Risalah Nur — Bahasa Indonesia

PERMOHONAN MAAF

Mesnevî Cahaya · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Dari Kumpulan Risale-i Nur

MESNEVÎ-İ NURİYE (MESNEVÎ CAHAYA)

Penulis

Bedîüzzaman Said Nursî

Penerjemah

Abdülmecid Nursî

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

PERMOHONAN MAAF

Aku menganggap diriku berbahagia karena, dengan pertolongan dan inayah Allah سُبْحَانَهُ, berhasil pula menerjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Turki karya Üstad yang agung ini, yang amat berharga dan senilai dunia, berjudul El-Mesneviyyü'l-Arabî (Mesnevî Berbahasa Arab), dari Kumpulan Risale-i Nur. Hanya saja, aku tidak dapat menjaga kemuliaan, kekuatan, dan kepadatan ungkapan aslinya dalam terjemahan. Ya, aku tidak menemukan satu huruf ataupun satu lafaz yang dapat menjadi wadah bagi hakikat-hakikat yang senilai permata itu. Karena bahasa terjemahanku pun, seperti pikiranku, tidak sempurna dan kurang mampu, aku hanya dapat menyediakan pakaian yang sempit dan pendek seperti ini bagi hakikat-hakikat iman yang agung dan hakikat-hakikat Al-Qur'an yang besar itu. Baik haq maupun hakikat tidak memperoleh penghargaan yang layak. Karena pabrik pikiranku rusak, sebanyak ini pun hanya dapat kutenun dengan bantuan maknawi penulis yang terhormat, Bedîüzzaman.

Ya, seekor ayam, dengan cara terbangnya sendiri, tidak dapat meniru dan menerjemahkan cara terbang seekor elang atau rajawali. Sesungguhnya, ini bukan terjemahan yang sesuai dan layak bagi aslinya. (Makna yang sangat singkat, terkadang juga dihilangkan, tidak dapat diterjemahkan.) Di banyak tempat, aku hanya mengambil maknanya. Di beberapa tempat, aku juga menghilangkannya. Ia hanyalah sebuah cermin kecil yang memperlihatkan hakikat-hakikat dalam aslinya kepada anak-anak negeri.

Adik kandung penulis Risale-i Nur

dan

yang belajar kepadanya selama lima belas tahun

Abdülmecid Nursî

PENDAHULUAN KUMPULAN INI YANG MERUPAKAN SEMACAM MESNEVÎ-İ ŞERİF BERBAHASA ARAB DARI RISALE-İ NUR

Terdiri atas Lima Pokok

Pokok Pertama:

Empat puluh atau lima puluh tahun lalu, karena Said Lama banyak bergerak dalam ilmu-ilmu akal dan filsafat, ia mencari suatu jalan menuju hakikat segala hakikat, seperti para ahli tarekat dan ahli hakikat. Ia tidak dapat merasa cukup dengan bergerak melalui hati saja, seperti kebanyakan ahli tarekat. Sebab, akal dan pikirannya telah terluka sampai tingkat tertentu oleh filsafat; keduanya perlu diobati.

Kemudian, ia ingin mengikuti beberapa ahli hakikat yang agung, yang menuju hakikat melalui hati sekaligus akal. Ia melihat bahwa masing-masing mempunyai sifat khusus yang menarik. Ia pun bingung hendak mengikuti siapa. Imam Rabbani juga telah berkata kepadanya dengan cara gaib, ‘Satukanlah kiblatmu!’ Yakni, ‘Ikutilah hanya satu guru!’ Terlintas dalam hati Said Lama yang banyak terluka itu:

‘Guru yang hakiki ialah Al-Qur'an. Menyatukan kiblat dapat terwujud melalui guru ini.’ Maka, hanya dengan bimbingan guru yang suci itu, hati dan ruhnya mulai menempuh perjalanan ruhani dengan cara yang amat luar biasa. Nafsu ammarahnya pun, dengan keraguan dan syubhatnya (keraguan yang mengaburkan kebenaran), memaksanya berjuang secara maknawi dan melalui ilmu. Ia berjalan dengan mata hati, ruh, dan akal terbuka, seperti Imam Ghazali (ra), Mevlana Jalaluddin (ra), dan Imam Rabbani (ra), bukan dengan mata tertutup; pada tempat-tempat dan kedudukan-kedudukan ketika orang yang tenggelam dalam penghayatan batin menutup mata akalnya, ia menjelajah dengan mata terbuka. Syukur tak terhingga kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, melalui pelajaran dan bimbingan Al-Qur'an, ia menemukan suatu jalan menuju hakikat dan memasukinya. Bahkan,

ﻭَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻟَﻪُ ﺍٰﻳَﺔٌ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ

ia telah memperlihatkan melalui Risale-i Nur karya Said Baru bahwa dirinya menjadi tempat tampaknya hakikat itu.

