Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Pokok Ketiga:

Kilau-Kilau · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Pokok Ketiga:

Suatu tipu daya setan yang merusak hidup bermasyarakat manusia ialah menutupi seluruh kebaikan seorang mukmin melalui satu keburukannya saja. Orang-orang tidak adil yang mendengarkan tipu daya setan ini memusuhi mukmin. Padahal, ketika pada kebangkitan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menimbang amal orang-orang yang dibebani kewajiban dalam Timbangan⁠-⁠Nya Yang Terbesar dengan Keadilan Mutlak, Dia menetapkan berdasarkan apakah kebaikan mengungguli keburukan atau kalah darinya. Selain itu, karena penyebab keburukan banyak dan terjadinya mudah, terkadang melalui satu kebaikan saja Dia menutupi banyak keburukannya. Jadi, di dunia ini perlu bertindak menurut Keadilan Allah سُبْحَانَهُ itu. Jika kebaikan seseorang melebihi keburukannya dari segi jumlah atau mutu, orang tersebut layak dicintai serta dihormati. Bahkan, melalui satu kebaikan berharga, banyak keburukannya perlu dipandang dengan maaf.

Padahal, melalui dorongan zalim dalam fitrahnya serta bisikan setan, karena satu keburukan saja manusia melupakan seratus kebaikan seseorang, memusuhi saudara mukminnya, serta jatuh dalam dosa. Sebagaimana jika satu sayap lalat diletakkan di atas mata, ia menutupi gunung dan membuatnya tidak terlihat, demikian pula melalui dorongan maksud buruk, manusia menutupi serta melupakan kebaikan sebesar gunung dengan suatu keburukan sebesar sayap lalat; ia memusuhi saudara mukminnya serta menjadi alat kerusakan dalam hidup bermasyarakat manusia.

Melalui tipu daya lain yang menyerupai tipu daya setan ini, ia merusak pikiran manusia yang sehat, menghancurkan penilaian akal yang sehat terhadap hakikat-hakikat iman, serta mengganggu lurusnya pikiran. Sebagai berikut:

Ia ingin mematahkan ketetapan ratusan dalil yang membuktikan suatu hakikat iman melalui satu tanda yang menunjukkan pengingkarannya. Padahal, terdapat kaidah yang telah ditetapkan, "Satu yang membuktikan lebih unggul daripada banyak yang meniadakan." Kesaksian seorang saksi yang membuktikan suatu pernyataan lebih kuat daripada seratus orang yang meniadakannya. Lihatlah hakikat ini melalui perumpamaan berikut:

Suatu istana mempunyai ratusan pintu tertutup. Dengan terbukanya satu pintu saja, orang dapat masuk ke istana itu dan pintu-pintu lain juga terbuka. Jika semua pintu terbuka dan satu-dua pintu tertutup, tidak dapat dikatakan bahwa orang tidak dapat masuk ke istana tersebut.

Hakikat-hakikat iman ialah istana itu. Setiap dalil ialah kunci; ia membuktikan serta membuka pintu. Karena satu pintu tetap tertutup, hakikat-hakikat iman tersebut tidak dapat ditinggalkan serta tidak dapat diingkari. Adapun setan memperlihatkan suatu pintu yang tetap tertutup karena beberapa sebab, melalui lalai atau tidak mengetahui, dan membuat semua dalil yang membuktikan tidak lagi diperhatikan. Ia berkata, "Istana ini tidak dapat dimasuki; bahkan ia bukan istana dan tidak ada sesuatu pun di dalamnya," lalu menipu.

Wahai manusia malang yang terperangkap tipu daya setan! Jika engkau menginginkan hidup beragama, hidup pribadi, serta hidup bermasyarakat yang selamat, dan menginginkan pikiran yang sehat, pandangan yang lurus, serta hati yang selamat, timbanglah perbuatan dan lintasan pikiranmu dengan timbangan ketetapan-ketetapan Al-Qur'an yang kukuh serta neraca sunah yang luhur. Selalu jadikan Al-Qur'an serta sunah yang luhur sebagai pembimbing; ucapkan

ﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟ۪ﻴﻢِ

serta berlindunglah kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.

Ketiga belas isyarat ini ialah tiga belas kunci. Dengan ketiga belas kunci itu, bukalah pintu pertahanan yang kuat serta benteng kukuh surah paling akhir dari Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, yang merupakan uraian serta sumber

ﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟ۪ﻴﻢِ,

yaitu surah

ﺍَﺳْﺘَﻌ۪ﻴﺬُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻗُﻞْ ﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﺮَﺏِّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ٭ ﻣَﻠِﻚِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ٭ ﺍِﻟٰﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ٭ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﺍﻟْﻮَﺳْﻮَﺍﺱِ ﺍﻟْﺨَﻨَّﺎﺱِ ٭ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳُﻮَﺳْﻮِﺱُ ﻓ۪ﻰ ﺻُﺪُﻭﺭِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ٭ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺠِﻨَّﺔِ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ.

