Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Isyarat Ketiga:

Panduan Para Perempuan · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Isyarat Ketiga:

Hasil akhirat dari cinta tulus kepada istri dalam lingkup yang halal, yakni berdasarkan kasih sayangnya yang lembut, sifat-sifat baiknya serta perangai indahnya, dan melalui cinta itu melindunginya dari nusyuz (sikap membangkang) serta dosa-dosa lain, ialah: Sang Rahîm Mutlak berjanji bahwa Dia akan memberi istri itu kepadanya di tempat kebahagiaan sebagai istri abadi, dalam rupa yang lebih indah daripada bidadari, dengan cara yang lebih berhias dan bentuk yang lebih memikat; sebagai teman abadi yang akrab serta lembut, yang mencintai dan dicintai, agar mereka saling menuturkan kisah-kisah lama dunia dengan nikmat serta saling mengingatkan kenangan lama. Tentu Dia akan memberi dengan pasti apa yang dijanjikan-Nya.

Isyarat Keempat:

Hasil cinta halal kepada orang tua serta anak, menurut nas Al-Qur'an, ialah: Allah سُبْحَانَهُ, Sang Arhamur-Râhimîn (Yang Paling Penyayang di antara para penyayang), meskipun kedudukan mereka berbeda-beda, mengaruniakan kepada keluarga bahagia itu nikmat percakapan yang murni, dalam pergaulan indah yang layak bagi surga, melalui pertemuan abadi di tempat kekal. Anak-anak yang meninggal sebelum memasuki usia lima belas tahun, yakni sebelum mencapai batas balig, Dia berikan di surga kepada pangkuan ayah serta ibu mereka sebagai anak-anak surga yang disebut

ﻭِﻟْﺪَﺍﻥٌ ﻣُﺨَﻠَّﺪُﻭﻥَ

, dalam rupa yang amat berhias dan dicintai, yang layak bagi surga. Dia memuaskan perasaan mencintai anak dan memberi mereka rasa nikmat serta kelezatan itu selama-lamanya. Sebab, karena anak-anak belum memasuki usia taklif (usia memikul kewajiban agama), mereka akan tetap menjadi anak-anak abadi yang dicintai dan manis. Yang paling tinggi dari setiap sesuatu yang nikmat di dunia terdapat di surga. Hanya rasa nikmat amat manis dalam mencintai anak, yakni menyayangi serta membelai anak-anak, yang disangka tidak ada di surga karena surga bukan tempat berketurunan. Melalui cara ini, hal itu juga ada; bahkan dengan cara paling nikmat dan manis. Inilah kabar gembira bagi yang anaknya meninggal sebelum balig…

Isyarat Kelima:

Menurut "El-hubbu fillah", hasil cinta kepada sahabat-sahabat saleh di dunia ialah: telah terbukti melalui nas Al-Qur'an bahwa Dia akan mempertemukan mereka dengan sahabat-sahabatnya di surga dalam cinta serta percakapan murni tanpa perpisahan; mereka duduk pada kursi-kursi surga yang dipasang saling berhadapan, yang disebut

ﻋَﻠٰﻰ ﺳُﺮُﺭٍ ﻣُﺘَﻘَﺎﺑِﻠ۪ﻴﻦَ

, lalu saling menuturkan kisah-kisah dunia serta kenangan lama dengan cara yang menyenangkan, manis dan indah, sehingga saling menghibur.

Isyarat Keenam:

Hasil cinta kepada para nabi serta wali dengan cara yang diterangkan Al-Qur'an ialah: selain memperoleh manfaat dari syafaat mereka di barzakh serta kebangkitan, melalui cinta itu memperoleh manfaat dari kedudukan serta limpahan yang amat luhur dan layak bagi mereka. Ya, menurut rahasia

ﺍَﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺍَﺣَﺐَّ

, seorang manusia biasa dapat memasuki kedudukan tertinggi dengan mengikuti sosok yang ia cintai, yang mempunyai kedudukan luhur.

Isyarat Ketujuh:

Hasil cinta halal kepada hal-hal indah serta musim semi, yakni mencintai dengan pandangan "Betapa indah ia dibuat" Keindahan serta tata Perbuatan di belakang hasil-hasil karya itu, manifestasi Asma yang indah di belakang tata Perbuatan, Tajalli Sifat di belakang Asma yang indah itu, dan seterusnya, ialah: di tempat kekal, di surga, melihat manifestasi Asma serta Keindahan dan Sifat dalam Asma itu dengan cara seribu kali lebih indah daripada karya-karya ciptaan yang ia pandang indah tersebut. Bahkan Imam Rabbani (Radıyallahu Anh) berkata, "Kelembutan-kelembutan surga ialah bentuk-bentuk manifestasi Asma." Renungkanlah!

Isyarat Kedelapan:

Hasil akhirat dari cinta penuh tafakur kepada dua wajah indah dunia, yang merupakan ladang akhirat serta cermin Asma Ilahi, ialah: ia akan diberi surga sebesar dunia, tetapi tidak fana seperti dunia fana, melainkan kekal. Asma yang hanya diperlihatkan dalam bayang-bayang lemah di dunia akan diperlihatkan dengan cara paling gemilang dalam cermin-cermin surga itu.

Hasil mencintai dunia pada wajahnya sebagai ladang akhirat ialah: ia akan diberi surga yang menjadikan dunia seperti tempat pembibitan, yakni ladang kecil yang hanya menumbuhkan bibit-bibit pada suatu tingkat; indra serta perasaan manusia yang seperti bibit kecil di dunia berkembang dengan cara paling sempurna di surga, dan bakat-bakat yang seperti benih kecil di dunia tumbuh menjadi bulir dengan berbagai nikmat serta kesempurnaan. Hal ini dituntut oleh Rahmat dan Hikmah, serta terbukti melalui nas-nas hadis dan isyarat-isyarat Al-Qur'an.

Karena ia tidak mencintai dunia dengan cinta tercela, sumber setiap kesalahan, melainkan mencintai kedua wajahnya yang memandang Asma serta akhirat demi Asma dan akhirat; dan melalui ibadah tafakur ia memakmurkan wajah-wajah itu, seolah beribadah dengan seluruh dunianya; tentu memperoleh pahala sebesar dunia dituntut oleh Rahmat dan Hikmah.

Karena pula ia mencintai ladang akhirat melalui cinta kepada akhirat, dan mencintai cermin Asma melalui cinta kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, tentu ia menginginkan kekasih seperti dunia. Itulah surga sebesar dunia.