Pokok Kedua:

Karena ia berjalan dengan kesatuan akal dan hati, seperti Mevlana Jalaluddin (ra), Imam Rabbani (ra), dan Imam Ghazali (ra), ia berusaha, sebelum segala sesuatu, mengobati luka-luka hati serta ruh dan membebaskan nafsu dari sangkaan keliru; lillahi'l-hamd, Said Lama telah berubah menjadi Said Baru. Seperti Mesnevî-i Şerif, yang semula berbahasa Persia lalu berbahasa Turki, ia pun menulis dengan sangat singkat pelajaran-pelajaran Katre (Titik Air), Hubab (Gelembung), Habbe (Biji), Zühre (Bunga), Zerre (Zarah), Şemme (Sehirup Aroma), Şule (Nyala), Lem'alar (Kilau-Kilau), Reşhalar (Tetesan-Tetesan), Lâsiyyemalar (Terutama), dan lainnya, dalam bentuk semacam Mesnevî berbahasa Arab; juga Nokta (Titik) dan Lemaat (Kilau-Kilau) dalam bahasa Turki pada masa itu; setiap memperoleh kesempatan, ia mencetaknya. Selama hampir setengah abad, jalan itu menjelma dalam bentuk Risale-i Nur; namun, sebagai ganti perjuangan melawan nafsu dan setan di dalam diri, Risale-i Nur menjadi Mesnevî-Mesnevî yang luas dan menyeluruh, menghadapi orang-orang yang membutuhkan dan kebingungan di luar diri, serta para ahli filsafat yang menuju kesesatan.

Pokok Ketiga:

Sebagaimana melalui perdebatan Said Baru itu nafsu dan setan dikalahkan sepenuhnya serta dibungkam, Risale-i Nur pun, selain mengobati pencari hakikat yang terluka dalam waktu singkat, juga mengalahkan hujah dan membungkam para penganut ilhad serta kesesatan sepenuhnya.

Berarti, kumpulan Mesnevî berbahasa Arab ini merupakan semacam benih dan tempat pembibitan Risale-i Nur. Perjuangan kumpulan ini yang hanya melawan nafsu dan setan di dalam diri membebaskan sepenuhnya dari syubhat nafsu ammarah serta setan jin dan manusia. Pengetahuan di dalamnya menjadi seperti hal-hal yang disaksikan langsung; ilmulyaqin (yakin melalui ilmu) pun memberikan ketenteraman dan keyakinan pada tingkat ainulyaqin (yakin dengan melihat langsung).

Pokok Keempat:

Said Lama menyibukkan diri dengan persoalan-persoalan yang sangat dalam pada ilmu filsafat serta ilmu hakikat. Ia berdebat dengan ulama-ulama besar mengenai persoalan-persoalan yang dalam, serta menulis sesuai tingkat pemahaman murid-murid lamanya yang mempelajari pelajaran tinggi di madrasah. Dalam kemajuan pikiran serta hatinya, Said Lama menulis kumpulan itu dengan cara yang hanya dapat dipahami dirinya sendiri. Ia memakai kalimat-kalimat yang sangat pendek dan ungkapan yang sangat ringkas, berupa isyarat dengan kata-kata pendek kepada hakikat-hakikat yang panjang. Karena semua itulah, sebagian darinya sulit dipahami bahkan oleh ulama yang paling teliti. Seandainya dijelaskan sepenuhnya, ia akan menunaikan salah satu tugas penting Risale-i Nur.

Berarti, Mesnevî yang merupakan tempat pembibitan itu bekerja pada sisi dalam diri dan batin, seperti tarekat yang berzikir secara tersembunyi; ia berhasil membuka jalan dalam hati dan ruh. Risale-i Nur, yang merupakan kebunnya, pada sisi dalam diri sekaligus, pada kebanyakan sisinya, seperti tarekat yang berzikir secara terang-terangan, memandang alam di luar diri dan lingkup lahir, lalu membuka jalan yang luas menuju makrifatullah di setiap tempat. Seakan-akan, seperti tongkat Musa aleyhisselâm, di mana pun ia memukul, air memancar.

Selain itu, Risale-i Nur tidak mengikuti jalan para ahli filsafat dan ulama, melainkan, melalui suatu mukjizat maknawi Al-Qur'an, membuka jendela makrifat pada segala sesuatu; ia memahami suatu rahasia yang khusus bagi Al-Qur'an, seperti menyelesaikan pekerjaan setahun dalam satu jam, sehingga pada masa yang dahsyat ini ia tidak dikalahkan oleh serangan orang-orang keras kepala yang tak terhitung, tetapi menang.

Pokok Kelima:

Pada masa Said Lama berubah menjadi Said Baru, ribuan hakikat yang berkaitan dengan ratusan ilmu bernilai cukup tinggi untuk masing-masing menjadi pokok satu risalah; namun, ketika Said itu menyusun karya, dengan ‘İ'lem, İ'lem, İ'lem’ pada awal persoalan, beliau menyebut setiap hakikat—yang sedemikian penting hingga dapat menjadi sebuah risalah—dalam beberapa baris, terkadang satu halaman, terkadang satu atau dua baris. Seakan-akan, setiap ‘İ'lem’ merupakan sandi sebuah risalah.

Selain itu, karena ‘İ'lem’-‘İ'lem’ itu ditulis sebagai daftar berbagai ilmu dan hakikat tanpa saling merujuk, hendaklah para pembaca kumpulan itu mempertimbangkan pokok-pokok ini dan tidak mengajukan keberatan.

Said Nursî

Bagian Pertama Mesnevî-i Nuriye