Sebab Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 428
Aku berkata bukan dalam bentuk tawaduk tentang Kalimat; melainkan untuk menerangkan suatu hakikat kukatakan: hakikat dan kesempurnaan dalam Kalimat bukan milikku, melainkan milik Al-Qur'an, dan menetes dari Al-Qur'an. Bahkan Kelimat Kesepuluh adalah beberapa tetes yang disuling dari ratusan ayat Qur'ani. Risalah lain pun umumnya demikian. Karena aku mengetahui demikian, dan karena aku fana, akan pergi; tentu sesuatu dan suatu karya yang akan kekal tak semestinya diikat denganku dan tak boleh diikat. Dan karena ahli kesesatan dan pembangkangan, kebiasaan mereka merusak suatu karya yang tak sesuai kepentingan mereka dengan merusak pemilik karyanya; tentu risalah yang terikat dengan bintang-bintang langit Al-Qur'an tak semestinya diikat dengan tiang lapuk sepertiku yang dapat menjadi sumber banyak keberatan dan kritik serta dapat jatuh. Lagi pula karena dalam kebiasaan manusia, keutamaan dalam suatu karya dicari pada tabiat penulisnya yang mereka sangka sumber dan mata airnya, dan menurut kebiasaan ini, menisbatkan hakikat luhur dan permata berharga itu kepada seorang bangkrut sepertiku dan kepada pribadiku yang tak dapat menunjukkan sepersibu darinya pada dirinya, adalah suatu ketidakadilan besar terhadap hakikat; karena itu aku terpaksa menampakkan bahwa risalah itu bukan milikku, melainkan milik Al-Qur'an, dan bahwa mereka meraih tetesan keutamaan Al-Qur'an. Ya, kekhususan tandan anggur yang lezat tak dicari pada rantingnya yang kering. Maka aku pun berkedudukan sebagai ranting kering seperti itu.