Risale-i NurAl-Maktubat

Simbol Ketujuh

Al-Maktubat · hlm. 539

Imam Ali Radhiyallâhu Anhu, sebagaimana dengan bait pertamanya وَ بِاْلاٰيَةِ الْكُبْرٰى اَمِنّ۪ى مِنَ الْفَجَتْ ❊ وَ بِحَقِّ فَقَجٍ مَعَ مَخْمَةٍ يَٓا اِلٰهَنَا ❊ وَ بِاَسْمَٓائِكَ الْحُسْنٰى اَجِرْن۪ى مِنَ الشَّتَتْ ❊ حُرُوفٌ لِبَهْرَامٍ عَلَتْ وَ تَشَامَخَتْ ❊ وَ اسْمُ عَصَا مُوسٰى بِهِ الظُّلْمَةُ انْجَلَتْ mengisyaratkan Sinar Ketujuh; demikian pula: dengan bait yang sama, ia mengisyaratkan pula Lem'a Arab Kedua Puluh Sembilan yang bernama suatu risalah tafakur luhur dan risalah makrifat tinggi tentang tauhid. Dengan bait keduanya, setelah mengisyaratkan Risalah Enam Nuktah Esma yang bernama Lem'a Ketiga Puluh — yang menerangkan dan membuktikan hakikat Esma Sittah masyhur (enam nama masyhur) yang disebut Ismul A'zham dan Sakinah dengan cara yang amat luhur serta mengikuti Lem'a Kedua Puluh Sembilan — dengan kalimat بِاَسْمَٓائِكَ الْحُسْنٰى اَجِرْن۪ى مِنَ الشَّتَتْ, tepat sesudahnya, sebagai Sinar Pertama dari Lem'a Ketiga Puluh Satu yang mengikuti Risalah Esma, dengan mencatat isyarat tiga puluh tiga ayat Al-Qur'an kepada Risalah Nur, dengan kaitan hitungan cifr, ia mengisyaratkan dengan kata حُرُوفٌ لِبَهْرَامٍ عَلَتْ وَ تَشَامَخَتْ kepada risalah yang dari ujung ke ujung tampak seperti Risalah Ilmu Huruf dan berkedudukan sebagai suatu mukjizat Qur'ani, lalu tepat sesudahnya dengan kalam وَ اسْمُ عَصَا مُوسٰى بِهِ الظُّلْمَةُ انْجَلَتْ, dengan memberi nama Asâ Musa (Tongkat Musa) kepada risalah terakhir Risalah Nur untuk saat ini — yang mengikuti Risalah Huruf, tersusun dari Al-Âyat al-Kubrâ dan Rasâil Nuriyah lain, menyandang nama Asâ Musa, dan bagai Asâ Musa membatalkan sihir kesesatan dan syirik — bersama isyarat itu, ia mengabarkan kabar gembira bahwa ia akan membubarkan kegelapan maknawi.

Ya, sebagaimana isyarat kata وَ بِاْلاٰيَةِ الْكُبْرٰى kepada Sinar Ketujuh telah dibuktikan dengan qarinah (petunjuk) yang kuat; kata yang sama, dengan makna lain, kalam ini — dengan kaidah "mustatba'âtut tarâkib" — memandang kepada Lem'a Kedua Puluh Sembilan yang berbahasa Arab, yang sungguh berkedudukan bagai Al-Âyat al-Kubrâ Risalah Nur dan menghimpun ruh kebanyakan risalah, serta memasukkannya ke dalam cakupannya. Kalau begitu; dapat kami katakan bahwa Imam Ali Radhiyallâhu Anhu pun memandang dan mengisyaratkannya dari bait ini.

Dan dengan qarinah isyarat-isyarat lain, dan dengan mengisyaratkan Lem'a-lem'a setelah Al-Maktubat dengan gaya ungkapan yang berbeda; penulisan Lem'a yang paling cemerlang — pada suatu masa yang dahsyat, untuk terselamatkan dari penjara dan eksekusi serta menemukan keamanan dan keselamatan — dengan makna majazi dan konsep isyari, Imam Ali Radhiyallâhu Anhu memakai lisannya sendiri atas nama penulis yang berada dalam bahaya besar; dengan berdoa وَ بِاْلاٰيَةِ الْكُبْرٰى اَمِنّ۪ى مِنَ الْفَجَتْ yakni "Ya Rabb! Selamatkan aku. Berilah keamanan dan keselamatan," dengan qarinah tawâfuq yang tepat pada keadaan Lem'a Kedua Puluh Sembilan dan pemiliknya — yang ditulis dalam bahaya eksekusi dan penjara panjang di penjara Eskişehir — karena kalam menunjukkan secara tersirat dan isyari, dapat kami katakan bahwa; Imam Ali Radhiyallâhu Anhu pun mengisyaratkannya dari sini.

