Risale-i NurAl-Maktubat

Persoalan Pertama

Al-Maktubat · hlm. 380

Kedua: dalam suratmu engkau berkata: pada ungkapan dan tafsir رَبِّ الْعَالَم۪ينَ, mereka mengatakan "Delapan belas ribu alam". Engkau menanyakan hikmah bilangan itu.

Saudaraku, aku kini tak mengetahui hikmah bilangan itu; namun sedemikian kukatakan: kalimat-kalimat Al-Qur'an al-Hakîm tak terbatas pada satu makna, melainkan — karena ditujukan kepada seluruh lapisan jenis manusia — berkedudukan sebagai suatu makna menyeluruh yang mengandung satu makna bagi setiap lapisan. Makna-makna yang diterangkan berkedudukan sebagai partikular dari kaidah menyeluruh itu. Setiap mufasir, setiap arif, menyebutkan satu partikular dari yang menyeluruh itu. Entah bersandar pada penyingkapannya, dalilnya, atau mazhabnya, ia mengutamakan satu makna. Maka dalam hal ini pun, suatu golongan telah menyingkap suatu makna yang sesuai dengan bilangan itu.

Misalnya: dalam kalimat مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ ❊ بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لاَ يَبْغِيَانِ yang dizikirkan dan diulang dengan penting oleh ahli wilayah dalam wirid mereka; mulai dari lautan rububiyah dan lautan ubudiyah di lingkaran wujub dan lingkaran kemungkinan, hingga lautan dunia dan akhirat, hingga lautan alam gaib dan alam syahadah, hingga samudra di timur dan barat, utara dan selatan, hingga Laut Rum dan Laut Persia, hingga Laut Tengah, Laut Hitam, dan selatnya — yang darinya keluar ikan bernama marjan — hingga Laut Tengah, Laut Merah, dan Terusan Suez, hingga lautan air tawar dan asin, hingga lautan air tawar yang berpencar di bawah lapisan tanah beserta lautan asin yang menyatu di atasnya, hingga lautan tawar kecil yang disebut sungai besar seperti Nil, Tigris, dan Efrat beserta lautan asin besar tempat mereka bercampur — ada partikular-partikular dalam maknanya. Semua ini dapat dimaksudkan dan dituju, dan itulah makna hakiki dan majasinya. Maka seperti itu pula, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَم۪ينَ pun mencakup amat banyak hakikat. Ahli penyingkapan dan hakikat menerangkannya berbeda-beda sesuai penyingkapan mereka.

Aku pun memahaminya demikian: di langit ada ribuan alam. Sebagian bintang, masing-masing dapat menjadi satu alam. Di bumi pun setiap jenis makhluk adalah satu alam. Bahkan setiap manusia pun adalah suatu alam kecil. Adapun ungkapan رَبِّ الْعَالَم۪ينَ berarti: "Secara langsung, setiap alam diatur, ditarbiah, dan ditadbir dengan rububiyah Allah."

Ketiga: Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda: اِذَا اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ خَيْرًا اَبْصَرَهُمْ بِعُيُوبِ اَنْفُسِهِمْ Dalam Al-Qur'an al-Hakîm, Nabi Yûsuf Alaihissalâm berkata: وَمَٓا اُبَرِّئُ نَفْس۪ى اِنَّ النَّفْسَ َلاَمَّارَةٌ بِالسُّٓوءِ Ya, yang membanggakan dan mempercayai nafsunya, celaka. Yang melihat aib nafsunya, berbahagia. Jika demikian, engkau berbahagia. Namun kadang terjadi bahwa nafsu ammarah berubah menjadi lawwamah atau muthmainnah; tetapi ia menyerahkan senjata dan pirantinya kepada saraf. Adapun saraf dan urat menjalankan tugas itu hingga akhir usia. Meski nafsu ammarah telah lama mati, jejaknya tetap tampak. Ada banyak asfiya dan wali besar yang, sementara nafsu mereka muthmainnah, mengeluh dari nafsu ammarah. Sementara kalbu mereka amat selamat dan bercahaya, mereka meratap dari penyakit kalbu. Maka pada tokoh-tokoh ini, itu bukan nafsu ammarah, melainkan tugas nafsu ammarah yang diserahkan kepada saraf. Dan penyakit itu bukan penyakit kalbu, melainkan penyakit khayali. Insya Allah, saudaraku yang mulia, yang menyerangmu itu bukan nafsu dan penyakit kalbumu, melainkan — sebagaimana kami katakan — suatu keadaan yang berpindah ke saraf dari segi kemanusiaan demi kelangsungan mujahadah, dan yang menjadi sebab kemajuan yang tetap.