Masuklah dan temukan keselamatan!

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺏِّ ﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻫَﻤَﺰَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ ٭ ﻭَﺍَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﺭَﺏِّ ﺍَﻥْ ﻳَﺤْﻀُﺮُﻭﻥِ

Lem'a Keempat Belas

Terdiri atas dua bagian.

BAGIAN PERTAMA

Jawaban bagi dua pertanyaan.

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪ۪ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ اَلسَّلَامُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ

Saudaraku yang mulia serta sungguh jujur, Re'fet Bey!

Jawaban pertanyaanmu mengenai Sevr serta Hut terdapat dalam beberapa risalah. Untuk menjawab pertanyaan jenis itu, dalam Cabang Ketiga dari Kalimat Kedua Puluh Empat telah dijelaskan dua belas kaidah penting dengan nama Dua Belas Dasar. Kaidah-kaidah itu ialah batu uji berbagai takwil mengenai hadis-hadis Nabi ﷺ, serta dasar-dasar penting yang menolak dugaan keliru terhadap hadis. Sayangnya, untuk sementara terdapat beberapa keadaan yang menghalangiku menyibukkan diri dengan persoalan ilmiah selain lintasan ilham. Karena itu, aku tidak dapat memberi jawaban sesuai pertanyaanmu. Jika terdapat lintasan ilham hati, aku terpaksa menyibukkan diri dengannya. Terkadang pertanyaan dijawab karena lintasan ilham bertawafuk dengannya; jangan tersinggung. Karena itu, aku tidak dapat menjawab setiap pertanyaanmu dengan semestinya. Baiklah, kali ini aku memberi jawaban singkat bagi pertanyaanmu.

DALAM PERTANYAANMU KALI INI:

Engkau berkata bahwa para guru berkata, "Bumi berdiri di atas sapi serta ikan." Padahal, geografi melihat bumi bergerak seperti bintang yang tergantung. Tidak ada sapi maupun ikan?

Jawaban:

Terdapat suatu riwayat sahih yang dinisbatkan kepada tokoh-tokoh seperti Ibnu Abbas (ra): Rasul Yang Paling Mulia ﷺ ditanya, "Di atas apa dunia berada?" Beliau bersabda:

ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِ ﻭَﺍﻟْﺤُﻮﺕِ.

Dalam suatu riwayat, pada satu kesempatan beliau berkata ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِ, pada kesempatan lain berkata ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤُﻮﺕِ. Sebagian ahli hadis menerapkan hadis ini pada kisah-kisah seperti takhayul yang diambil dari Israiliyat serta diceritakan sejak dahulu. Terutama sebagian ulama Bani Israil yang masuk Islam menerapkan kisah-kisah mengenai "Sevr ve Hut" yang mereka lihat dalam kitab-kitab terdahulu pada hadis, lalu mengubah makna hadis menjadi suatu cara yang aneh.

Untuk sementara, mengenai pertanyaanmu ini akan disampaikan tiga dasar serta tiga segi yang sangat ringkas.

Dasar Pertama:

Sesudah sebagian ulama Bani Israil masuk Islam, pengetahuan lama mereka juga masuk Islam bersama mereka serta menjadi milik Islam. Padahal, dalam pengetahuan lama itu terdapat kesalahan. Tentu kesalahan-kesalahan tersebut milik mereka, bukan milik Islam.

Dasar Kedua:

Ketika perbandingan serta perumpamaan berpindah dari orang-orang terpelajar kepada orang awam, yakni jatuh dari tangan orang yang berilmu ke tangan orang yang tidak tahu, seiring berlalunya waktu keduanya dianggap sebagai kenyataan.

Misalnya, pada masa kecilku terjadi gerhana bulan. Aku berkata kepada ibuku, "Mengapa bulan menjadi seperti ini?" Ia berkata, "Ular telah menelannya." Aku berkata, "Tetapi bulan masih terlihat?" Ia berkata, "Ular-ular di atas seperti kaca dan memperlihatkan sesuatu yang berada di dalamnya." Aku sering mengingat kenangan masa kecil ini dan berkata, "Bagaimana takhayul yang begitu tidak mengandung hakikat ini beredar di lidah orang-orang yang sungguh-sungguh seperti ibuku?" Aku memikirkannya.