Dan dengan memandang Risalah Esma yang bernama Lem'a Ketiga Puluh dan terdiri atas enam nuktah, ia berkata بِاَسْمَٓائِكَ الْحُسْنٰى, dengan qarinah isyarat-isyarat lain, dengan qarinah bahwa ia mengikuti Lem'a Kedua Puluh Sembilan, dengan qarinah tawâfuq keduanya pada nama dan pada lafaz esma, dan pada penulis yang jatuh ke dalam kekacauan keadaan, keterasingan yang menyesakkan, dan kekalutan — bahwa ia menemukan hiburan dan daya tahan dengan berkah penulisannya, dan dari sisi makna majazi, doa untuk dirinya dengan lisan Imam Ali Radhiyallâhu Anhu وَبِاَسْمَٓائِكَ الْحُسْنٰى اَجِرْن۪ى مِنَ الشَّتَتْ yakni "Dengan berkah Risalah Esma yang merupakan Ismul A'zham itu, peliharalah aku dari kekacauan dan kekalutan, ya Rabbi!" maknanya; dengan qarinah tawâfuq yang tepat pada keadaan risalah itu dan pemiliknya, kalam menunjukkan secara majazi, dan Imam Ali Radhiyallâhu Anhu, dapat kami katakan, mengisyaratkannya secara gaib.

Dan selama asal Celcelutiye adalah wahyu, penuh rahasia, memandang masa depan, dan mengabarkan hal-hal gaib masa depan. Dan selama, dari sisi Al-Qur'an, abad ini dahsyat, dan dengan hitungan Al-Qur'an, Risalah Nur adalah suatu peristiwa penting di abad yang gelap ini. Dan selama, dengan banyak qarinah dan tanda sampai derajat kejelasan; Risalah Nur telah masuk ke dalam Celcelutiye, tertempat di bagiannya yang terpenting. Dan selama Risalah Nur dan bagian-bagiannya layak akan kedudukan ini, serta memiliki kelayakan dan nilai untuk mendapat pandangan penghargaan dan pujian Imam Ali Radhiyallâhu Anhu serta pemberitaannya tentang mereka. Dan selama Imam Ali Radhiyallâhu Anhu, setelah mengabarkan Sirâjun Nûr secara jelas, pada tingkat kedua, dengan cara bertabir, memandang Kelimat-kelimat, lalu Al-Maktubat, lalu Lem'a-lem'a, di bawah tertib, maqam, dan nomor yang sama dalam risalah-risalah, dengan dorongan qarinah yang kuat kalam menunjukkan dan telah membuktikan bahwa Imam Ali Radhiyallâhu Anhu mengisyaratkannya. Dan selama di awal بَدَئْتُ بِبِسْمِ اللّٰهِ رُوح۪ى بِهِ اهْتَدَتْ ❊ اِلٰى كَشْفِ اَسْرَارٍ بِبَاطِنِهِ انْطَوَتْ memandang Risalah Bismillah yang merupakan awal risalah dan Kelimat Pertama; demikian pula tampak suatu gaya ungkapan bahwa di akhir Sumpah Agung yang Menyeluruh, ia memandang Lem'a-lem'a dan Sinar-sinar terakhir yang merupakan bagian akhir risalah-risalah; terutama Lem'a Arab Kedua Puluh Sembilan yang menakjubkan yang merupakan suatu ayat kubra tauhid, Risalah Esma Sittah, Risalah Isyarat Huruf Qur'ani, dan khususnya risalah menakjubkan yang untuk saat ini merupakan Sinar terakhir dan bagai Asâ Musa mampu membatalkan seluruh sihir maknawi kesesatan serta dalam satu makna menyandang nama Al-Âyat al-Kubrâ. Dan selama tanda dan qarinah yang ada pada satu persoalan, dari sisi kesatuan persoalan, saling memberi kekuatan, dan dengan hubungan yang lemah sekalipun suatu tetesan disambungkan ke sumbernya. Tentu, bersandar pada tujuh asas ini kami berkata:

