Pembahasan Pertama
Al-Maktubat · hlm. 36
اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَع۪يفًا Wahai diriku yang berputus asa karena buruknya bisikan-bisikan waswas! Terpanggilnya khayalan-khayalan dan terlintasnya andaian-andaian adalah semacam pantulan gambaran yang tak disengaja. Adapun pantulan (irtisam) itu, jika berasal dari kebaikan dan cahaya, maka hukum hakikat itu berpindah sampai derajat tertentu kepada bentuk dan gambarannya — sebagaimana cahaya matahari dan panasnya berpindah kepada bayangannya di dalam cermin. Namun jika berasal dari keburukan dan kepekatan, maka hukum serta sifat khas asalnya tidak berpindah kepada bentuknya dan tidak menjalar kepada gambarannya. Misalnya, gambaran sesuatu yang najis lagi menjijikkan di dalam cermin tidaklah najis, tidak pula menjijikkan; dan gambaran seekor ular tidaklah menggigit.
Maka berdasarkan rahasia ini, membayangkan kekufuran bukanlah kekufuran; mengkhayalkan cacian bukanlah cacian. Terlebih lagi apabila ia terjadi tanpa disengaja dan hanyalah lintasan yang bersifat andaian, maka sama sekali tidak berbahaya. Lagi pula, dalam mazhab Ahlus Sunnah wal Jamâ'ah — yang merupakan ahli haq — keburukan dan kekotoran sesuatu secara syar'i itu disebabkan oleh larangan Ilahi. Karena ia hanyalah lintasan andaian tanpa disengaja dan tanpa keridhaan, semata-mata suatu asosiasi khayali, maka larangan tidak berkaitan dengannya. Betapapun ia merupakan gambaran sesuatu yang buruk lagi kotor, ia tidak menjadi buruk dan tidak pula menjadi kotor.