Ketika mempelajari ilmu astronomi, aku melihat bahwa orang-orang yang berkata demikian seperti ibuku menganggap suatu perbandingan sebagai kenyataan. Sebab, lingkaran amat besar yang disebut "mıntıkatü'l-buruc", yang menjadi lintasan derajat-derajat matahari, serta lingkaran miring bulan yang menjadi lintasan tempat-tempat bulan, saling melintasi; masing-masing dari kedua lingkaran itu membentuk dua busur, dan melalui suatu perbandingan yang indah, para ahli astronomi memberi kedua busur itu nama "tinnineyn", yakni nama bagi dua ular besar.

Pada titik perpotongan kedua lingkaran itu mereka berkata "re's", yang berarti kepala; pada titik lainnya "zeneb", yang berarti ekor. Ketika bulan sampai ke kepala dan matahari ke ekor, menurut istilah para ahli astronomi terjadi "haylulet-i arz". Yakni, bola bumi tepat berada di antara keduanya; saat itu bulan mengalami gerhana. Melalui perbandingan terdahulu, dikatakan, "Bulan masuk ke dalam mulut tinnin."

Ketika perbandingan ilmiah serta luhur ini masuk ke dalam bahasa orang awam, seiring berlalunya waktu ia mengambil bentuk ular besar yang menelan bulan.

Demikianlah, melalui suatu perbandingan suci yang indah serta isyarat bermakna, dua malaikat besar diberi nama Sevr serta Hut. Ketika masuk dari bahasa kenabian yang suci serta luhur ke bahasa orang banyak, perbandingan itu pun dipahami sebagai kenyataan; seolah-olah keduanya mengambil bentuk sapi sangat besar serta ikan mengerikan.

Dasar Ketiga:

Sebagaimana Al-Qur'an memiliki mutasyabih (samar), yang mengajarkan persoalan-persoalan sangat mendalam kepada orang awam melalui perumpamaan serta perbandingan, hadis juga memiliki mutasyabih, yang mengungkapkan hakikat-hakikat sangat mendalam melalui perbandingan yang akrab.

Misalnya, sebagaimana telah kita jelaskan dalam satu-dua risalah, pada suatu waktu terdengar bunyi gemuruh sangat dalam di hadapan Nabi ﷺ. Beliau bersabda, "Itu bunyi batu yang telah menggelinding selama tujuh puluh tahun dan pada saat ini jatuh ke dasar neraka." Beberapa menit kemudian seseorang datang serta berkata, "Orang munafik terkenal yang berusia tujuh puluh tahun telah mati." Ia mengumumkan hakikat perumpamaan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang amat tinggi balagahnya.

Untuk sementara, jawaban pertanyaanmu akan disampaikan melalui tiga segi.

Pertama:

Sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menetapkan empat malaikat—di antara malaikat yang disebut pembawa Arasy serta langit, salah satunya bernama "Nesir" dan lainnya "Sevr"—untuk mengawasi Kekuasaan Rububiyah⁠-⁠Nya pada Arasy serta langit, Dia juga menetapkan dua malaikat sebagai pengawas serta pembawa bola bumi, yang merupakan saudara kecil langit dan kawan planet-planet. Salah satu malaikat itu bernama "Sevr" dan lainnya "Hut". Rahasia pemberian nama tersebut ialah:

Bumi terdiri atas dua bagian: air serta tanah. Yang meramaikan bagian air ialah ikan. Pertanian, yang menjadi dasar hidup manusia yang meramaikan bagian tanah, dilakukan melalui sapi serta berada di bahu sapi. Kedua malaikat yang diberi tugas atas bola bumi merupakan panglima serta pengawas; tentu mereka mesti mempunyai suatu segi hubungan dengan golongan ikan serta jenis sapi. Mungkin

ﻭَﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ,

kedua malaikat itu tampak dalam bentuk sapi serta ikan dalam alam malakut dan alam rupa. {(Catatan kaki): Ya, bola bumi ialah kapal Rabb dalam samudra udara serta, menurut bunyi hadis yang tegas, ladang akhirat, yakni ladang bibit. Karena itu, betapa tepatnya nama "Hut" bagi malaikat yang melalui Perintah Allah سُبْحَانَهُ membuat kapal besar yang mati serta tidak sadar itu berlayar dalam samudra tersebut dengan keteraturan dan Hikmah, serta menjadi kaptennya, dan nama "Sevr" bagi malaikat yang melalui Izin Allah سُبْحَانَهُ mengawasi ladang itu, tampak dengan jelas.}

Dengan mengisyaratkan hubungan serta pengawasan itu dan memberi petunjuk kepada kedua jenis makhluk penting bola bumi tersebut, bahasa Nabi ﷺ yang bermukjizat dalam penjelasannya berkata

اَلْاَرْضُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِ ﻭَﺍﻟْﺤُﻮﺕِ.

