Risalah Nur — Bahasa Indonesia

RAHASIA KEENAM

Panduan Pemuda · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

RAHASIA KEENAM

Wahai manusia malang yang terombang-ambing dalam keadaan tak berdaya yang tidak berbatas serta keadaan serba membutuhkan yang tidak berhingga! Pahamilah betapa berharganya Rahmat sebagai perantara serta betapa diterimanya ia sebagai pemberi syafaat melalui hal ini: Rahmat menjadi perantara kepada Sang Sultan Dzul-Jalâl, yang bintang-bintang serta zarah bersama-sama berkhidmah dalam pasukan-Nya dengan keteraturan serta ketaatan sempurna—bersama-sama. Zat Dzul-Jalâl serta Sang Sultan Azali Yang Kekal Selamanya itu memiliki Sifat Tidak Membutuhkan Apa Pun yang melekat pada Zat-Nya dan berada dalam keadaan Sama Sekali Tidak Membutuhkan Apa Pun. Dia ialah Sang Ganî Mutlak, yang dari segi apa pun tidak membutuhkan kainat serta segala yang berwujud. Seluruh kainat berada di bawah Perintah, Pengelolaan, Kewibawaan, serta Keagungan-Nya dalam ketaatan tertinggi, merendah di hadapan Keagungan-Nya.

Rahmat itu, wahai manusia, membawamu ke Hadirat Sang Mustaghnî Mutlak serta Sang Sultan Yang Kekal Selamanya, menjadikanmu sahabat-Nya dan orang yang Dia ajak berbicara, serta memberimu keadaan sebagai hamba yang dicintai. Namun, engkau tidak dapat mencapai matahari, begitu jauh, serta sama sekali tidak dapat mendekat. Meskipun demikian, cahaya matahari melalui cerminmu memberi gambaran serta pancaran matahari ke tanganmu. Demikian pula, meskipun kita sangat jauh dan tidak dapat mendekat kepada Zat Yang Mahasuci serta Matahari Azali Yang Kekal Selamanya, Cahaya Rahmat-Nya membuat-Nya dekat kepada kita.

Wahai manusia! Orang yang menemukan Rahmat ini menemukan khazanah cahaya yang kekal serta tidak habis. Cara menemukan khazanah itu ialah sunah serta mengikuti Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, yang merupakan contoh dan wakil Rahmat yang paling cemerlang, bahasa serta penyeru Rahmat yang paling tinggi balagahnya, serta disebut dalam Al-Qur'an dengan gelar Rahmeten li'l-âlemîn. Perantara menuju Rahmat yang berwujud ini, yang bergelar Rahmeten li'l-âlemîn ﷺ,

ialah salawat. Ya, makna salawat ialah rahmat. Salawat, yang merupakan doa rahmat bagi Rahmat berwujud yang hidup itu, menjadi perantara untuk mencapai Rahmeten li'l-âlemîn ﷺ tersebut. Karena itu, jadikan salawat perantaramu kepada Rahmeten li'l-âlemîn ﷺ dan jadikan beliau perantara kepada Rahmat Ar-Rahmân. Seluruh umat mengucapkan salawat dengan makna rahmat dalam jumlah tidak berbatas untuk Nabi ﷺ, yang bergelar Rahmeten li'l-âlemîn; hal ini membuktikan dengan cemerlang betapa Rahmat merupakan hadiah Allah سُبْحَانَهُ yang berharga serta betapa luas lingkupnya.

Kesimpulannya:

Sebagaimana pribadi Ahmad ﷺ ialah berlian serta penjaga pintu paling berharga Khazanah Rahmat, kunci paling utamanya ialah Bismillahirrahmanirrahîm. Kunci yang paling mudah juga salawat.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺑِﺤَﻖِّ ﺍَﺳْﺮَﺍﺭِ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺍَﺭْﺳَﻠْﺘَﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻠ۪ﻴﻖُ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻭَ ﺑِﺤُﺮْﻣَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍﺭْﺣَﻤْﻨَﺎ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺗُﻐْﻨ۪ﻴﻨَﺎ ﺑِﻬَﺎ ﻋَﻦْ ﺭَﺣْﻤَﺔِ ﻣَﻦْ ﺳِﻮَﺍﻙَ ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻘِﻚَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ

--

Kalimat Kedua Puluh Tiga

[Kalimat ini memiliki dua pembahasan.]

