Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kesimpulannya:

Panduan Para Perempuan · Bahasa Indonesia

Kesimpulannya:

Cintailah dunia serta makhluk-makhluk di dalamnya dengan makna yang menunjuk kepada yang lain. Jangan mencintai mereka dengan makna yang menunjuk pada diri mereka sendiri. Katakan, "Betapa indah ia dibuat." Jangan berkata, "Betapa indah ia." Jangan beri tempat bagi cinta-cinta lain untuk masuk ke bagian dalam kalbu. Sebab, bagian dalam kalbu ialah cermin Shamad dan khusus bagi-Nya. Ucapkan

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺣُﺒَّﻚَ ﻭَ ﺣُﺐَّ ﻣَﺎ ﻳُﻘَﺮِّﺑُﻨَﺎ ﺍِﻟَﻴْﻚَ

.

Jika seluruh cinta yang kami sebut berlangsung demikian, ia memberi nikmat tanpa sakit, dari satu sisi merupakan wishâl yang tak lenyap, menambah Cinta Ilahi, serta merupakan cinta yang halal. Kenikmatan itu sendiri merupakan syukur. Cinta itu sendiri merupakan renungan.

Misalnya, jika seorang raja luhur {(Catatan): Suatu ketika, dua pemimpin suku masuk ke hadapan seorang raja dan berada pada keadaan yang sama seperti yang ditulis.} memberimu sebuah apel, ada dua cinta kepada apel itu dan dua nikmat padanya.

Pertama: Apel dicintai karena ia apel, dengan nikmat khas apel yang hanya seukuran apel. Cinta ini bukan kepada raja. Orang yang memasukkan apel itu ke mulut dan memakannya di hadapan raja mencintai bukan raja, melainkan apel, serta mencintai nafsunya. Kadang raja tidak menyukai cinta yang memuja nafsu itu dan membencinya. Nikmat apel pun kecil dan lenyap; setelah apel dimakan, nikmat itu juga pergi, lalu tersisa sesal.

Cinta kedua ialah kepada perhatian kerajaan di dalam apel, yang diperlihatkan melaluinya. Orang yang meletakkan apel itu di atas kepalanya, seolah ia contoh dan wujud bertubuh perhatian kerajaan, menampakkan bahwa ia mencintai raja. Pada buah yang menjadi selubung perhatian itu terdapat nikmat yang mengungguli nikmat seribu apel. Nikmat ini ialah syukur itu sendiri. Cinta ini ialah cinta penuh hormat kepada raja.

Persis demikian, jika seluruh nikmat serta buah dicintai demi diri mereka sendiri dan dinikmati dengan lengah hanya melalui nikmat materinya, cinta itu bersifat nafsani. Nikmat-nikmat itu pun sementara dan menyakitkan. Jika dicintai sebagai Perhatian Rahmat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan buah-buah Anugerah-Nya, lalu dinikmati dengan selera penuh dengan menghargai besarnya kebaikan dalam Karunia serta Perhatian itu, hal tersebut ialah syukur rohani sekaligus nikmat tanpa sakit.

Butir Hikmah Ketiga:

Cinta kepada Asma Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mempunyai lapisan-lapisan. Sebagaimana telah kami jelaskan, kadang seseorang mencintai Asma melalui cinta kepada hasil-hasil karya. Kadang ia mencintai Asma karena mereka Gelar Kesempurnaan Ilahi. Kadang, karena hakikat dirinya menyeluruh, manusia membutuhkan serta merindukan Asma dari segi kebutuhan-kebutuhan tak terbatas, lalu mencintai mereka melalui kebutuhan itu.

Misalnya, ketika engkau merasa tak berdaya dan perlu meminta pertolongan bagi seluruh kerabat, orang miskin, yang lemah serta makhluk yang membutuhkan yang engkau sayangi, jika seseorang muncul dan berbuat baik kepada mereka sesuai keinginanmu, betapa engkau menyukai gelarnya sebagai pemberi nikmat serta namanya sebagai sosok pemurah; betapa engkau mencintainya dengan gelar itu. Demikian pula, pikirkan saja Nama-Nama Rahmân serta Rahîm milik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq: Dia membahagiakan seluruh ayah, leluhur, kerabat serta sahabat mukmin yang engkau cintai dan sayangi dengan berbagai nikmat di dunia serta berbagai kelezatan di surga, dan dalam kebahagiaan abadi dengan memperlihatkan mereka kepadamu serta dirimu kepada mereka. Dari segi ini, engkau dapat membandingkan betapa Nama Rahmân serta Gelar Rahîm layak dicintai dan betapa ruh manusia membutuhkan kedua Nama itu. Engkau memahami betapa tepat ucapan

ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻋَﻠٰﻰ ﺭَﺣْﻤَﺎﻧِﻴَّﺘِﻪ۪ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﺭَﺣ۪ﻴﻤِﻴَّﺘِﻪ۪

.

