Pendahuluan
Hanya ibadah yang membuat ketetapan-ketetapan akidah dan iman kuat serta teguh, lalu menjadi kecakapan yang menetap. Ya, jika ketetapan iman dalam nurani dan akal tidak dididik serta dikuatkan melalui ibadah, yang berupa menjalankan Perintah-Perintah Allah سُبْحَانَهُ dan menjauhi Larangan-Larangan-Nya, jejak serta pengaruhnya tetap lemah. Keadaan dunia Islam pada masa kini menjadi saksi keadaan ini.
Demikian pula, sebagaimana ibadah menjadi sarana kebahagiaan dunia dan akhirat, ia menjadi sebab pengaturan urusan dunia serta akhirat, sarana kesempurnaan pribadi dan umat manusia, serta ikatan sangat tinggi dan hubungan mulia antara Sang Khâliq dan hamba.
Sisi-sisi yang menjelaskan bahwa ibadah menjadi sarana kebahagiaan dunia:
Yang satu: Berbeda dan istimewa dari seluruh hewan, manusia diciptakan dengan watak yang menakjubkan dan halus. Melalui watak itu, dalam manusia muncul berbagai kecenderungan dan keinginan. Misalnya, manusia menghendaki hal-hal paling terpilih, cenderung kepada yang paling indah, menginginkan yang berhias, serta ingin hidup dengan penghidupan dan kehormatan yang layak bagi manusia.
Menurut tuntutan kecenderungan-kecenderungan ini, untuk memperoleh makanan, pakaian, dan kebutuhan lain dalam bentuk indah yang diinginkannya, ia memerlukan banyak keterampilan. Karena tidak menguasai keterampilan-keterampilan tersebut, ia terpaksa bekerja sama dengan sesama jenisnya, agar masing-masing membantu sahabatnya melalui pertukaran hasil usaha dan dengan demikian mereka dapat memenuhi kebutuhan.
Namun, karena daya syahwat, daya amarah, dan daya akal dalam manusia tidak dibatasi oleh Sang Pembuat, serta daya-daya itu dibiarkan tanpa batas untuk menjamin kemajuan manusia melalui kehendak bebasnya sebagai manusia, dalam hubungan-hubungan terjadi kezaliman dan pelampauan batas. Untuk mencegah pelampauan batas ini, masyarakat manusia memerlukan keadilan dalam mempertukarkan hasil pekerjaan mereka. Namun, karena akal setiap individu tidak mampu memahami keadilan, diperlukan akal menyeluruh agar individu-individu memanfaatkannya. Akal menyeluruh semacam itu hanya dapat berbentuk hukum. Hukum semacam itu hanyalah syariat.
Kemudian, diperlukan suatu tempat rujukan dan pemegang yang akan menjamin pengaruh, pelaksanaan, serta penerapan syariat itu. Tempat rujukan dan pemegang tersebut hanyalah nabi. Sebagaimana seorang nabi memerlukan derajat tinggi secara jasmani dan maknawi serta suatu keistimewaan untuk melanggengkan kepemimpinannya atas masyarakat secara lahir dan batin, ia juga memerlukan dalil untuk memperlihatkan tingkat hubungan serta ikatannya dengan Sang Khâliq. Dalil semacam itu hanyalah mukjizat-mukjizat.
Kemudian, untuk membangun dan menjamin ketaatan serta kepatuhan kepada Perintah dan Larangan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, diperlukan peneguhan Keagungan Sang Pembuat dalam pikiran. Peneguhan ini hanya terwujud melalui akidah, yakni tampaknya ketetapan-ketetapan iman. Penguatan dan pengembangan ketetapan iman hanya terwujud melalui ibadah yang diperbarui dengan pengulangan.
Kedua: Ibadah dimaksudkan untuk mengalihkan pikiran kepada Sang Pembuat Yang Hakîm. Perhatian hamba kepada Sang Pembuat Yang Hakîm menghasilkan ketaatan dan kepatuhan. Ketaatan serta kepatuhan memasukkan hamba ke bawah keteraturan paling sempurna. Dengan masuknya hamba ke dalam keteraturan dan mengikuti tatanan, rahasia Hikmah terwujud. Adapun Hikmah tampak melalui corak-corak seni yang bersinar pada halaman-halaman kainat.
Ketiga: Seperti pusat pembangkit, manusia merupakan pusat bagi seluruh tatanan penciptaan, hukum-hukum fitrah, dan sinar-sinar hukum Ilahi dalam kainat. Karena itu, manusia harus berhubungan dan terikat dengan hukum-hukum tersebut, berpegang erat serta memegang ujungnya, agar menjamin arus umum dan tidak remuk di bawah roda-roda yang berputar pada lapisan-lapisan alam karena menentang gerak roda-roda tersebut. Ini hanya terwujud melalui ibadah yang berupa perintah dan larangan.
Keempat: Dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan, satu individu memperoleh hubungan serta kaitan dengan banyak tingkat dalam kehidupan sosial. Terutama dalam ketentuan agama dan kepentingan umum, satu individu menjadi berkedudukan sebagai suatu golongan. Artinya, banyak tugas seperti hak, martabat, bimbingan, pengajaran, dan perbaikan dibebankan kepada satu orang. Jika tidak ada orang yang mematuhi perintah dan menjauhi larangan tersebut, seluruh tugas itu terinjak-injak.
Kelima: Melalui Islam, dengan dorongan ibadah, manusia memperoleh hubungan tetap dengan seluruh Muslim serta meraih ikatan dan keterkaitan yang kuat. Semua ini menjadi sebab persaudaraan yang tidak terguncang dan cinta sejati. Memang, anak-anak tangga pertama dan paling awal bagi kesempurnaan serta kemajuan kehidupan sosial adalah persaudaraan dan cinta.
Penjelasan bahwa ibadah menjadi sebab kesempurnaan pribadi:
Meskipun tubuh manusia kecil, lemah, dan tidak mampu, serta ia dianggap termasuk hewan, ia membawa ruh yang sangat tinggi, memiliki potensi yang sangat besar, kecenderungan yang tidak dapat dibatasi, harapan yang tidak berujung, pikiran yang tidak terhitung, serta daya-daya tidak terbatas seperti syahwat dan amarah. Ia memiliki penciptaan yang begitu menakjubkan sehingga seakan-akan diciptakan sebagai daftar isi seluruh jenis dan alam.
Yang memperluas ruh luhur manusia seperti ini adalah ibadah.
Yang mengembangkan potensinya adalah ibadah.
Yang membedakan dan menyucikan kecenderungannya adalah ibadah.
Yang mewujudkan harapannya adalah ibadah.
Yang memperluas dan menempatkan pikirannya di bawah keteraturan adalah ibadah.
Yang membatasi daya syahwat dan amarahnya adalah ibadah.
Yang menghilangkan karat alam yang mengotori anggota serta indra lahir dan batinnya adalah ibadah.
Yang mengantarkan manusia kepada kesempurnaan yang ditentukan baginya adalah ibadah.
Ikatan paling tinggi dan paling halus antara hamba dan Yang Disembah hanyalah ibadah.
Ya, kesempurnaan manusia yang paling tinggi adalah ikatan dan hubungan ini.
Peringatan: Ruh ibadah adalah ikhlas. Adapun ikhlas ialah dilakukannya ibadah hanya karena diperintahkan. Jika hikmah atau manfaat lain dijadikan dasar ibadah, ibadah itu batil. Manfaat dan hikmah hanya dapat menjadi faktor yang menguatkan pilihan, tidak dapat menjadi dasar.
(Dari İşaratü'l-İ'caz [Isyarat-Isyarat Kemukjizatan])