Risale-i NurAl-Maktubat

Surat Kedua Puluh Satu (Yirmibirinci Mektup)

Al-Maktubat · hlm. 304

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِاِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَٓا اَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَٓا اُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَر۪يمًا ❊ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَان۪ى صَغ۪يرًا ❊ رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا ف۪ى نُفُوسِكُمْ اِنْ تَكُونُوا صَالِح۪ينَ فَاِنَّهُ كَانَ لِـْلاَوَّاب۪ينَ غَفُورًا

Wahai engkau yang lalai, yang di rumahnya terdapat seorang ibu yang telah lanjut usia, atau seorang ayah, atau seseorang dari kalangan kerabatmu, atau dari saudara-saudara seimanmu — seseorang yang tak lagi mampu bekerja, atau yang lemah tak berdaya lagi sakit! Perhatikanlah ayat mulia ini, lihatlah baik-baik: Sebagaimana dalam satu ayat, lima lapisan dengan cara yang berlainan menggugah rasa kasih sayang kepada kedua orang tua yang telah lanjut usia. Ya, hakikat tertinggi di dunia ialah kasih sayang ayah dan ibu terhadap anak-anak mereka. Dan hak yang paling luhur pun ialah hak untuk dihormati sebagai balasan atas kasih sayang mereka itu. Karena mereka mengorbankan dan mencurahkan kehidupan mereka — dengan kenikmatan yang sempurna — demi kehidupan anak-anak mereka. Maka, kewajiban setiap anak yang kemanusiaannya belum runtuh dan belum berubah menjadi binatang buas ialah memberikan penghormatan yang ikhlas dan pelayanan yang setulus hati kepada sahabat-sahabat yang mulia, setia, lagi rela berkorban itu, serta meraih keridaan mereka dan menyenangkan hati mereka. Paman dan bibi dari pihak ayah berkedudukan sebagai ayah; bibi dan paman dari pihak ibu berkedudukan sebagai ibu.

Maka, betapa besar ketiadaan hati nurani dan betapa hina perbuatan menganggap berat keberadaan orang-orang tua yang diberkati itu serta mengharapkan kematian mereka; ketahuilah, sadarlah! Ya, pahamilah betapa buruknya kezaliman dan ketiadaan nurani, yaitu mengharapkan lenyapnya kehidupan orang yang telah mengorbankan hidupnya demi hidupmu!

Wahai manusia yang tertimpa derita penghidupan! Ketahuilah bahwa tiang keberkahan di rumahmu, sarana rahmat, dan penolak musibah ialah kerabatmu yang tua atau buta, yang keberadaannya kauanggap sebagai beban itu. Janganlah sekali-kali berkata: "Penghidupanku sempit, aku tak sanggup mengaturnya." Karena seandainya tiada keberkahan yang datang lantaran kehadiran mereka, niscaya kesempitan penghidupanmu akan jauh lebih parah lagi. Percayalah akan hakikat ini dariku. Aku mengetahui bukti-buktinya yang sungguh pasti, dan aku pun sanggup meyakinkanmu. Namun, agar tidak berkepanjangan, aku persingkat. Cukuplah engkau berpegang pada perkataanku ini. Aku bersumpah, hakikat ini sungguh pasti; bahkan nafsu dan setanku pun telah tunduk menyerah terhadapnya. Suatu hakikat yang telah mematahkan kebandelan nafsuku dan membungkam setanku, sudah selayaknya memberimu keyakinan.

Ya, dengan kesaksian alam semesta, Sang Khâliq Dzul-Jalâli Wal-Ikrâm — yang Rahmân, Rahîm, Latîf, dan Karîm hingga puncak derajat tak terhingga — tatkala mengirim anak-anak ke dunia, mengirimkan pula rezeki mereka dari belakang dengan cara yang teramat lembut, dan mengalirkannya ke mulut-mulut mereka melalui pancuran air susu; demikian pula rezeki orang-orang tua — yang berkedudukan laksana anak-anak, bahkan lebih layak dikasihani dan lebih membutuhkan kasih sayang daripada anak-anak — Dia kirimkan dalam rupa keberkahan. Dia tidak membebankan pemeliharaan mereka kepada manusia yang tamak lagi kikir. Hakikat yang diungkapkan oleh ayat-ayat اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَت۪ينُ ❊ وَكَاَيِّنْ مِنْ دَٓابَّةٍ لاَ تَحْمِلُ رِزْقَهَا اَللّٰهُ يَرْزُقُهَا وَاِيَّاكُمْ itu diserukan oleh seluruh ragam makhluk bernyawa dengan lisan keadaan, seraya menuturkan hakikat nan mulia lagi pemurah itu.

