Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Pertama

Al-Maktubat · hlm. 338

Karena Allah ada, segala sesuatu ada. Karena ada pertautan dengan Zat Wâjib al-Wujûd, segala sesuatu ada bagi setiap sesuatu. Karena dengan dinisbatkan kepada Wâjib al-Wujûd, setiap makhluk memperoleh suatu keterikatan dengan seluruh makhluk melalui rahasia kesatuan. Artinya, setiap makhluk yang mengetahui pertautannya kepada Wâjib al-Wujûd, atau yang pertautannya diketahui, dengan rahasia kesatuan menjadi berhubungan dengan seluruh makhluk yang dinisbatkan kepada Wâjib al-Wujûd. Artinya, setiap sesuatu, pada titik pertautan itu, dapat meraih cahaya-cahaya wujud yang tak terhingga. Perpisahan dan kefanaan tak ada pada titik itu. Hidup satu saat yang mengalir menjadi sumber cahaya-cahaya wujud yang tak terhingga.

Jika pertautan itu tak ada dan tak diketahui, ia meraih perpisahan, kefanaan, dan ketiadaan yang tak terhingga. Karena dalam keadaan itu, terhadap setiap makhluk yang mungkin ia hubungi, ada suatu perpisahan, suatu keterceraian, dan suatu kefanaan. Artinya, ketiadaan dan perpisahan yang tak terhingga dibebankan pada wujud pribadinya. Sekalipun ia tinggal dalam wujud sejuta tahun (tanpa pertautan), itu tak dapat menyamai hidup satu saat pada titik pertautan tadi. Karena itu ahli hakikat berkata: "Wujud bercahaya sesaat yang mengalir lebih unggul daripada wujud terpotong sejuta tahun." Yakni: "Wujud sesaat dengan dinisbatkan kepada Wujud Wâjib lebih unggul daripada wujud sejuta tahun tanpa nisbat." Dan demi rahasia inilah ahli tahkik berkata: "Cahaya-cahaya wujud adalah dengan mengenal Wâjib al-Wujûd." Yakni: "Dalam keadaan itu, alam semesta tampak penuh dengan malaikat, ruhaniah, dan yang berkesadaran di dalam cahaya-cahaya wujud. Jika tanpa itu, kegelapan-kegelapan ketiadaan serta derita perpisahan dan kefanaan meliputi setiap makhluk. Dunia, dalam pandangan orang itu, tampak sebagai suatu rimba kengerian yang kosong dan hampa."

Ya, sebagaimana setiap buah dari sebuah pohon memiliki suatu nisbat terhadap seluruh buah di puncak pohon, dan karena dengan nisbat itu ada saudara dan kawan sebanyak buah-buah itu, maka ia memiliki wujud-wujud tambahan sebanyak jumlah mereka. Kapan pun buah itu dipetik dari puncak pohon, terjadilah perpisahan dan kefanaan terhadap setiap buah. Setiap buah menjadi seolah tiada baginya. Suatu kegelapan ketiadaan lahiriah terjadi padanya. Demikian pula: pada titik pertautan kepada kudrat Sang Ahad ash-Shamad, segala sesuatu ada bagi setiap sesuatu. Jika pertautan tak ada, ada ketiadaan lahiriah sebanyak jumlah segala sesuatu bagi setiap sesuatu.

Maka dari rumus ini, pandanglah keagungan cahaya-cahaya iman dan lihatlah kegelapan dahsyat kesesatan. Artinya, iman adalah gelar hakikat luhur yang nyata (nafsul-amr) yang diterangkan dalam rumus ini, dan dengan iman seseorang dapat memanfaatkannya. Jika tak ada iman, sebagaimana bagi orang buta, tuli, bisu, dan tak berakal segala sesuatu adalah tiada; demikian pula bagi orang tak beriman, segala sesuatu adalah tiada dan diliputi kegelapan.