Sebab Ketujuh
Al-Maktubat · hlm. 80
Sudah maklum bahwa tugas seorang pegawai adalah tidak memberi peluang kepada orang-orang yang membahayakan masyarakat, dan menolong orang-orang yang bermanfaat. Padahal pegawai yang mengawasiku itu, ketika aku sedang menjelaskan sebuah kelezatan halus dari iman yang terkandung dalam "Lâ ilâha illallâh" kepada seorang tua yang menjadi tamu dan telah sampai di ambang pintu kubur, — seolah hendak menangkapku dalam keadaan tertangkap basah melakukan kejahatan — padahal sudah lama ia tidak mendatangiku, saat itu justru datang menghampiriku seakan-akan aku sedang melakukan suatu pelanggaran. Ia pun menghalangi orang malang yang mendengarkan dengan penuh keikhlasan itu, dan membuatku pula naik amarah. Padahal di sini ada beberapa orang; ia tidak memberi perhatian kepada mereka. Kemudian ketika orang-orang itu berbuat kurang ajar dan bertindak dengan cara yang meracuni kehidupan sosial di desa, ia justru mulai bersikap ramah dan memuji mereka. Dan sudah maklum pula bahwa: seorang yang memiliki seratus kejahatan di dalam penjara, dapat sewaktu-waktu bertemu dengan mereka yang bertugas mengawasinya, baik perwira maupun prajurit. Padahal selama setahun ini, dua tokoh penting dari pemerintahan nasional — yang satu sebagai atasan dan yang lain sebagai petugas pengawas — berkali-kali melewati dekat kamarku, namun sama sekali tak pernah menemuiku dan tak pernah pula menanyakan keadaanku. Semula aku mengira mereka tidak mendekat karena permusuhan mereka. Kemudian ternyata, karena prasangka buruk mereka... Seolah-olah aku akan menelan mereka, begitulah mereka lari menjauh. Maka menganggap suatu pemerintahan yang unsur-unsur dan pegawai-pegawainya seperti orang-orang ini sebagai pemerintahan, mengakuinya sebagai tempat merujuk, lalu mengajukan permohonan kepadanya, bukanlah tindakan yang berakal, melainkan kehinaan yang sia-sia. Seandainya ini Said Lama, ia tentu akan berkata seperti Antarah: مَاءُ الْحَيَاةِ بِذِلَّةٍ كَجَهَنَّمَ ❊ وَ جَهَنَّمُ بِالْعِزِّ فَخْرُ مَنْزِل۪ى Said Lama telah tiada; adapun Said Baru memandang berbicara dengan ahli dunia sebagai perkara yang tak bermakna. Biarlah dunia mereka menimpa kepala mereka sendiri! Apa pun yang hendak mereka perbuat, perbuatlah! Kita akan diadili bersama mereka di Mahkamah Kubra, demikian ia berkata, lalu terdiam.