Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Butir Hikmah Kedua:

Panduan Para Perempuan · Bahasa Indonesia

Butir Hikmah Kedua:

Tahun ini, ketika mengasingkan diri dan telah menarik diri dari kehidupan masyarakat, aku memandang dunia demi menghargai sebagian saudara dan saudariku yang menjadi murid Nur. Dari sebagian besar teman yang menemuiku, aku mendengar keluhan tentang kehidupan keluarga mereka. Aku berkata, “Aduh!” Kehidupan keluarga merupakan tempat berlindung, semacam surga, dan dunia kecil bagi manusia, terutama seorang Muslim. Aku berkata, apakah ini pun mulai rusak? Aku mencari penyebabnya. Aku mengetahui bahwa satu atau dua kelompok berusaha menyesatkan para pemuda dan mendorong mereka mengumbar hawa nafsu melalui keinginan masa muda, untuk merusak kehidupan masyarakat Islam dan dengan demikian agama Islam. Demikian pula, aku merasakan bahwa satu atau dua kelompok bekerja secara tersembunyi dengan pengaruh yang kuat untuk mengarahkan sebagian perempuan malang yang lalai kepada jalan-jalan yang salah. Aku mengetahui bahwa suatu pukulan yang mengerikan terhadap umat Islam ini datang dari arah tersebut.

Aku pun menjelaskan dengan tegas kepada kalian, saudari-saudariku, serta para pemuda kalian yang merupakan anak-anakku secara batin: Sebagaimana kebahagiaan akhirat perempuan,

kebahagiaan duniawi dan sifat-sifat luhur dalam fitrah mereka juga hanya dapat diselamatkan dari kerusakan melalui didikan agama dalam lingkup Islam! Kalian mendengar keadaan yang menimpa kaum malang itu di Rusia.

Dalam salah satu bagian Risale-i Nur dikatakan: Seorang laki-laki yang berakal sehat tidak mendasarkan cinta dan kasihnya kepada pendampingnya pada kecantikan luar yang fana selama lima atau sepuluh tahun. Sebaliknya, ia harus mendasarkan cintanya pada kasih sayang dan keindahan watak yang khas perempuan, yaitu kecantikan perempuan yang paling indah dan bertahan. Dengan demikian, ketika perempuan itu semakin tua, cinta suaminya kepadanya tetap berlangsung. Sebab, pendampingnya bukan hanya pembantu dan teman sementara dalam kehidupan dunia, melainkan pendamping hidup yang dicintai untuk selama-lamanya dalam kehidupan yang kekal. Karena itu, ketika semakin tua, mereka harus saling mencintai dengan rasa hormat dan belas kasih yang lebih besar. Kehidupan keluarga sekarang, yang di balik kedok didikan peradaban mengalami perpisahan untuk selama-lamanya setelah kebersamaan sementara seperti hewan, rusak dari dasarnya.

Dalam salah satu bagian Risale-i Nur juga dikatakan: Berbahagialah laki-laki yang meneladani istrinya yang salehah dan menjadi saleh agar tidak kehilangan pendampingnya untuk selama-lamanya. Berbahagialah pula perempuan yang melihat suaminya taat beragama, lalu menjadi sepenuhnya taat beragama agar tidak kehilangan teman dan sahabatnya untuk selama-lamanya; dalam kebahagiaan duniawinya, ia memperoleh kebahagiaan akhiratnya. Malanglah laki-laki yang mengikuti istrinya yang terjerumus dalam perilaku mengumbar hawa nafsu; ia tidak berusaha membuat istrinya berhenti, tetapi justru ikut serta. Malanglah perempuan yang melihat kefasikan suaminya, lalu menirunya dalam bentuk yang lain. Celakalah suami dan istri yang saling membantu melemparkan satu sama lain ke dalam api. Artinya, mereka saling mendorong untuk mengikuti khayalan peradaban.

Makna kalimat-kalimat Risale-i Nur seperti ini ialah: Pada zaman ini, kehidupan keluarga, kebahagiaan dunia dan akhirat, serta berkembangnya sifat-sifat luhur pada perempuan hanya dapat terwujud melalui adab Islam dalam lingkup syariat.

Pokok terpenting dalam kehidupan keluarga sekarang ialah: Jika seorang perempuan melihat keburukan dan ketidaksetiaan pada suaminya, lalu karena ingin melawannya ia juga merusak kesetiaan serta sikap dapat dipercaya yang merupakan tugasnya dalam keluarga, pabrik kehidupan keluarga itu akan hancur, seperti rusaknya ketaatan dalam militer. Sebaliknya, perempuan itu harus berusaha memperbaiki kesalahan suaminya semampunya agar menyelamatkan sahabatnya untuk selama-lamanya. Jika ia justru berusaha memperlihatkan dirinya dan membuat orang lain mencintainya dengan membuka aurat, ia merugi dari segala

segi. Sebab, orang yang meninggalkan kesetiaan yang sejati juga menerima hukumannya di dunia. Fitrahnya takut, tidak nyaman, dan segan terhadap pandangan laki-laki bukan mahram. Dari dua puluh laki-laki bukan mahram, ia merasa terganggu oleh tatapan delapan belas di antaranya. Sebaliknya, dari seratus perempuan bukan mahram, seorang laki-laki hanya merasa terganggu oleh satu orang dan merasa tidak nyaman karena tatapan perempuan itu. Selain perempuan itu menderita dari segi tersebut, ia juga dituduh tidak setia dan, bersamaan dengan kelemahannya, tidak dapat melindungi hak-haknya.