Persoalan Pertama (Risalah Pertama)
Al-Maktubat · hlm. 401
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ اِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ
Kedua: engkau kini meminta tabir sebuah mimpi lamamu, yang tabirnya telah keluar dan takwilnya telah tampak tiga hari setelah engkau berjumpa denganku tiga tahun lalu. Untuk sekarang, terhadap mimpi indah, diberkahi, dan penuh kabar gembira yang telah dilewati waktu dan telah menampakkan maknanya itu, tidakkah aku berhak berkata demikian: نَه شَبَمْ نَه شَبْ پَرَسْتَمْ مَنْ ❊ غُلاَمِ شَمْسَمْ اَزْ شَمْسْ م۪ى گُويَمْ خَبَرْ آنْ خَيَالاَتِى كِه دَامِ اَوْلِيَاسْتْ ❊ عَكْسِ مَهْرُويَانِ بُوسْتَانِ خُدَاسْتْ
Ya, saudaraku, kita telah terbiasa membahas pelajaran hakikat murni bersamamu. Karena membicarakan secara tahkik mimpi-mimpi yang pintunya terbuka terhadap khayalan tak sepenuhnya sesuai dengan jalan tahkik; maka dengan munasabah peristiwa tidur yang parsial itu, kami akan menerangkan enam nuktah hakikat secara ilmiah dan berdustur tentang tidur — yang merupakan saudara kecil kematian — dari segi yang diisyaratkan ayat-ayat Al-Qur'an. Pada yang ketujuh, akan diberikan tabir singkat bagi mimpimu.