Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Pertama

Al-Maktubat · hlm. 442

Kami merasakan banyak jenis isyarat gaib bahwa kami dipekerjakan dalam khidmat Qur'ani di bawah suatu tangan inayah, dan sebagiannya telah kami tunjukkan. Kini salah satu yang baru dari isyarat itu adalah: pada kebanyakan Kalimat ada kesesuaian gaib.

[Catatan kaki: Adapun kesesuaian adalah isyarat kepada kesepakatan; kesepakatan adalah tanda kepada persatuan, lambang kesatuan; kesatuan menunjukkan tauhid; dan tauhid adalah asas terbesar dari empat asas Al-Qur'an.]

Antara lain: pada kata "Rasul Termulia", pada ungkapan "Alaihissalâtu Wassalâm", dan pada lafal mulia "Al-Qur'an", ada suatu isyarat bahwa terwujud semacam manifestasi kemukjizatan. Betapa pun tersembunyi dan lemahnya isyarat gaib itu, karena ia menunjukkan diterimanya khidmat dan kebenaran persoalan, bagiku ia amat penting dan amat kuat. Ia pun menghancurkan kesombonganku dan menunjukkan kepadaku secara pasti bahwa aku semata seorang penerjemah. Ia pun tak menyisakan sesuatu yang menjadi sumber kebanggaan bagiku, hanya menunjukkan hal-hal yang menjadi sumber syukur. Lagi pula karena ia milik Al-Qur'an dan masuk ke hitungan kemukjizatan Al-Qur'an, dan secara pasti kehendak parsial kami tak terlibat, dan ia mendorong mereka yang malas dalam khidmat, dan memberi keyakinan bahwa risalah itu benar, dan ia semacam kemuliaan Ilahi bagi kami, dan menampakkannya adalah penyebutan nikmat, dan ia membungkam para pembangkang yang akalnya turun ke matanya; tentu menampakkannya perlu, insya Allah tak merugikan.

Maka salah satu dari isyarat gaib ini adalah: Allah, dari kesempurnaan rahmat dan kemurahan-Nya, untuk mendorong dan menenteramkan kalbu kami yang sibuk berkhidmat kepada Al-Qur'an dan iman; dalam bentuk suatu kemuliaan rabbani dan ihsan Ilahi, sebagai tanda diterimanya khidmat kami dan isyarat gaib bahwa yang kami tulis benar, di seluruh risalah kami, terutama pada Risalah Mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم, Kemukjizatan Al-Qur'an, dan Jendela-Jendela, Ia mengaruniakan suatu kelembutan berupa kesesuaian gaib. Yakni, di satu halaman Ia membuat kata-kata semisal yang datang saling berhadapan. Dalam hal ini diberikan suatu isyarat gaib bahwa: "Ia ditata dengan suatu iradah gaib. Janganlah kalian mengandalkan ikhtiar dan kesadaran kalian. Tanpa pengetahuan ikhtiar kalian dan tanpa kesadaran kalian sampai, dibuat ukiran dan keteraturan yang luar biasa." Terutama pada Risalah Mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم, lafal "Rasul Termulia" dan lafal salawat berkedudukan sebagai suatu cermin, menunjukkan isyarat kesesuaian gaib itu dengan jelas. Dalam tulisan seorang penyalin baru lagi belum mahir, kecuali lima halaman, selebihnya lebih dari dua ratus salawat mulia saling sejajar berhadapan. Adapun kesesuaian ini; bukan pekerjaan kebetulan yang tak sadar — yang hanya dapat menjadi sebab satu-dua kesesuaian dalam sepuluh — dan bukan pula pemikiran seorang tak berdaya sepertiku yang tak mahir dalam seni, yang hanya memusatkan pandangan pada makna, yang menulis tiga puluh sampai empat puluh halaman dalam satu-dua jam dengan amat cepat, dan yang tak menulis sendiri melainkan mendiktekan.