Imam Ali Radhiyallâhu Anhu, sebagaimana mengisyaratkan Kelimat-kelimat yang masyhur menurut tertibnya dan memandang sebagian Al-Maktubat serta yang terpenting dari Lem'a-lem'a dengan tertib; demikian pula: dengan kalimat بِاَسْمَٓائِكَ الْحُسْنٰى اَجِرْن۪ى مِنَ الشَّتَتْ, ia memandang Lem'a Ketiga Puluh — yakni Risalah Esma Sittah yang merupakan Lem'a mandiri terakhir — dengan pujian. Dan dengan kalam حُرُوفٌ لِبَهْرَامٍ عَلَتْ وَ تَشَامَخَتْ, ia menghargai Risalah Isyarat Huruf Qur'ani yang mengikuti Lem'a Ketiga Puluh, membenarkannya dengan isyarat. Dan dengan kata وَ اسْمُ عَصَا مُوسٰى بِهِ الظُّلْمَةُ انْجَلَتْ, dengan gaya ungkapan yang seakan menunjukkan secara ramzi dan penuh pujian kumpulan risalah yang untuk saat ini merupakan risalah terakhir dan merupakan bukti terkuat yang menakjubkan bagai Asâ Musa di tangan tauhid dan iman; tanpa ragu kami hukumi bahwa: Imam Ali Radhiyallâhu Anhu mengabarkan — dengan makna hakiki dan majazi; secara isyari, ramzi, îmâî, dan telvîhî — baik tentang Risalah Nur maupun tentang risalah-risalahnya yang amat penting. Siapa yang memiliki keraguan, hendaklah ia sekali saja memandang dengan cermat risalah-risalah yang diisyaratkan itu. Jika ia memiliki keadilan, kurasa keraguannya tak akan tersisa.

Bagi makna isyari dan makna majazi di sini, qarinah yang paling indah dan halus adalah: hubungan nama-nama yang diberikan dengan memelihara tertib yang sama. Misalnya: pada tingkat penghitungan Kedua Puluh Sembilan, Ketiga Puluh, Ketiga Puluh Satu, dan Ketiga Puluh Dua, dengan nama-nama yang amat sesuai bagi Kelimat Kedua Puluh Sembilan, Ketiga Puluh, Ketiga Puluh Satu, dan Ketiga Puluh Dua; di awal, dengan rahasia Basmalah yang sama memandang Kelimat Pertama yang merupakan awal Kelimat-kelimat, dan di akhir, dengan memberi nama yang layak yang menunjukkan mahiyahnya kepada — untuk saat ini — akhir risalah-risalah, ia mengisyaratkan; meskipun tersembunyi, tetapi amat indah dan halus.

Aku mengakui bahwa: menjadi tempat penampakan suatu karya yang diterima seperti ini, sama sekali aku tak layak akan maqam itu. Tetapi menciptakan sebuah pohon sebesar gunung dari sebuah benih kecil yang tak berarti; adalah tuntutan kudrat Ilahi, kebiasaan-Nya, dan dalil keagungan-Nya. Aku menjamin dengan sumpah bahwa: maksudku memuji Risalah Nur adalah menegakkan, membuktikan, dan menyebarkan hakikat Al-Qur'an dan rukun iman. Seratus ribu syukur bagi Khâliq-ku Yang Maha Pengasih bahwa; Ia tak membuatku mengagumi diriku sendiri, telah memperlihatkan kepadaku cela dan cacat nafsuku, dan tak tersisa hasrat untuk membuat nafsu ammârah itu dikagumi orang lain. Seorang yang menanti di pintu kubur, lalu memandang dunia fana di belakangnya dengan riya, adalah suatu kebodohan yang patut dikasihani dan suatu kerugian yang dahsyat.

Maka dengan keadaan ruhani ini, aku akan menyebutkan suatu hubungan halus tentang benar dan haknya Risalah Nur yang hanya merupakan penerjemah hakikat imani. Yakni:

Celcelutiye, dalam bahasa Suryani berarti "badî'" dan bermakna badî' (indah, unik). Karena Risalah Nur yang ungkapannya badî' menempati kedudukan penting dalam Celcelutiye dan tetesannya tampak di kebanyakan tempatnya, nama kasidah itu diberikan seakan memandang kepadanya. Dan kini aku memahami bahwa gelar Bediuzzaman yang sejak dahulu diberikan kepadaku padahal aku tak layak, bukanlah milikku; melainkan ia adalah suatu nama maknawi Risalah Nur. Ia disematkan secara pinjaman dan amanah pada seorang penerjemah lahiriahnya. Kini nama amanah itu telah dikembalikan kepada pemilik hakikinya. Artinya, nama Celcelutiye yang diberikan pada kasidah — dalam makna badî' Suryani dan karena pengulangannya dalam kasidah — kuperkirakan secara isyari mengisyaratkan hubungannya dengan kebadî'an Risalah Nur — yang muncul di masa bidah sebagai badî'ul bayan dan badî'uz zaman — dari sisi ungkapan, makna, dan nama; dan bahwa nama ini sedikit memandang pula kepadanya; dan karena Risalah Nur menempati banyak tempat dalam yang dinamai nama ini, ia telah memperoleh hak. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَا