Pertanyaan Pertama
Al-Maktubat · hlm. 381
Muhyiddin ibn Arabi berkata dalam suratnya kepada Fakhruddin ar-Razi: "Mengetahui Allah berbeda dengan mengetahui keberadaan-Nya." Apa maksudnya ini, apa tujuannya? engkau bertanya.
Pertama: pada Mukadimah Kelimat Kedua Puluh Dua yang engkau baca, misal dan perumpamaan tentang perbedaan tauhid hakiki dengan tauhid lahiriah mengisyaratkan maksudnya. Maqam Kedua dan Ketiga serta Maksud dari Kelimat Ketiga Puluh Dua menjelaskan maksud itu.
Dan kedua: karena penjelasan para imam usuluddin dan ulama ilmu kalam tentang akidah, tentang wujud Wâjib al-Wujûd, dan tentang tauhid Ilahi tak mencukupi dalam pandangan Muhyiddin ibn Arabi, ia berkata demikian kepada Fakhruddin ar-Razi, salah seorang imam ilmu kalam.
Ya, makrifat Ilahi yang diperoleh melalui ilmu kalam tak memberi makrifat yang sempurna dan kehadiran yang penuh. Tatkala ia dalam gaya Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya, ia memberi makrifat yang sempurna dan menghasilkan kehadiran yang paling penuh; yang insya Allah seluruh bagian Risalah Nur menjalankan khidmat bagai lampu listrik di jalan bercahaya Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya itu.
Sebagaimana makrifatullah yang diambil Fakhruddin ar-Razi melalui ilmu kalam tampak sedemikian cacat dalam pandangan Muhyiddin ibn Arabi; demikian pula makrifat yang diambil melalui jalan tasawuf pun sedemikian cacat dibandingkan makrifat yang diambil secara langsung dari Al-Qur'an al-Hakîm dengan rahasia pewarisan nubuwah. Karena jalan Muhyiddin ibn Arabi, untuk meraih kehadiran yang tetap, telah sampai hingga suatu bentuk yang mengingkari wujud alam semesta dengan berkata لاَ مَوْجُودَ اِلاَّ هُوَ. Dan yang lain, juga untuk meraih kehadiran yang tetap, memasuki suatu bentuk ajaib bagai menempatkan alam semesta di bawah pelupaan mutlak dengan berkata لاَ مَشْهُودَ اِلاَّ هُوَ. Adapun makrifat yang diambil dari Al-Qur'an al-Hakîm, di samping memberi kehadiran yang tetap, tak menjadikan alam semesta terhukum ketiadaan, tak pula memenjarakannya dalam pelupaan mutlak. Melainkan mengeluarkannya dari keliaran, lalu mempekerjakannya atas nama Allah. Segala sesuatu menjadi cermin makrifat. Sebagaimana dikatakan Sa'di asy-Syirazi: دَرْ نَظَرِ هُوشِيَارْ هَرْ وَرَق۪ى دَفْتَر۪يسْتْ اَزْ مَعْرِفَتِ كِرْدِگَارْ Ia membuka pada setiap sesuatu suatu jendela menuju makrifat Allah.
Pada sebagian Kalimat, tentang perbedaan antara jalan ulama ilmu kalam dan jalan hakiki yang diambil dari Al-Qur'an, telah kami sebutkan suatu perumpamaan sedemikian; misalnya: untuk mendatangkan air, sebagian menggali dari tempat yang jauh, di bawah gunung, dengan pipa (saluran air), lalu mendatangkan air. Sebagian lagi menggali sumur di setiap tempat, lalu mengeluarkan air. Bagian pertama amat menyusahkan; ia tersumbat, terputus. Namun sebagaimana mereka yang mahir menggali sumur di setiap tempat dan mengeluarkan air menemukan air tanpa susah di mana saja.. persis demikian pula: ulama ilmu kalam memutus rangkaian sebab di ujung alam dengan kemustahilan tasalsul dan daur, lalu dengannya membuktikan wujud Wâjib al-Wujûd. Ditempuh jalan yang panjang. Adapun jalan hakiki Al-Qur'an al-Hakîm menemukan air di setiap tempat, mengeluarkannya. Setiap ayatnya, bagai tongkat Musa, ke mana pun ia dipukulkan, memancarkan air kehidupan. Ia membuat setiap sesuatu membaca dustur وَ ف۪ى كُلِّ شَيْءٍ لَهُ اٰيَةٌ تَدُلُّ عَلٰى اَنَّهُ وَاحِدٌ.
Lagi pula iman bukan hanya dengan ilmu, dalam iman ada bagian bagi banyak latifah. Sebagaimana suatu makanan jika masuk ke lambung, makanan itu terbagi dan terdistribusi ke berbagai saraf dengan cara yang berbeda-beda. Persoalan iman yang datang dengan ilmu pun, setelah masuk ke lambung akal, sesuai derajatnya ruh, kalbu, sirr, nafsu, dan demikianlah latifah-latifah masing-masing mengambil bagiannya dan menyerapnya. Jika mereka tak memperoleh bagiannya, itu cacat. Maka Muhyiddin ibn Arabi memperingatkan titik ini kepada Fakhruddin ar-Razi.