarah pun, niscaya mereka menolak dan mendustakannya. Padahal peristiwa-peristiwa yang akan kami bahas telah diriwayatkan oleh banyak orang, sementara yang lainnya membenarkannya dengan diam. Berarti setiap peristiwa secara maknawi bersifat pasti sebagaimana hadis mutawatir.

Selain itu, Tarikh dan Sirah menjadi saksi bahwa para sahabat, setelah menghafal Al-Qur'an dan ayat-ayatnya, dengan segenap kekuatan mereka berusaha keras menjaga perbuatan dan perkataan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم — terutama keadaan-keadaan beliau yang berkaitan dengan hukum-hukum dan mukjizat — serta sangat memperhatikan kesahihannya. Mereka tidak melalaikan satu pun gerak-gerik, satu sirah, ataupun satu keadaan yang berkaitan dengan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Dan kitab-kitab hadis menjadi saksi bahwa mereka tidak melalaikannya serta telah mencatatnya. Selain itu, pada Masa Kebahagiaan, banyak orang mencatat dan menuliskan mukjizat serta hadis-hadis yang menjadi sumber hukum dengan tulisan. Khususnya Abâdilah as-Sab'ah (tujuh Abdullah) mencatatnya dengan tulisan. Khususnya Abdullah bin Abbas — Sang Penafsir Al-Qur'an — dan Abdullah bin Amr bin al-Âsh; teristimewa tiga puluh hingga empat puluh tahun sesudahnya, ribuan ahli tahqiq dari kalangan Tabiin mencatat hadis dan mukjizat dengan tulisan. Sesudah itu pula, dipelopori oleh empat imam mujtahid serta ribuan ahli hadis yang menyelidiki, mereka menukilkan dan menjaganya dengan tulisan. Kemudian dua ratus tahun sesudah Hijrah, dipelopori oleh Bukhârî, Muslim, dan Kutubus Sittah yang diterima, mereka memikul tugas penjagaan itu di atas bahu mereka. Muncullah ribuan kritikus yang tajam seperti Ibnu Jauzî; mereka memilah dan menunjukkan hadis-hadis palsu yang dicampuradukkan oleh sebagian kaum mulhid, atau orang yang tak berpikir, atau yang tak kuat hafalannya, atau orang-orang bodoh. Kemudian, dengan pembenaran para ahli kasyaf, para ulama besar dan ahli tahqiq seperti Jalaluddin as-Suyûthî — yang telah dimuliakan dengan bertemu Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم dalam keadaan terjaga sebanyak tujuh puluh kali, tatkala beliau menjelma — memilah intan-intan hadis sahih dari perkataan-perkataan lain dan dari yang palsu. Demikianlah peristiwa-peristiwa dan mukjizat yang akan kami bahas ini telah sampai kepada kita dengan kokoh, dari tangan ke tangan — dari tangan-tangan yang kuat, terpercaya, banyak, bahkan tak terhingga. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبّ۪ى

Maka berdasarkan hal ini, tidak sepatutnya terlintas dalam benak: "Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa peristiwa-peristiwa yang datang dari jarak yang jauh, dari zaman itu hingga zaman ini, tidak tercampur-baur dan tetap murni?"