Jika memperhatikan, engkau memahami betapa ruhmu membutuhkan serta merindukan Nama Hakîm dan Gelar Murabbî (Yang Mendidik) dari Zat yang menata, mengatur dan mendidik dunia serta makhluk-makhluk di dalamnya dengan Hikmah sempurna: dunia yang terikat denganmu, yang kekacauannya membuatmu berduka, yang seperti rumahmu; dan yang ada di dalamnya seperti keperluan akrab serta hiasan yang dicintai di rumah itu.

Jika memperhatikan, engkau memahami betapa ruhmu membutuhkan Nama-Nama Wârits (Yang Mewarisi) serta Bâ'its (Yang Membangkitkan), dan Gelar-Gelar Bâqî (Yang Kekal), Karîm, Muhyî (Yang Memberi Hidup) serta Muhsin (Yang Berbuat Baik) dari Zat yang pada saat meninggal menyelamatkan seluruh manusia yang terikat denganmu dan yang lenyapnya membuatmu sakit dari gelapnya keadaan tidak ada, lalu menempatkan mereka di tempat yang lebih indah daripada dunia ini.

Karena hakikat manusia luhur dan fitrahnya menyeluruh, melalui ribuan jenis kebutuhan ia secara fitri membutuhkan seribu satu Asma Ilahi dan banyak tingkat setiap Nama. Kebutuhan yang berlipat menjadi rindu. Rindu yang berlipat menjadi cinta. Cinta yang berlipat pun menjadi cinta mendalam.

Sejalan dengan makin sempurnanya ruh, tingkat-tingkat cinta berkembang sesuai tingkat-tingkat Asma. Cinta kepada seluruh Asma pun, karena Asma itu Gelar serta manifestasi Zat Dzul-Jalâl, berubah menjadi Cinta kepada Zat-Nya.

Kini, hanya sebagai contoh, dari seribu satu Asma, kami akan menjelaskan satu tingkat dari seribu satu tingkat Nama-Nama Adl (Yang Mahaadil), Hakam (Yang Menetapkan Putusan), Al-Haqq dan Rahîm. Demikianlah:

Jika engkau hendak melihat Nama Ar-Rahmân Ar-Rahîm serta Al-Haqq dalam Hikmah dan Keadilan pada lingkup paling besar, pandanglah perumpamaan ini. Bayangkan dalam suatu pasukan terdapat empat ratus golongan berbeda. Setiap golongan menyukai pakaian berbeda, persediaan berbeda, senjata berbeda yang dapat mereka gunakan dengan nyaman, dan obat berbeda yang menyembuhkan keadaan tubuh mereka. Seluruh empat ratus golongan itu tidak dipisah ke dalam regu ataupun kompi tersendiri, melainkan bercampur satu sama lain. Jika seorang raja yang tiada banding, melalui kasih sayang serta belas kasihnya yang sempurna, dayanya yang luar biasa, ilmu serta jangkauannya yang penuh mukjizat, dan keadilan serta hikmahnya yang luar biasa, tanpa keliru ataupun melupakan seorang pun, memberikan sendiri kepada mereka semua pakaian, persediaan, obat dan senjata yang berbeda serta layak bagi masing-masing, tanpa pembantu; engkau memahami betapa raja itu berdaya, penyayang, adil dan pemurah. Sebab, jika dalam satu batalion ada orang-orang dari sepuluh bangsa, memberi mereka pakaian serta perlengkapan berbeda amat sulit; karena itu, mau tak mau, dari jenis apa pun mereka, semuanya diperlengkapi dengan satu cara.

Demikian pula, jika engkau hendak melihat manifestasi Nama Al-Haqq serta Ar-Rahmân Ar-Rahîm milik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dalam Keadilan serta Hikmah, pandanglah pasukan tumbuhan serta hewan yang agung, tersusun dari empat ratus ribu bangsa, yang kemah-kemahnya didirikan pada muka bumi saat musim semi. Meski seluruh bangsa serta golongan itu bercampur satu sama lain, pakaian, persediaan, senjata, cara hidup, latihan dan pelepasan dari tugas mereka masing-masing berbeda; dan meski tidak mempunyai daya untuk menyediakan kebutuhan ataupun bahasa untuk meminta keperluan itu, saksikan dan lihatlah Gelar-Gelar Al-Haqq dan Rahmân, Ar-Razzâq dan Rahîm, serta Karîm dalam lingkup Hikmah dan Keadilan, dengan Timbangan serta tata.

Betapa Dia mendidik, mengatur dan mengelola tanpa keliru, melupakan ataupun mencampuradukkan seorang pun.

Dapatkah jari-jari yang lain ikut campur dalam pekerjaan yang dilakukan dengan tata serta Timbangan yang menyeluruh dan begitu menakjubkan ini? Selain Zat Yang Wâhid dan Ahad, Sang Hakîm Mutlak dan Sang Qadîr atas segala sesuatu, siapa yang dapat menjulurkan tangan kepada Seni, Pengaturan, Rububiyah serta Pengelolaan ini? Sebab mana yang dapat ikut campur?