Yang Kedua
Al-Maktubat · hlm. 328
Kesabaran terhadap musibah, yaitu tawakal dan berserah diri. Ia menjadikan seseorang meraih kemuliaan اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّل۪ينَ ❊ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الصَّابِر۪ينَ. Sedangkan ketidaksabaran mengandung keluhan terhadap Allah. Darinya keluar sikap mengkritik perbuatan-perbuatan-Nya, menuduh rahmat-Nya, dan tak menyukai hikmah-Nya. Ya, terhadap pukulan musibah, tentulah manusia yang lemah dan tak berdaya menangis dengan cara mengeluh; namun keluhan itu hendaknya kepada-Nya, bukan tentang-Nya. Hendaknya seperti ucapan Nabi Ya'qûb Alaihissalâm اِنَّمَٓا اَشْكُوا بَثّىِ وَ حُزْن۪ٓى اِلَى اللّٰهِ. Yakni: musibah hendaknya diadukan kepada Allah; jangan sebaliknya seakan mengadukan Allah kepada manusia, berkata "Aduh! Ah!" dan "Apa yang telah kuperbuat sehingga ini menimpaku," lalu membangkitkan iba manusia yang lemah — itu merugikan dan tak bermakna.