POIN PERTAMA:
Lem'alar · hlm. 536
Hazrat Imam Ali radhiyallâhu 'anh, dalam Kasidah Ercuze-nya mengucapkan اَحْرُفُ عُجْمٍ سُطِّرَتْ تَسْط۪يرًا, seraya menyoroti huruf-huruf asing yang disebarluaskan di zaman ini; sebagaimana angka-angka jafr dan Ebced dari huruf-huruf dalam kalimat itu mengisyaratkan arus kekufuran yang terjadi dengan menuding zaman ini; demikian pula — baik dalam Ercuze-nya maupun dalam Kasidah Celcelutiye-nya yang mengukuhkan dan menguatkan Ercuze — dengan butir تُقَادُ سِرَاجُ النُّورِ سِرًّا بَيَانَةً ❊ تُقَادُ سِرَاجُ السُّرْجِ سِرًّا تَنَوَّرَتْ yang hampir gamblang, ia menyampaikan perhatian khususnya kepada Risale-i Nur dan penulisnya — yang keberadaannya dikenali lewat cahayanya di hadapan arus itu, yang tidak padam menghadapi kedahsyatan gelap gulita yang amat keras, berkabut, lagi membakar, dan yang kian menembus gelap gulita seraya berupaya menyinari dunia — dengan mengucapkan اَقِدْ كَوْكَبِى بِاْلاِسْمِ نُورًا وَبَهْجَةً مَدَى الدَّهْرِ وَاْلاَيَّامِ يَا نُورُ جَلْجَلَتْ, seraya berdoa dan memohon agar Risale-i Nur memancarkan cahaya dan menyala dengan cara yang indah hingga akhir zaman. Hazrat Imam Ali radhiyallâhu 'anh, yang merupakan salah seorang murid terpenting Al-Quran Al-Mu'jizul-Bayân dan penyebar pertama ilmu-ilmunya: sebagaimana pada awal Islam ia menjadikan Ismul-A'zam yang mubarak sebagai pemberi syafaat lalu berjuang secara heroik dan gagah berani memelihara hakikat-hakikat syariat dan asas keislaman terhadap banyak pintu yang dibuka untuk menentang Al-Quran; demikian pula, terhadap arus zindik yang sama sekali menentang Al-Quran di akhir zaman, ia menjadikan Ismul-A'zam yang sama itu sebagai pemberi syafaat, tempat berlindung, dan benteng perlindungan, lalu menghadapi dan bertahan secara penuh keberanian dengan cahaya Risale-i Nur yang tak terpadamkan dan lidahnya yang tak terbungkam — yang bersumber dari kemukjizatan Al-Quran yang tak terbantahkan dan memperlihatkan stempel mukjizat; ia memadamkan api zindik yang membakar wajah bumi dan mengeringkan banyak bunga itu, dengan cahaya Ismul-A'zam yang penuh kebesaran lagi keagungan, serta dengan air kehidupan (âb-ı hayat) yang memancar dari tajalli Ismur-Rahmân dan Ar-Rahîm yang penuh kasih dan santun; dan sebagai ganti bunga-bunga sungai dan taman yang mengering di tempat-tempat yang terbakar, di gunung-gunung dan padang-padang ia menumbuhkan — dengan hujan langit dan rahmatnya — bunga-bunga yang tahan panas dan kuat terhadap dinginnya udara yang keras. Bahwa Hazrat Imam Ali radhiyallâhu 'anh melihat Risale-i Nur itu dan memandangnya dengan penuh kasih, hiburan, dan karamah — hal itu memperlihatkan secara haqqul-yaqîn apa yang dituntut oleh kedudukan kewalian (maqam wilayah) beliau.
Dan dari tiga-empat baris yang dimulai dengan فَيَا حَامِلَ اْلاِسْمِ الَّذ۪ى جَلَّ قَدْرُهُ — yang merupakan sebuah karamah Kasidah Celcelutiye — terdapat tanda dan dalil yang kuat: