Titik Pertama
Al-Maktubat · hlm. 410
Sebagaimana seorang pelayan biasa dan seorang prajurit tak berdaya milik seorang raja; atas nama raja ia memberikan hadiah kerajaan dan tanda jasa kepada para jenderal dan pasya, membuat mereka berterima kasih. Jika para jenderal dan panglima berkata, "Mengapa kami merendah kepada prajurit biasa ini dan mengambil pemberian serta tanda jasa dari tangannya?", itu suatu kegilaan yang sombong. Dan jika prajurit itu pun tak berdiri di hadapan panglima di luar tugasnya, dan memandang dirinya lebih tinggi darinya, itu suatu kegilaan yang bodoh. Lagi pula jika salah seorang jenderal yang senang itu, dengan penuh syukur, merendah menjadi tamu ke gubuk kecil prajurit itu; agar prajurit yang tak menemukan apa-apa selain roti kering itu tak merasa malu, raja yang melihat dan mengetahui keadaan itu — tentu agar tak mempermalukan prajuritnya — mengirim hidangan dari dapur kerajaan bagi tamu terhormat pelayan setianya. Demikian pula: seorang pelayan setia Al-Qur'an al-Hakîm, betapa pun ia biasa, atas nama Al-Qur'an menyampaikan perintah kepada manusia terbesar tanpa segan, dan menjual intan luhur Al-Qur'an kepada mereka yang paling kaya ruhnya — bukan dengan memohon secara merendah, melainkan dengan bangga dan mahakaya. Betapa pun besarnya mereka, mereka tak dapat menyombongkan diri kepada pelayan biasa itu tatkala ia di atas tugasnya. Dan pelayan itu pun tak dapat menemukan sumber kesombongan dalam kedatangan mereka kepadanya.. dan tak melampaui batasnya. Jika sebagian pembeli khazanah suci itu memandang pelayan tak berdaya itu dengan pandangan wilayah dan menganggapnya besar; tentu sudah menjadi tabiat kasih sayang suci hakikat Qur'ani bahwa — agar tak mempermalukan pelayannya — Ia memberi mereka pertolongan dari khazanah khusus Ilahi, tanpa pengetahuan dan campur tangan pelayan itu sama sekali, dan memberi mereka limpahan dengan himmah.