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ الْاِنْسَانَ ﻓ۪ٓﻰ ﺍَﺣْﺴَﻦِ ﺗَﻘْﻮ۪ﻳﻢٍ ٭ ﺛُﻢَّ ﺭَﺩَﺩْﻧَﺎﻩُ ﺍَﺳْﻔَﻞَ ﺳَﺎﻓِﻠ۪ﻴﻦَ ٭ اِلَّا ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَ ﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ

Pembahasan Pertama

Dari ribuan keindahan iman, kami hanya menjelaskan lima di antaranya dalam lima pokok.

POKOK PERTAMA

Dengan cahaya iman, manusia naik ke a'lâ illiyyîn dan memperoleh nilai yang layak bagi surga. Dengan gelapnya kufur, ia jatuh ke asfal as-sâfilîn dan berada dalam keadaan yang layak menjadi penghuni neraka. Sebab, iman menghubungkan manusia dengan Sang Pembuat Dzul-Jalâl Yang menciptakannya; iman adalah suatu ikatan. Maka, dengan iman, manusia memperoleh nilai berdasarkan Seni Ilahi dan ukiran Asma Rabb yang tampak dalam dirinya. Kufur memutuskan hubungan itu. Karena hubungan terputus, Seni Rabb tersembunyi. Nilainya hanya berdasarkan materi. Karena materi itu sementara, akan sirna, dan berupa kehidupan hewani sementara, nilainya seolah-olah tidak ada.

Kami akan menjelaskan rahasia ini dengan sebuah perumpamaan. Misalnya, dalam seni manusia, nilai materi dan nilai seni berbeda-beda. Terkadang sama, terkadang materi lebih berharga, dan terkadang pada materi seperti besi seharga lima kuruş terdapat seni seharga lima lira. Bahkan, terkadang sebuah karya seni antik bernilai satu juta, padahal materinya tidak bernilai lima kuruş pun. Jika karya seni antik itu dibawa ke pasar barang antik dan dipamerkan sebagai karya seorang seniman terampil dari masa sangat lama yang terbiasa membuat hal-hal menakjubkan, sambil mengingat seniman itu, ia akan terjual dengan harga satu juta. Jika dibawa ke pasar pandai besi kasar, ia dapat dibeli dengan harga besi lima kuruş.

Manusia adalah karya seni antik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang demikian, dan mukjizat Kudrat-Nya yang paling halus dan lembut. Dia menciptakan manusia sebagai tempat tampaknya manifestasi seluruh Asma-Nya, tempat ukiran-ukiran-Nya, dan contoh kecil kainat.

Jika cahaya iman masuk ke dalamnya, seluruh ukiran bermakna pada dirinya terbaca dengan cahaya itu. Orang beriman tersebut membacanya dengan sadar, dan membuatnya terbaca melalui ikatan itu. Yakni, dengan makna-makna seperti, "Aku adalah karya seni dan makhluk Sang Pembuat Dzul-Jalâl; aku mendapat Rahmat dan Kemurahan-Nya," Seni Rabb pada manusia menjadi tampak. Jadi, iman yang berupa ikatan dengan Sang Pembuatnya menampakkan seluruh jejak seni pada manusia. Nilai manusia sesuai dengan Seni Rabb itu, dan berdasarkan dirinya sebagai cermin Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad. Maka, manusia yang tampak tidak penting ini, dari segi tersebut, menjadi pihak yang diajak berbicara oleh Allah سُبْحَانَهُ di atas seluruh makhluk, dan tamu Rabb yang layak bagi surga. Jika kufur yang berupa terputusnya ikatan masuk ke dalam manusia, seluruh ukiran Asma Ilahi yang bermakna itu menjadi gelap dan tidak terbaca. Sebab, jika Sang Pembuat dilupakan, segi-segi maknawi yang mengarah kepada Sang Pembuat pun tidak dipahami. Seolah-olah semuanya terbalik. Kebanyakan karya seni yang luhur dan ukiran maknawi yang luhur serta bermakna itu tersembunyi. Sebagian yang tersisa dan terlihat oleh mata dinisbatkan kepada sebab-sebab yang rendah, tabiat, dan kebetulan, sehingga jatuh serendah-rendahnya. Masing-masing yang tadinya berlian berkilau menjadi kaca redup. Nilainya hanya dilihat dari materi hewani.

Tujuan dan hasil materi itu, seperti telah kami katakan, hanyalah menjalani hidup yang terbatas dalam usia sangat singkat, sebagai yang paling tak berdaya, paling membutuhkan, dan paling sedih di antara hewan-hewan. Kemudian ia membusuk dan pergi. Begitulah kufur meruntuhkan hakikat manusia, mengubahnya dari berlian menjadi batu bara.