Risale-i NurAl-Maktubat

Surat Kesembilan

Al-Maktubat · hlm. 565

Ia menerangkan suatu kaidah penting tentang karamah, ikram (pemuliaan), inayah, dan istidraj. Bahwa memperlihatkan karamah adalah kerugian, sedangkan memperlihatkan ikram adalah syukur; dan karamah yang paling selamat adalah yang dicapai tanpa disadari; dan karamah hakiki adalah yang menambah kepercayaan bukan pada nafsunya, melainkan pada Rabbnya, jika tidak maka ia adalah istidraj; dan bahwa cara menjalani kehidupan dunia dengan bahagia adalah tak menyalurkan perasaan kuat yang diberikan untuk akhirat pada urusan dunia yang fana; dan sebagaimana cinta memiliki dua jenis — majazi dan hakiki — demikian pula perasaan kuat seperti ketamakan, kekeraskepalaan, dan kecemasan akan masa depan pun memiliki dua bagian, majazi dan hakiki; yang majazi amat merugikan dan menjadi sumber akhlak buruk, sedangkan yang hakiki amat bermanfaat dan menjadi sandaran akhlak baik.

Lagi pula ia menerangkan suatu perbedaan penting antara Islam dan iman. Yakni: Islam adalah keberpihakan dan komitmen pada kebenaran; adapun iman adalah keyakinan dan pembenaran akan kebenaran. Ia menunjukkan bahwa, sebagaimana dua puluh tahun lalu ada seorang Muslim yang tak beragama, kini pun tampaknya ada seorang mukmin yang bukan Muslim.

Lagi pula ia menerangkan sampai derajat mana bagian-bagian Risalah Nur memberi perasaan keberpihakan yang amat kuat pada Islam, dan sampai derajat mana ia membuktikan rukun iman secara kuat dan pasti.