Ia mengungkapkan melalui satu kalimat yang amat indah serta singkat suatu hakikat yang memuat persoalan-persoalan sangat mendalam dan luas sepanjang suatu halaman.

Segi Kedua:

Misalnya, jika dikatakan, "Di atas apa negara serta kerajaan ini berdiri?", dalam jawabannya dikatakan

ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺴَّﻴْﻒِ ﻭَ ﺍﻟْﻘَﻠَﻢِ.

Yakni, "Ia bersandar pada keberanian serta kekuatan pedang tentara, dan kecakapan serta keadilan pena pegawai."

Demikian pula, karena bola bumi ialah tempat tinggal makhluk hidup, panglima makhluk hidup ialah manusia, dasar penghidupan sebagian sangat besar manusia penghuni pesisir ialah ikan, dasar penghidupan orang-orang yang tidak tinggal di pesisir berada di bahu sapi melalui pertanian, dan ikan juga merupakan dasar perdagangan yang penting, tentu dikatakan bahwa sebagaimana negara berdiri di atas pedang serta pena, bola bumi juga berdiri di atas sapi serta ikan. Sebab, ketika sapi tidak bekerja dan ikan tidak menghasilkan sejuta telur sekaligus, manusia tidak dapat hidup; kehidupan pun runtuh, dan Sang Khâliq Yang Hakîm pun menghancurkan bumi.

Melalui jawaban yang sangat bermukjizat, luhur, serta penuh hikmah, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ berkata

اَلْاَرْضُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِ ﻭَﺍﻟْﺤُﻮﺕِ.

Melalui dua kata, beliau mengajarkan suatu hakikat luas mengenai betapa hidup umat manusia berhubungan dengan hidup jenis hewan.

Segi Ketiga:

Menurut pandangan kosmografi lama, matahari bergerak. Setiap tiga puluh derajat matahari disebut suatu rasi. Jika garis-garis khayali penghubung ditarik di antara bintang-bintang dalam rasi tersebut hingga terbentuk suatu susunan, sebagiannya memperlihatkan bentuk esed, yakni singa; sebagian memperlihatkan bentuk mizan, yang berarti timbangan; sebagian memperlihatkan bentuk sevr, yang berarti sapi; serta sebagian memperlihatkan bentuk hut, yang berarti ikan. Berdasarkan hubungan itu, nama-nama tersebut diberikan kepada rasi-rasi itu.

Menurut pandangan kosmografi abad ini, matahari tidak bergerak. Rasi-rasi itu menjadi kosong, terbengkalai, serta tidak bekerja. Sebagai ganti matahari, bola bumi bergerak. Karena itu, sebagai ganti rasi-rasi kosong yang tidak bekerja serta lingkaran-lingkaran terbengkalai di atas tersebut, perlu dibentuk lingkaran-lingkaran itu dalam ukuran kecil pada lintasan tahunan bumi. Dalam keadaan ini, rasi-rasi langit akan tampil dalam lintasan tahunan bumi. Bola bumi setiap bulan berada dalam bayangan serta gambaran salah satu rasi langit. Lintasan tahunan bumi seolah-olah menjadi cermin dan rasi-rasi langit tampil di dalamnya.

Dari segi ini, sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, pada satu kesempatan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ berkata ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِ dan pada kesempatan lain ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤُﻮﺕِ. Ya, dengan cara yang layak bagi bahasa kenabian yang bermukjizat dalam penjelasannya, untuk mengisyaratkan suatu hakikat sangat mendalam yang akan dipahami berabad-abad kemudian, pada satu kesempatan beliau berkata ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِ. Sebab, pada waktu pertanyaan itu diajukan, bola bumi berada dalam gambaran Rasi Sevr. Sebulan kemudian ditanya lagi, beliau berkata ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤُﻮﺕِ. Sebab, saat itu bola bumi berada dalam bayangan Rasi Hut.

Dengan mengisyaratkan hakikat luhur yang akan dipahami pada masa depan ini; memberi petunjuk kepada gerak serta perjalanan bola bumi dalam tugasnya; memberi isyarat tersirat bahwa rasi-rasi langit dari segi matahari terbengkalai dan tidak mempunyai tamu, sedangkan rasi-rasi yang benar-benar bekerja terdapat pada lintasan tahunan bola bumi; serta bahwa yang menjalankan tugas dan melakukan perjalanan dalam rasi-rasi itu ialah bola bumi, beliau berkata

ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺜَّﻮْﺭِ ﻭَﺍﻟْﺤُﻮﺕِ.

ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺎﻟﺼَّﻮَﺍﺏِ

Kisah-kisah aneh serta di luar akal mengenai sevr dan hut dalam sebagian kitab Islam ialah Israiliyat, perumpamaan, atau takwil sebagian ahli hadis yang oleh sebagian orang tidak teliti dianggap sebagai hadis serta dinisbatkan kepada Rasul Yang Paling Mulia ﷺ.

ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ

PERTANYAAN KEDUA:

Mengenai Ahlul-Abâ.

Saudaraku, dari banyak hikmah jawaban pertanyaanmu mengenai Ahlul-Abâ yang belum dijawab, hanya satu hikmah akan disampaikan. Sebagai berikut: Terdapat rahasia serta hikmah Rasul Yang Paling Mulia ﷺ menyelimuti Ali (ra), Fatimah (r.anha), serta Hasan dan Husain (ra) dengan jubah beliau yang diberkahi dan mendoakan mereka dengan cara ini melalui ayat

ﻟِﻴُﺬْﻫِﺐَ ﻋَﻨْﻜُﻢُ ﺍﻟﺮِّﺟْﺲَ ﺍَﻫْﻞَ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖِ ﻭَﻳُﻄَﻬِّﺮَﻛُﻢْ ﺗَﻄْﻬ۪ﻴﺮًﺍ.

Kita tidak akan membahas rahasia-rahasianya. Hanya satu hikmah yang berkaitan dengan tugas kerasulan ialah:

Melalui pandangan kenabian yang mengenal gaib serta melihat masa depan, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ melihat bahwa tiga puluh-empat puluh tahun kemudian akan terjadi fitnah-fitnah penting di antara sahabat serta tabiin dan darah akan tertumpah. Beliau menyaksikan bahwa pribadi-pribadi paling istimewa di dalamnya ialah ketiga pribadi di bawah jubahnya. Untuk memperlihatkan Ali (ra) bersih serta bebas dari tuduhan dalam pandangan umat; menyatakan turut berduka serta menghibur Husain (ra); memberi selamat kepada Hasan (ra), mengumumkan kehormatannya serta manfaat besar bagi umat dengan menghapus suatu fitnah penting melalui perdamaian; dan mengumumkan bahwa keturunan Fatimah akan bersih, mulia, serta layak bagi gelar luhur Ahlulbait, beliau menyelimutkan jubah tersebut, yang memberi keempat pribadi itu bersama beliau gelar "Hamse-i Âl-i Abâ".

Ya, Ali (ra) memang khalifah yang benar. Namun, karena darah yang tertumpah sangat penting, memperlihatkan beliau bebas dari tuduhan serta tidak bersalah dalam pandangan umat penting dari segi tugas kerasulan. Karena itu, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ membebaskannya dari tuduhan dengan cara tersebut. Beliau mengajak Khawarij serta pendukung-pendukung Bani Umayyah yang menyerang, yang mengkritik dan menyalahkan Ali serta menganggapnya sesat, untuk diam. Ya, sikap meremehkan serta tuduhan sesat Khawarij dan pendukung-pendukung ekstrem Bani Umayyah mengenai Ali (ra), serta sikap melampaui batas, bidah, dan menyatakan diri terlepas dari Syaikhain oleh Syiah akibat peristiwa Husain (ra) yang amat tragis serta menyayat hati, sangat merugikan kaum Muslim.

Melalui jubah serta doa ini, sebagaimana Rasul Yang Paling Mulia ﷺ menyelamatkan Ali (ra) serta Husain (ra) dari tanggung jawab dan tuduhan, serta umatnya dari suuzan mengenai mereka, dari segi tugas kerasulan beliau juga memberi selamat kepada Hasan (ra) atas kebaikan yang diberikannya kepada umat melalui perdamaian. Beliau mengumumkan bahwa generasi yang diberkahi dari keturunan Fatimah (r.anha) akan memperoleh kehormatan luhur dengan gelar Ahlulbait dalam dunia Islam, dan bahwa dari segi keturunan Fatimah (r.anha) akan sangat dimuliakan seperti ibu Maryam yang berkata

ﺍِﻧّ۪ٓﻰ ﺍُﻋ۪ﻴﺬُﻫَﺎ ﺑِﻚَ ﻭَﺫُﺭِّﻳَّﺘَﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟ۪ﻴﻢِ.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪِ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺒ۪ﻴﻦَ ﺍﻟﻄَّﺎﻫِﺮ۪ﻳﻦَ الْاَبْرَارِ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﺍﻟْﻤُﺠَﺎﻫِﺪ۪ﻳﻦَ ﺍﻟْﻤُﻜْﺮَﻣ۪ﻴﻦَ الْاَخْيَارِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

BAGIAN KEDUA

Mengenai enam rahasia dari ribuan rahasia

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ.