Maka enam tahun kemudian, dengan bimbingan Al-Qur'an pula, dan dengan bimbingan yang datang dalam bentuk kesesuaian sembilan اِنَّا pada tafsir Isyârâtu'l-I'jâz, aku baru menyadarinya. Adapun para penyalin, tatkala mendengarnya dariku, tinggal dalam keheranan atas keheranan. Sebagaimana lafal "Rasul Termulia" dan lafal salawat berkedudukan sebagai cermin kecil dari salah satu jenis mukjizat Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم dalam Surat Kesembilan Belas; demikian pula, pada Kelimat Kedua Puluh Lima yang berupa kemukjizatan Al-Qur'an dan pada Isyarat Kedelapan Belas Surat Kesembilan Belas, lafal "Al-Qur'an" pun — menghadapi lapisan yang hanya mengandalkan matanya di antara empat puluh lapisan — bertajalli dalam bentuk kesesuaian gaib di seluruh risalah sebagai satu bagian dari empat puluh bagian mukjizat Qur'ani jenis itu, dan satu bagian dari empat puluh bagian bagian itu pun tampak di dalam lafal "Al-Qur'an". Yaitu:

Pada Kelimat Kedua Puluh Lima dan Isyarat Kedelapan Belas Surat Kesembilan Belas; lafal "Al-Qur'an" berulang seratus kali; amat jarang satu-dua kata tersisa di luar, selebihnya semuanya saling berhadapan. Maka misalnya: pada halaman empat puluh tiga Sinar Kedua ada tujuh lafal "Al-Qur'an", saling berhadapan. Dan pada halaman lima puluh enam, delapan saling berhadapan, hanya yang kesembilan tersisa di luar. Maka — kini di depan mata kita — pada halaman enam puluh sembilan, lima lafal "Al-Qur'an" saling berhadapan. Dan demikianlah... Pada seluruh halaman, lafal "Al-Qur'an" berulang saling berhadapan. Amat jarang, satu dari lima-enam tersisa di luar. Adapun kesesuaian lain — kini di depan mata kita — pada halaman tiga puluh tiga ada lima belas lafal اَمْ; empat belasnya saling berhadapan. Lagi pula di depan mata kita, pada halaman ini ada sembilan lafal "iman", saling berhadapan; hanya satu, karena jeda penyalin, sedikit menyimpang. Lagi pula pada halaman ini — di depan mata kita — ada dua "mahbûb" — satu di baris ketiga, satu di baris kelima belas — dengan keseimbangan sempurna saling berhadapan. Di antara keduanya tersusun empat "'asyk (cinta)", saling berhadapan. Kesesuaian gaib lain, bandingkanlah dengan ini. Penyalin siapa pun, dan baris serta halaman dalam bentuk apa pun, bagaimanapun kesesuaian gaib ini ada pada suatu derajat sedemikian sehingga tak menyisakan keraguan bahwa ia bukan pekerjaan kebetulan, bukan pula pemikiran penulis dan para penyalin. Namun pada sebagian tulisan tangan, kesesuaian lebih menonjol. Artinya, risalah ini memiliki suatu tulisan hakiki yang khusus. Sebagian tulisan tangan mendekati tulisan itu. Ajaibnya, ia lebih tampak bukan pada tulisan penyalin yang paling mahir, melainkan pada tulisan yang belum mahir. Dari sini dipahami bahwa; keahlian, keanggunan, dan keistimewaan dalam Kalimat yang merupakan semacam tafsir Al-Qur'an bukan milik siapa pun; melainkan pakaian uslub yang teratur, seimbang, dan indah yang layak bagi postur yang diberkahi hakikat Qur'ani yang teratur dan indah, tak dapat dipola dan dipotong dengan ikhtiar dan kesadaran siapa pun; melainkan wujud merekalah yang menghendaki demikian, dan suatu tangan gaib yang memotong, memola, dan mengenakan sesuai postur itu. Adapun kami, di dalamnya seorang penerjemah, seorang pelayan.