Bahkan bukan hanya kerabat yang lanjut usia, melainkan rezeki sebagian makhluk pun — seperti kucing, yang dijadikan teman bagi manusia dan rezekinya dikirim di dalam rezeki manusia — datang dalam rupa keberkahan. Sebuah contoh yang menguatkan hal ini, yang kusaksikan sendiri: Sahabat-sahabat dekatku mengetahui bahwa dua-tiga tahun yang lalu, setiap hari aku memiliki jatah tertentu berupa setengah roti — roti desa itu berukuran kecil — yang sering kali tidak mencukupi bagiku. Kemudian empat ekor kucing datang bertamu kepadaku. Jatah yang sama itu ternyata mencukupi, baik bagiku maupun bagi mereka. Bahkan tak jarang masih tersisa. Keadaan ini berulang sedemikian rupa hingga menumbuhkan keyakinan dalam diriku bahwa aku memperoleh manfaat dari keberkahan kucing-kucing itu. Dengan pasti aku nyatakan: mereka bukanlah beban bagiku; bahkan bukan mereka yang berutang budi kepadaku, melainkan akulah yang berutang budi kepada mereka.

Wahai manusia! Karena seekor hewan yang berupa binatang buas saja, tatkala datang bertamu ke rumah manusia, menjadi sumber keberkahan; maka — apabila di sebuah rumah, dalam keadaan lanjut usia, berdiam: manusia yang merupakan makhluk termulia; lalu ahli iman yang merupakan manusia paling sempurna; lalu orang-orang tua yang lemah lagi renta, yang paling patut dihormati dan dikasihani di antara ahli iman; dan di antara para orang tua renta itu, kerabat yang paling layak dan berhak atas kasih sayang, pelayanan, serta kecintaan; dan di antara para kerabat pun, ayah dan ibu yang merupakan sahabat paling hakiki lagi pencinta paling setia — maka betapa besar mereka menjadi sarana keberkahan dan perantara rahmat, serta — dengan rahasia لَوْلاَ الشُّيُوخُ الرُّكَّعُ لَصُبَّ عَلَيْكُمُ الْبَلآَءُ صَبًّا, yakni: "Seandainya tiada orang-orang tua kalian yang telah bungkuk punggungnya, niscaya berbagai bala akan tercurah menimpa kalian bagaikan air bah" — betapa besar pula mereka menjadi sebab tertolaknya musibah; kiaskanlah sendiri olehmu!

Maka, wahai manusia! Pergunakanlah akalmu. Jika engkau tidak mati di usia muda, engkau pasti akan menjadi tua. Dengan rahasia اَلْجَزَٓاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ, jika engkau tidak menghormati kedua orang tuamu, maka anak-anakmu pun kelak tidak akan melayanimu. Jika engkau mencintai akhiratmu, inilah sebuah harta karun yang berharga bagimu: layanilah mereka, raihlah keridaan mereka. Jika engkau mencintai dunia, senangkanlah pula hati mereka, agar lantaran mereka hidupmu berlalu dengan nyaman dan rezekimu penuh keberkahan. Jika tidak, dengan menganggap berat keberadaan mereka, mengharapkan kematian mereka, dan melukai hati mereka yang halus lagi mudah tersentuh, engkau akan menjadi sasaran rahasia خَسِرَ الدُّنْيَا وَ اْلاٰخِرَةَ. Jika engkau menghendaki rahmat Sang Rahmân, kasihanilah titipan-titipan Sang Rahmân itu, serta amanat-amanat yang ada di rumahmu.

Di antara saudara-saudara akhiratku, dahulu ada seorang yang bernama Mustafa Çavuş. Aku memandangnya beruntung dalam agama dan dunianya. Aku tidak mengetahui rahasianya. Kemudian aku memahami bahwa sebab keberuntungan itu ialah: orang itu telah memahami hak-hak ayah dan ibunya yang lanjut usia, telah menunaikan hak-hak itu dengan sempurna, dan lantaran mereka ia memperoleh ketenteraman serta rahmat. Insya Allah, ia pun telah memperbaiki akhiratnya. Siapa yang ingin berbahagia, hendaklah ia meneladani dia.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مَنْ قَالَ اَلْجَنَّةُ تَحْتَ اَقْدَامِ اْلاُمَّهَاتِ وَ عَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَع۪ينَسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