Peringatan:

Dari segi Rahmat, suatu cahaya cemerlang basmalah tampak dari jauh kepada akalku yang redup. Aku ingin mencatatnya dalam bentuk catatan bagi nafsuku sendiri. Dengan membentuk lingkaran di sekeliling cahaya itu melalui sekitar dua puluh-tiga puluh rahasia, aku ingin menangkap serta menyimpannya. Namun, sayangnya, untuk sementara aku belum sepenuhnya berhasil mencapai keinginan tersebut. Dari dua puluh-tiga puluh ia turun menjadi lima-enam.

Ketika berkata, "Wahai manusia!", aku memaksudkan nafsuku sendiri. Meskipun pelajaran ini khusus bagi nafsuku, dengan niat mungkin menjadi dasar manfaat bagi orang-orang yang secara ruhani berhubungan denganku dan nafsunya lebih sadar daripada nafsuku, sebagai Bagian Kedua dari Lem'a Keempat Belas aku menyerahkannya pada persetujuan saudara-saudaraku yang teliti. Pelajaran ini lebih menghadap hati daripada akal, serta lebih menghadap pengalaman batin daripada dalil.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﻠَﺆُﺍ ﺍِﻧّ۪ٓﻰ ﺍُﻟْﻘِﻰَ ﺍِﻟَﻰَّ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﻛَﺮ۪ﻳﻢٌ ٭ ﺍِﻧَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺳُﻠَﻴْﻤٰﻦَ ﻭَ ﺍِﻧَّﻪُ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

Pada bagian ini akan disebutkan beberapa rahasia.

RAHASIA PERTAMA

Aku melihat suatu manifestasi Bismillahirrahmanirrahîm sebagai berikut: Pada wajah alam, wajah bumi, serta wajah manusia terdapat tiga Cap Rububiyah yang tersusun satu di dalam yang lain dan memperlihatkan contoh satu sama lain.

Pertama:

Cap Keilahian Yang Terbesar, yang tampak melalui saling membantu, saling mendukung, saling merangkul, serta saling menjawab dalam keseluruhan alam; "Bismillah" menghadap kepadanya.

Kedua:

Cap Rahmâniyah Yang Terbesar, yang tampak melalui kemiripan, kesesuaian, keteraturan, keadaan serasi, karunia, serta belas kasih dalam pengaturan, pemeliharaan, serta pengelolaan tumbuhan dan hewan pada wajah bola bumi; "Bismillahirrahman" menghadap kepadanya.

Kemudian, Cap Rahîmiyah Yang Luhur, yang tampak dari belas kasih yang halus, perincian kasih sayang, serta sinar-sinar Belas Kasih Allah سُبْحَانَهُ pada wajah hakikat manusia yang menyeluruh; "Er-Rahîm" dalam Bismillahirrahmanirrahîm menghadap kepadanya.

Jadi, Bismillahirrahmanirrahîm ialah nama suci ketiga Cap Ahadiyah yang membentuk satu baris bercahaya pada halaman alam, serta merupakan tali yang kuat dan garis yang cemerlang. Yakni, Bismillahirrahmanirrahîm turun dari atas dan ujungnya sampai kepada manusia, buah alam serta salinan kecil alam. Ia menghubungkan bumi dengan Arasy dan menjadi jalan bagi manusia untuk naik ke Arasy.

RAHASIA KEDUA

Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya selalu memperlihatkan manifestasi Ahadiyah di dalam Wâhidiyah yang tampak pada makhluk yang begitu banyak dan tidak berhingga, agar akal tidak tenggelam dalam Wâhidiyah itu. Yakni, misalnya, matahari meliputi hal-hal yang tidak berhingga melalui cahayanya. Untuk memikirkan diri matahari dalam seluruh cahayanya, diperlukan gambaran yang sangat luas serta pandangan yang meliputi; karena itu, agar diri matahari tidak terlupakan, ia memperlihatkan dirinya melalui pantulan pada setiap benda berkilau. Sesuai kemampuannya, setiap benda berkilau memperlihatkan manifestasi diri matahari beserta sifat-sifatnya seperti cahaya serta panas. Sebagaimana setiap benda berkilau memperlihatkan matahari dengan seluruh sifatnya sesuai kemampuannya, masing-masing sifat matahari seperti cahaya, panas, serta tujuh warna dalam cahaya juga meliputi seluruh benda yang berhadapan dengannya.

