Yang Kesembilan
Al-Maktubat · hlm. 256
Mengingat ada Seseorang di balik tabir yang menghendaki: memamerkan keterampilan-keterampilan-Nya dan kesempurnaan seni-Nya melalui ciptaan-ciptaan-Nya yang penuh seni dan hikmah; memperkenalkan dan mencintakan Diri-Nya melalui makhluk-makhluk-Nya yang tak terhingga, yang indah dan berhias; membuat para hamba bersyukur dan memuji Diri-Nya melalui nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung, yang lezat dan berharga; membuat mereka beribadah kepada rubûbiyah-Nya dengan penuh rasa terima kasih, syukur, dan pemujaan — melalui pengasuhan dan pemberian rezeki yang menyeluruh, penuh kasih sayang dan perlindungan, bahkan melalui santapan dan perjamuan Rabbâniyah yang disiapkan sedemikian rupa sehingga memuaskan cita rasa mulut yang paling lembut serta segala jenis selera; menampakkan ulûhiyah-Nya — melalui pengelolaan dan pelaksanaan yang agung nan megah, serta aktivitas dan Hallâqiyah yang dahsyat nan penuh hikmah, seperti pergantian musim serta peralihan dan silih bergantinya malam dan siang — lalu membuat mereka beriman, berserah diri, tunduk, dan taat kepada ulûhiyah itu; serta menunjukkan kebenaran dan keadilan-Nya, dari segi bahwa Dia senantiasa melindungi kebaikan dan orang-orang baik, melenyapkan keburukan dan orang-orang jahat, serta membinasakan kaum zalim dan para pendusta dengan tamparan-tamparan langit — maka sudah pasti, dan dalam keadaan apa pun, makhluk yang paling dicintai dan hamba yang paling benar di sisi Zat yang gaib itu — yakni yang, dengan mengabdi sepenuhnya kepada maksud-maksud-Nya yang telah disebutkan, memecahkan dan menyingkap rahasia serta teka-teki penciptaan alam semesta, yang senantiasa bergerak atas nama Khâliq-nya itu, yang memohon pertolongan kepada-Nya dan mendambakan keberhasilan, serta yang menjadi mazhar (tempat tercurahnya) pertolongan dan taufik dari sisi-Nya — adalah Zat yang disebut Muhammad al-Quraisyî صلى الله عليه وسلم!..
Lagi pula, ia berkata kepada akalnya: Mengingat sembilan hakikat yang telah disebutkan ini bersaksi atas kebenaran (shidq) Zat ini, maka sudah pasti manusia ini adalah sumber kemuliaan bagi bani Adam dan sumber kebanggaan bagi alam ini. Sungguh pantas ia disebut Kebanggaan Semesta dan Kemuliaan Bani Adam صلى الله عليه وسلم. Dan keagungan kesultanan maknawi dari al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat (al-Mu'jiz al-Bayân) — titah Rahmânî yang berada di tangannya — yang telah menguasai separuh bumi, beserta kesempurnaan-kesempurnaan pribadinya dan tabiat-tabiatnya yang luhur, menunjukkan bahwa Zat yang paling penting di alam ini adalah dia, dan bahwa ucapan yang paling penting tentang Khâliq kita adalah ucapannya.
Maka, marilah kita lihat: Berdasarkan kekuatan ratusan mukjizatnya yang pasti, nyata, lagi terang, dan berdasarkan ribuan hakikat yang tinggi lagi mendasar dalam agamanya, dasar dari seluruh dakwahnya dan tujuan dari seluruh hidupnya adalah menunjukkan dan bersaksi atas wujud Wâjib al-Wujûd, atas keesaan, sifat, dan asma-Nya, serta membuktikan, mengumumkan, dan memaklumkan Wâjib al-Wujûd itu. Maka, matahari maknawi alam semesta ini dan burhan yang paling cemerlang bagi Khâliq kita adalah Zat yang disebut Habîbullâh صلى الله عليه وسلم ini; dan yang meneguhkan, membenarkan, serta mengesahkan kesaksiannya, terdapat tiga ijmak besar yang tidak tertipu dan tidak menipu: