Yang Kedua
Al-Maktubat · hlm. 402
Ahli hakikat tak mendukung penilikan nasib (tafaul) dengan Al-Qur'an dan bersandar pada mimpi. Karena Al-Qur'an al-Hakîm memukul ahli kekufuran dengan banyak dan dengan cara yang keras. Dalam tafaul, tatkala kekerasan yang ditujukan kepada orang kafir keluar kepada orang yang bertafaul, ia memberi keputusasaan; membuat kalbu kacau. Lagi pula mimpi, sekalipun ia kebaikan, karena kadang tampak dengan kebalikan hakikatnya, dianggap keburukan, menjatuhkan ke keputusasaan, mematahkan kekuatan maknawi, dan memberi prasangka buruk. Ada banyak mimpi yang rupanya mengerikan, merugikan, dan kotor, sedangkan tabir dan maknanya amat indah. Karena setiap orang tak dapat menemukan hubungan antara rupa mimpi dan hakikat maknanya; ia bergelisah tanpa perlu, berputus asa, dan bersedih. Maka semata demi segi inilah, seperti ahli hakikat dan semisal Imam Rabbani, di awal aku berkata نَه شَبَمْ نَه شَبْ پَرَسْتَمْ.