Demikian pula,

ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى

—agar tidak keliru dalam perumpamaan—sebagaimana Ahadiyah serta Shamadiyah Allah سُبْحَانَهُ mempunyai suatu manifestasi melalui seluruh Nama⁠-⁠Nya pada setiap ciptaan, terutama pada makhluk hidup dan khususnya pada cermin hakikat manusia,

dari segi Kesatuan serta Wâhidiyah, setiap Nama⁠-⁠Nya yang berhubungan dengan segala yang berwujud juga meliputi semua yang berwujud.

Agar akal tidak tenggelam dalam Wâhidiyah serta hati tidak melupakan Zat Yang Mahasuci, Dia selalu memperlihatkan Cap Ahadiyah dalam Wâhidiyah. Yang menunjukkan ketiga simpul penting Cap tersebut ialah Bismillahirrahmanirrahîm.

RAHASIA KETIGA

Dengan melihat langsung, yang meramaikan alam tidak berbatas ini ialah Rahmat. Dengan jelas, yang menerangi segala yang berwujud dan gelap ini juga Rahmat. Dengan jelas, yang memelihara makhluk-makhluk yang terombang-ambing di tengah kebutuhan tidak berhingga ini juga Rahmat. Sebagaimana seluruh pohon menghadap buahnya, yang membuat seluruh alam menghadap manusia, memandangnya dari setiap arah, serta berlari membantunya, dengan jelas ialah Rahmat. Dengan melihat langsung, yang memenuhi, menyinari, serta meramaikan ruang tidak berbatas dan alam yang kosong serta tidak berpenghuni ini ialah Rahmat. Dengan jelas, yang membuat manusia fana ini menjadi calon bagi hidup kekal serta orang yang diajak berbicara dan sahabat Zat Yang Azali dan Kekal ialah Rahmat.

Wahai manusia, karena Rahmat merupakan hakikat yang dicintai, begitu kuat, menarik, menyenangkan, serta menolong, ucapkan "Bismillahirrahmanirrahîm", berpeganglah pada hakikat itu, dan selamatlah dari kesunyian yang mencekam serta rasa sakit akibat kebutuhan tidak berbatas. Mendekatlah ke Takhta Sang Sultan Azali Yang Kekal Selamanya; melalui Kasih Sayang, Syafaat, serta Sinar Rahmat itu, jadilah orang yang Dia ajak berbicara, kawan akrab, serta sahabat Sultan tersebut!

Ya, menghimpun jenis-jenis alam di sekitar manusia dalam lingkup Hikmah dan membuatnya berlari memenuhi seluruh kebutuhan manusia dengan keteraturan sempurna serta Pertolongan jelas merupakan salah satu dari dua keadaan: Setiap jenis alam mengenal manusia dengan sendirinya, menaatinya, serta berlari membantu. Selain seratus derajat jauh dari akal, hal ini menghasilkan banyak hal mustahil. Pada manusia yang memiliki kelemahan mutlak mesti terdapat Kudrat Sultan Mutlak Yang Paling Kuat. Atau, bantuan tersebut terjadi melalui Ilmu Sang Qadîr Mutlak di balik tabir alam ini. Jadi, jenis-jenis alam bukan mengenal manusia, melainkan merupakan dalil bahwa Zat yang mengetahui, mengenal, serta mengasihani manusia itu mengenal dan mengetahuinya.

Wahai manusia! Sadarlah. Mungkinkah Zat Dzul-Jalâl, yang membuat semua jenis makhluk mengulurkan tangan bantuan kepadamu serta berkata "Lebbeyk!" kepada kebutuhanmu, tidak mengetahui, tidak mengenal, serta tidak melihatmu? Karena Dia mengetahuimu, melalui Rahmat⁠-⁠Nya Dia memberitahukan bahwa Dia mengetahuimu. Engkau pun kenalilah Dia dan beritahukan dengan hormat bahwa engkau mengenal⁠-⁠Nya. Pahamilah dengan pasti: Menundukkan alam yang besar serta mengirimnya untuk menolong makhluk kecil, fana, sepenuhnya lemah, memiliki kelemahan mutlak, serta fakir mutlak seperti dirimu tentu ialah hakikat Rahmat yang mengandung Hikmah, Pertolongan, Ilmu, serta Kudrat. Rahmat seperti ini tentu menghendaki syukur yang menyeluruh serta ikhlas, dan hormat yang sungguh-sungguh serta murni darimu. Ucapkan Bismillahirrahmanirrahîm, yang merupakan penerjemah serta nama bagi syukur ikhlas dan hormat murni itu. Jadikan ia perantara untuk mencapai Rahmat tersebut serta pemberi syafaat di Hadirat Ar-Rahmân itu.

Ya, adanya serta nyatanya Rahmat sama jelas dengan matahari. Sebagaimana suatu ukiran di tengah terbentuk melalui keteraturan serta posisi benang pakan dan benang-benang yang datang dari segala arah, demikian pula dalam lingkaran besar alam ini, benang-benang pakan bercahaya yang memanjang dari manifestasi seribu satu Nama Allah سُبْحَانَهُ menenun suatu Segel Rahîmiyah serta Ukiran Kasih Sayang dalam Cap Rahmat pada wajah alam, dan menenun suatu Segel Pertolongan yang memperlihatkan dirinya kepada akal lebih cemerlang daripada matahari.

Ya, Sang Rahmân Dzul-Jamâl mengatur matahari serta bulan, unsur-unsur serta mineral, tumbuhan serta hewan seperti benang pakan sebuah ukiran paling agung melalui sinar seribu satu Nama tersebut, serta membuatnya melayani hidup. Melalui kasih sayang semua induk tumbuhan serta hewan yang amat manis dan rela berkorban, Dia memperlihatkan Kasih Sayang⁠-⁠Nya; Dia menundukkan makhluk-makhluk hidup bagi hidup manusia, lalu memperlihatkan Ukiran Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ yang paling agung, sangat indah serta manis, dan pentingnya manusia; Dia juga menampakkan Rahmat⁠-⁠Nya yang paling cemerlang. Tentu, menghadapi Diri⁠-⁠Nya Yang Sama Sekali Tidak Membutuhkan Apa Pun, Dia menjadikan Rahmat⁠-⁠Nya pemberi syafaat yang diterima bagi makhluk hidup serta manusia yang berada dalam kebutuhan mutlak.

Wahai manusia, jika engkau manusia, ucapkan Bismillahirrahmanirrahîm dan temukan pemberi syafaat itu!

Ya, dengan jelas, bahkan dengan melihat langsung, yang memelihara serta mengelola empat ratus ribu golongan tumbuhan dan hewan yang berbeda-beda di bumi tanpa melupakan atau tertukar satu pun, tepat pada waktunya, dengan keteraturan sempurna, Hikmah, serta Pertolongan, dan meletakkan Segel Ahadiyah pada wajah bola bumi ialah Rahmat. Sebagaimana adanya Rahmat itu sama pasti dengan adanya segala yang berwujud pada wajah bola bumi ini, terdapat dalil nyatanya Rahmat sebanyak segala yang berwujud tersebut.

Ya, sebagaimana pada wajah bumi terdapat Segel Rahmat serta Cap Ahadiyah seperti itu, pada wajah hakikat maknawi manusia juga terdapat suatu Cap Rahmat yang tidak lebih rendah daripada Cap Belas Kasih pada wajah bola bumi serta Cap Rahmat Yang Terbesar pada wajah alam. Seolah-olah ia mempunyai sifat menyeluruh seperti titik fokus manifestasi seribu satu Nama.

Wahai manusia, mungkinkah Zat yang memberi wajah ini kepadamu serta meletakkan Cap Rahmat dan Segel Ahadiyah seperti itu padanya membiarkanmu tanpa pengawasan, tidak menganggapmu penting, tidak memperhatikan gerakmu, membuat seluruh alam yang menghadapmu sia-sia, serta membuat pohon penciptaan menjadi pohon yang buahnya busuk, rusak, dan tidak penting? Mungkinkah Dia juga membuat Rahmat⁠-⁠Nya yang jelas seperti matahari serta Hikmah⁠-⁠Nya yang tampak seperti cahaya diingkari, padahal keduanya sama sekali tidak menerima keraguan dan tidak mempunyai kekurangan dari segi apa pun? Hâşâ!

Wahai manusia! Ketahuilah bahwa ada suatu mikraj untuk mencapai Arasy Rahmat itu. Mikraj tersebut ialah Bismillahirrahmanirrahîm. Jika ingin memahami betapa pentingnya mikraj ini, lihatlah awal seratus empat belas surah Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, awal semua kitab yang diberkahi, serta permulaan semua pekerjaan yang diberkahi. Bukti yang paling pasti bagi agungnya nilai basmalah ialah bahwa para mujtahid yang sangat besar, seperti Imam Syafi'i (ra), berkata, "Meskipun basmalah merupakan satu ayat, ia diturunkan seratus empat belas kali dalam Al-Qur'an."